Puasa Syawal Namun Masih Punya Hutang Puasa, Bolehkah?

0
20
Puasa Syawal

cahayaislam.id – Seusai Ramadhan berakhir, ada puasa sunnah yang dianjurkan bagi seluruh umat Muslim, yakni puasa Syawal.

Puasa Syawal adalah puasa sunnah yang terdiri dari 6 hari pada bulan Syawal. Puasa ini pun dimulai dari tanggal 2 Syawal atau tepatnya sehari setelah hari raya Idul Fitri.

Puasa sunnah pada bulan Syawal dianjurkan dan dicantumkan keutamaannya sebagaimana dalam hadits di bawah ini:

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seolah-olah berpuasa selama setahun.” (HR. Muslim no. 1164)

Akan tetapi, selain memiliki kesunnahan dalam melakukan puasa sunnah Syawal. Umat Muslim juga ada kewajiban untuk mengqadha atau mengganti utang puasa yang ditinggalkannya saat Ramadhan. Baik karena adanya beberapa sebab.

Ada kendala syar’i tertentu yang memang memperbolehkan seseorang untuk meninggalkan puasa Ramadhan dengan syarat harus menggantinya di bulan lain.

Seperti wanita haid, nifas, wanita yang kondisinya sedang hamil atau menyusui, orang sakit, bahkan orang yang melakukan perjalanan.

Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”

اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan orang miskin. Tetapi barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:183-184)

Ada banyak sekali manfaat dari melakukan puasa sunnah ini, salah satunya adalah sebagai upaya untuk memelihara konsistensi ibadah.

Di mana ibadah yang sudah dengan giat dikerjakan saat Ramadhan tidak boleh terputus begitu saja, namun harus dilanjutkan dengan semangat dan giat yang sama.

Puasa Syawal Namun Masih Punya Hutang Puasa, Bolehkah?

Kendati demikian, banyak sekali muncul pertanyaan mengenai boleh atau tidaknya melakukan puasa sunnah di bulan Syawal apabila orang tersebut masih mempunyai utang puasa Ramadhan.

Nah, Sobat Cahaya Islam, ada ketentuan berbeda bagi mereka yang memiliki uzur maupun tidak. Apa saja? Demikian ulasannya.

1.      Tanpa Adanya Uzur

Puasa Syawal

Ketentuan yang pertama, apabila ada seseorang yang tidak melaksanakan puasa di bulan Ramadhan tanpa adanya uzur. Maka haram baginya mengerjakan puasa sunnah di bulan Syawal.

Padanya pun diwajibkan untuk segera mengqadha puasa wajibnya tersebut dan diperintahkan pula agar tidak menyibukkan diri dengan puasa-puasa yang lain.

2.      Adanya Uzur

Puasa Syawal

Ketentuan yang kedua, jika ada seseorang yang melewatkan puasa Ramadhan sebab adanya uzur yang tidak bisa dihindari, seperti haid, nifas, sakit dan lain-lain. apabila dia berpuasa Syawal maka baginya tetap mendapatkan pokok pahala puasa.

Namun tidak memperoleh pahala puasa sempurna selama setahun penuh sebagaimana yang disebutkan dalam hadits.

Selain itu, mengganti puasa Ramadhan lebih baik untuk didahulukan pelaksanaannya. Kemudian boleh melanjutkannya dengan mengerjakan puasa sunnah di bulan setelah ramadhan ini.

Sebab kita tidak tahu kapan waktu akan datang menjemput ajal, maka dari itu sebaiknya mendahulukan apa yang menjadi kewajiban. Terlebih lagi jika hal tersebut utang puasa yang hukumnya adalah wajib.

Terkait permasalahan ini bukan termasuk perselisihan pendapat atau ikhtilaf di antara para ulama mengenai pertanyaan yang terlontar.

Yakni bolehkah seseorang berpuasa sunnah sedangkan masih mempunyai kewajiban qadha’ Ramadhan?

Karena perselisihan pendapat ini bukan berkaitan dengan puasa sunnah Syawal, melainkan puasa sunnah yang lain.

Adapun puasa yang terdiri dari 6 hari bulan Syawal tersebut, jelas-jelas mengikuti puasa Ramadhan.

Oleh karena itu, tidak mungkin seseorang akan memperoleh keutamaan pahalanya selain mereka yang telah menyempurnakan puasanya di bulan Ramadhan.

Demikian di atas adalah ulasan mengenai pendapat boleh atau tidaknya melakukan puasa Syawal sedangkan masih memiliki kewajiban membayar utang puasa di bulan Ramadhan. Semoga artikel ini bermanfaat.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY