Semakin Banyak Semakin Berat Hisabnya

0
99
semakin banyak

Bersihkan Harta – Setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti pernah merasakan beratnya ujian yang diberikan kepadanya dari Allah SWT. Manusia yang mudah tergoda dengan bergelimang harta ini harus siap untuk mempertanggungjawabkan jumlah harta yang dimiliki kelak di kehidupan akhirat. Karena harta yang dimiliki berjumlah banyak maka semakin banyak semakin berat hisabnya.

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ، حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ سَوَّارٍ، حَدَّثَنَا لَيْثُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ، أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرِ، حَدَّثَهُ عَنْ أَبِيهِ، عَنْ كَعْبِ بْنِ عِيَاضٍ، قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ ‏ “‏ إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ ‏”‏ ‏.‏ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ إِنَّمَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ ‏.‏
Ka’b bin ‘Iyad meriwayatkan bahwa Nabi (saw) berkata: “Memang ada fitnah untuk setiap umat, dan Fitnah untuk umatku adalah kekayaan.” [1]

Semakin Banyak Semakin Berat Hisabnya

Sifat manusia yang ambisius untuk mencari harta kekayaan tidak henti-hentinya terkadang tidak sadar beratnya amalan hisabnya bergantung dengan jumlah harta yang dimiliki oleh Sobat Cahaya Islami.

حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ زَكَرِيَّا بْنِ أَبِي زَائِدَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَعْدِ بْنِ زُرَارَةَ، عَنِ ابْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ الأَنْصَارِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ ‏”‏ ‏.‏ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ ‏.‏ وَيُرْوَى فِي هَذَا الْبَابِ عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَلاَ يَصِحُّ إِسْنَادُهُ ‏.‏

“Kerusakan pada sekawanan kambing akibat sua serigala lapar yang dilepaskan padanya tidak lebih parah dibandingkan kerusakan pada agama seseorang akibat kerakusannya terhadap harta dan kemuliaan.” [2]

Dalam penjelasan perkataan Imam Ath Thibi dapat disimpulkan bahwa kerusakan pada agama seseorang yang diakibatkan olek ketamakan dan kerakusannya terhatap harta dan kemuliaan lebih parah dibandingkan kerusakan sekawanan kambing yang rusak akibat adanya serigala yang lapar.

Harta dapat menggerakan hawa nafsu dan menyeret untuk bersenang-senang menggunakan harta tersebut untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Apabila harta yang Sobat Cahaya Islami miliki dipergunakan untuk itu maka hal tersebut dapat menimbulkan kerusakan pada agama Sobat Cahaya Islami. Sikap berhati-hati perlu diterapkan untuk menggunakan harta yang dimiliki, karena semakin banyak jumlahnya semakin berat pula hisabnya kelak di kehidupan akhirat.

Sikap rendah hati dan tidak meremehkan orang lain sangat perlu ditanamkan pada diri masing-masing Sobat Cahaya Islami. Selain berucap syukur kepada Allah SWT, sebaiknya kita sesekali melihat ke bawah untuk mengintrospeksi diri agar tidak timbul sifat sombong dan dapat menghindarkan kita dari cara memandang manusia lain tidak berasal jumlah harta yang dimiliki.

Manusia yang melupakan bahwa hartanya akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat karena semakin banyak jumlahnya semakin berat pula hisabnya kemungkinan besar akan diperingatkan oleh Allah SWT.

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يُوسُفَ، أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ، عَنْ أَبِي حَصِينٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ “‏ تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ وَالْقَطِيفَةِ وَالْخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ ‏”‏‏.‏ لَمْ يَرْفَعْهُ إِسْرَائِيلُ عَنْ أَبِي حَصِينٍ‏.‏

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu’alaiihi wa sallam, beliau bersabda, “Celakalah hamba (orang yang diperbudak) dinar, dirham, beludru dan kain bergambar. Jika dia diberi dia ridha, jika tidak diberi dia tidak ridha.” [3]

Harta merupakan ujian yang diberikan kepada manusia dari Allah SWT yang tergolong kategori sulit. Tidak sedikit yang gagal karena lupa akan tanggung jawab bahwa semakin banyak jumlahnya semakin berat pula hisabnya di akhirat nanti. Tidak hanya segala perbuatan yang dipertanggungjawabkan ketika di akhirat, namun segalanya ketika di dunia akan dipertanggungjawabkan termasuk harta yang dimiliki.

Semakin banyak jumlah harta yang dimiliki semakin berat pula hisabnya dan beban untuk menahan hawa nafsu agar tidak terseret untuk menggunakan harta yang dimiliki untuk kegiatan yang tidak bermanfaat. Apabila sudah terhasut oleh hawa nafsu sendiri dan harta yang dimiliki semakin menipis, dan pada akhirnya orang-orang yang terlena memilih untuk mencari harta dengan menghalalkan segala cara untuk tetap dapat memenuhi hawa nafsu diri mereka masing-masing.

Sungguh ujian yang sangat sulit apabila sudah terlena oleh hawa nafsu akan sulit untuk mengendalikannya atau bahkan untuk berhenti melakukan hawa nafsu tersebut. Oleh karena itu, penting bagi Sobat Cahaya Islami untuk tetap mengingat bahwa semakin banyak harta yang dimiliki semakin berat pula beban hisabnya dan sebisa mungkin menahan hawa nafsu agar tidak terlena dan terseret melakukannya.


Catatan Kaki

[1] H.R. Tirmidzi No. 2336 (sahih) Bab: Apa Yang Telah Terkait Dengan ‘Fitnah umat ini adalah kekayaan’

[2] H.R. Tirmidzi No. 2376 (hasan) Bab: Hadis: “Dua Serigala Bebas Di Antara Domba”

[3] H.R. Shohih Bukhari No. 2886

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY