Kisah Nabi Hud Lengkap

0
38
baca lengkap kisah nabi Hud dan kaum Aad dalam seri cerita nabi dan cerita islami untuk menambah keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah

Kisah Nabi Hud – Pasca bencana besar berupa banjir bandang yang terjadi kala Nabi Nuh hidup. Semua manusia musnah mengalami pemutihan total. Hanya segelintir orang yang selamat, yakni orang orang yang turut serta dalam Bahtera yang dibuat oleh Nabi Nuh. Nabi Nuh dan keturunannya kemudian Thrive dan melanjutkan kehidupan di dunia. Namun memang seperti sudah menjadi tabiat manusia: Mereka kembali pada jalan yang salah

Tanah Subur dan Kaya para Pewaris dunia: Al Ahqaf

Seolah Allah tengah memberikan hadiah kepada mereka orang orang yang telah selamat dari banjir dahsyat Nabi Nuh. Sebuah tanah yang subur bernama Al Ahqaf menjadi sebuah pusat kehidupan satu kaum yang disebut dalam Al Quran dan kitab – kitab terdahulu sebagai Kaum ‘Aad. 

Daerah ini memiliki tanah yang teramat sangat subur. Daerah yang terbentang di sebelah utara Hadramaut ini berlimpah dengan kekayaan alam dan pertanian yang sangat baik. Bulan demi bulan berganti tahun berganti dekade dan seterusnya Allah seolah memberikan segala kebaikan untuk kaum ini. Hal ini dijelaskan runtut dalam Al Quran surat Al Fajr ayat 6 s/d 8:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ – إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ – الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ

Dalam ayat tersebut digambarkan betapa megah bangunan – bangunan yang diciptakan orang orang kaum Aad. Mereka dianugerahi segala jenis dan bentuk kesenangan yang melimpah ruah. Makanya tidak heran bangunan bangunan menjulang tinggi dan megah muncul. Semuanya tampak indah karena belum pernah ada sebelumnya.

Kebaikan genetis yang menakjubkan pula Allah berikan

Tak hanya berhenti pada kekayaan dan sumber daya yang melimpah. Konon ceritanya kaum ‘Aad adalah manusia dengan anugerah genetis terbaik diantara yang terbaik. Mereka memiliki perawakan yang kekar dan gagah. postur dan fisik yang kuat dan sehat merupakan nikmat Allah lainnya yang diberikan kepada mereka. Hal ini juga dijelaskan dalam Al Quran Surat Al A’raf ayat 69:

أَوَعَجِبْتُمْ أَنْ جَاءَكُمْ ذِكْرٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَلَىٰ رَجُلٍ مِنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْ ۚ وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً ۖ فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Dalam ayat tersebut diceritakan bahwa Allah telah memberikan kekuatan fisik yang lebih hebat pada kaum ‘Aad melebihi kaum kaum Nabi Nuh terdahulu. Namun sayang, semua nikmat dari Allah itu membuat hati mereka dipenuhi dengan sikap dan karakter yang buruk: Kesombongan

Dakwah Nabi Hud yang dianggap Omong Kosong dan Gila oleh Kaum ‘Aad

Penyimpangan – penyimpangan yang dilakukan oleh kaum ‘Aad semakin menjadi jadi kian hari. Hingga akhirnya Allah mengutus seorang utusan dari keturunan mereka (Nabi Hud) untuk mengingatkan dan mengembalikan mereka pada jalan Allah yang lurus. Betapa kuat dan keras usaha seorang Nabi Hud dalam berdakwah bisa sobat selami dalam Al Quran surat Hud ayat 50 s/d 53:

وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا مُفْتَرُونَ – يَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى الَّذِي فَطَرَنِي ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ – وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ

Dalam ayat tersebut tidak jemu jemu Nabi Hud mengajak kaum ‘Aad untuk meninggalkan penyembahan berhala. Mengajak untuk bertaubat dan meminta ampun kepada Allah atas segala dosa dan perbuatan yang menyimpang. Termasuk mohon ampun pada sikap sombong yang mereka miliki.

