Literatur Sejarah islam: Terjemahan baru Kisah 1001 Malam

0
97
literatur Sejarah Islam

Cerita Islami – Sobat cahayaIslam pasti sudah tahu apa itu Kisah 1001 Malam. Kalaupun belum, minimal pasti sudah kenal karakter-karakternya. Beberapa karakter di dalamnya memang sangat populer sampai-sampai kemudian difilmkan oleh orang-orang Barat, Sindbad si Pelaut misalnya, ataupun Aladdin dan Jin Lampu. Filmnya terbarunya juga belum lama dirilis. Nah, tapi tahu gak nih sobat cahayaIslam bahwa beberapa tokoh di dalam Kisah 1001 Malam itu diambil dari literatur Sejarah Islam?

Literatur Sejarah islam

Khalifah Harun al-Rasyid

Sebagaimana biasa disinggung dalam buku-buku sejarah Islam, Khalifah Harun al-Rasyid hidup pada  766 M dan meninggal pada tahun 809 M. Beliau adalah khalifah kelima dalam kekhalifahan Abbasiyah. Masa pemerintahan beliau dalam sejarah biasa dikenal sebagai zaman keemasan Islam. Beliau banyak membangun sarana dan prasarana yang diperlukan oleh umat Islam.

Selain itu, beliau juga menaruh perhatian tinggi pada kebangkitan intelektualitas umat Islam, terbukti misalnya dengan dibangunnya baitul Hikmah. Baitul Hikmah berfungsi sebagai perpustakaan, sebagai perguruan tinggi, dan juga sebagai lembaga penelitian.

Dalam Kisah 1001 Malam, Khalifah Harun al-Rayid seringkali digambarkan sebagai sosok khalifah yang kejam. Yang paling sering misalnya adalah dia mengundang orang ke Istana untuk mendongengkan cerita yang bisa menghibur dia. Kalau si pendongeng gagal, maka dia diancam akan dibunuh.

Tentu saja sobat cahayaIslam harus tahu kisah semacam itu tidak ada di dalam sejarah Islam. Khalifah Harun al-Rasyid sendiri adalah seorang khalifah agung dan saleh yang membawa kejayaan Islam zaman Abbasiyah.

Penyimpangan dalam Kisah 1001 Malam

Nah, kini, penting diketahui juga oleh sobat cahayaIslam bahwa Kisah 1001 Malam yang sampai ke kita itu kebanyakan sudah tidak murni. Mengapa demikian? Karena kebanyakan Kisah 1001 Malam itu sampai ke kita melalui tangan orang-orang Barat. Dikisahkan bahwa penerjemahnya dari bahasa Arab dulu sama sekali tidak setia dengan naskah asli. Sehingga hasilnya adalah pencitraan Islam yang dihasilkan oleh Barat dan sama sekali tidak sesuai dengan Sejarah Islam.

Karena itulah kita harus hati-hati memilih bacaan. Apalagi kalau kita mempelajari Sejarah Islam Awal, kita akan menemukan peringatan tentang pihak-pihak tertentu yang memang ingin memelintir informasi tentang Islam. Di dalam Al-quran juga disebutkan seperti ini:

 أَفَتَطْمَعُونَ أَنْ يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِنْ بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? [1]

Dari ayat di atas kita bisa mengambil pelajaran untuk bersikap hati-hati, terutama menyangkut Sejarah Islam. Jangan sampai nanti terjadi umat Islam tidak mengetahui sejarahnya sendiri kemudian lebih mempercaya versi sejarah yang sudah dipelintir oleh orang-orang yang memiliki niat buruk tertentu.

Ayat di atas memberikan contoh umat-umat terdahulu yang bahkan kitab suci pun berani mereka ubah. Dalam terjemahan Kisah 1001 Malam ke dalam bahasa Inggris, dikatakan bahwa penerjemah awalnya, Richard Burton, sebenarnya tidak fasih menggunakan bahasa Arab. Dengan demikian, kredibilitas keilmuannya pun diragukan.

Nah, dalam hal Kisah 1001 Malam ini, sebagai contoh kehati-hatian, sobat cahayaIslam bisa mencoba terjemahan yang baru yang diterbitkan oleh Diva Press sebanyak 8 jilid. Terjemahan ini merupakan terjemahan dari versi bahasa Arab, jadi bisa dikatakan lebih kredibel dibandingkan terjemahan dari edisi Inggris.

Pengarangnya juga dicantumkan, yakni Abu Abdus Muhammad al-Jihsiyari, seorang sejarawan yang hidup pada zaman Abbasiyah dan menulis Sejarah Islam tentang kewaziran. Meskipun demikian, tentu saja sobat cahayaIslam harus tetap waspada juga, siapa tahu di dalamnya pun ada hal-hal yang tak sesuai dengan tuntunan Islam.


Catatan kaki

[1] Surat Al-Baqarah (2) ayat 75

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!