Cobaan kekeringan dan ajakan Taubat yang tidak diindahkan

Bahkan menurut para ahli sejarah sahih menyebutkan, bahwa ada suatu waktu dimana Allah menguji mereka dengan kekeringan. Hasil alam yang biasanya selalu baik, tiba tiba gagal panen dan buruk. Hal itu kemudian menjadi bahan dakwah dalam kisah Nabi Hud untuk mengajak kaumnya bertaubat. Namun meski begitu, jawaban mereka pun tetap sama, dan malah justru menantang Allah untuk mendatangkan adzabnya:

قَالُوا سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَوَعَظْتَ أَمْ لَمْ تَكُنْ مِنَ الْوَاعِظِينَ – إِنْ هَٰذَا إِلَّا خُلُقُ الْأَوَّلِينَ – وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ – فَكَذَّبُوهُ فَأَهْلَكْنَاهُمْ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً ۖ وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ

Mereka tetap berdalih bahwa tradisi menyembah berhala itu merupakan hal yang sudah dilakukan oleh orang orang terdahulu mereka. Jadi mau Nabi Hud mengajak bertaubat atau tidak, mau nabi Hud mengajak untuk mengenal Allah atau tidak hal itu tidak akan berguna untuk mereka.

Adzab Allah datang berupa Awan Hitam dan Angin yang Mematikan pada Kaum ‘Aad

Babak akhir kisah nabi Hud dan dakwah yang dilakukan olehnya pada kaum ‘Aad terjadi setelah doa Nabi Hud ditanggapi oleh Allah. Allah kemudian menjanjikan adzab yang memang diminta oleh kaum ‘Aad.

وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ – سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا فَتَرَى الْقَوْمَ فِيهَا صَرْعَىٰ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ – فَهَلْ تَرَىٰ لَهُمْ مِنْ بَاقِيَةٍ

Dalam kutipan surat Al Haqqah diatas dikisahkan dengan tragis oleh Allah sebagai firman kepada Nabi Muhammad bahwasanya Allah mendatangkan adzab berupa angin dingin nan kencang yang berlangsung selama 7 hari 7 malam. Angin itu membuat semua kaum kaum kufur mati satu persatu. Kematian mereka diibaratkan bagaikan batang batang kurma yang layu dan kosong.

Dalam surat lain yang ada pada Surat Al Mu’minun ayat 41. Adzab yang dikisahkan menimpa Kaum ‘Aad tidak hanya sebatas angin kencang, melainkan badai menggelegar yang menghancurkan mereka hingga binasa layaknya sampah sampah yang terhanyut karena banjir.

فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ بِالْحَقِّ فَجَعَلْنَاهُمْ غُثَاءً ۚ فَبُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Hikmah Kisah Nabi Hud tentang Menjauhi Tabiat Kesombongan 

Dari kronologi penjelasan kisah Nabi Hud dan kaum ‘Aad diatas, tentu saja kita bisa memetik banyak sekali kebaikan dan hikmah yang baik. Yang pasti adalah ajaran dakwah Nabi Hud untuk tidak mengikuti jejak kaum ‘Aad yang menyekutukan Allah dan tidak beriman kepada-Nya. Selain itu pula kita belajar paling tidak 3 hal berikut ini:

(1) Manusia tidak memiliki hak apapun untuk bersikap sombong, karena pada dasarnya kesombongan hanyalah milik Allah semata (2) Dengan banyaknya nikmat dari Allah kepada kita, jangan membuat kita terlena namun kita harus bisa menjadi hamba Allah yang senantiasa bersyukur, dan (3) Berhati – hati untuk tidak terlalu terpana dan mencintai hal hal duniawi, karena dari kisah kaum ‘Aad tersebut mereka telah dibutakan oleh kekayaan dan harta benda mereka hingga mereka berani lupa kepada Allah.

Nah, semoga kita semua ditakdirkan oleh Allah untuk menjadi pribadi yang jauh dari karakter sombong, dan didekatkan dengan sikap layaknya manusia yang selalu mencari jalan bersyukur kepada Allah atas segala nikmatnya. Tentu pula kita berharap agar menjadi manusia yang dikarunia sifat zuhud agar tidak terlalu terlenda dan mencintai dunia mengalahkan cinta kita kepada Allah. Semoga bermanfaat ya!

baca lengkap kisah nabi dan cerita rasulullah dan sahabatnya

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!