Kisah Islami tentang Rizqi. Abu Bakr Al-Bazaaz dan Kalung Berlian.

0
1559

Menyambung nasehat islami dalam artikel sebelumnya tentang rizqi, dalam tulisan ini tim cahayaislam akan menghadirkan sebuah kisah islami penuh hikmah yang membuktikan bahwa setiap hamba sudah memiliki jatah rizqinya masing-masing. Maka suatu saat apabila seorang hamba dihadapkan pada sesuatu yang dia anggap sebagai jalan rizqinya, namun ternyata itu harom, maka sebagai hamba yang taat haruslah berani meninggalkannya. Ketika hamba tersebut telah meninggalkannya, maka sesungguhnya Allah akan memberikannya sesuatu dengan yang lebih baik.

Adalah Seorang Bernama Abu Bakr Al-Bazaaz yang Menemukan Kantong Berisi Berlian

Kisah islami seorang Abu Bakr Al-Bazaaz yang merupakan seorang ulama’ yang hidup pada abad ke-6 H. Ia hidup di masjidil Harom untuk beribadah dan mencari ilmu. Saat itu Abu Bakr merasa sangat kelaparan namun ia tidak memiliki uang untuk makan. Kemudian suatu ketika, Abu Bakr berjalan-jalan dan ia menemukan sebuah kantong. Ia mengingatkan pada hatinya bahwa kantong tersebut bukanlah miliknya. Akhirnya kantong itu ia bawa pulang, setelah sampai ia lantas membuka kantong itu. Ia amat terkejut, bahwa isi dalam kantong tersebut adalah sebuah berlian. Meski saat itu ia dalam keadaan yang amat membutuhkan, ia tidak terpengaruh untuk menggunakannya.

Beberapa waktu berlalu, ia lantas mendengar pengumuman bahwa ada seseorang yang kehilangan sebuah kantong, bagi yang menemukannya ia akan diberi upah 500 dirham atau 500 dinar. Setelah mendengar hal tersebut, Abu Bakr kemudian mencari tahu siapa yang mengumumkan hal tersebut, dan mengajaknya kerumah. Abu Bakr lalu bertanya, “Apa ciri kantongmu yang hilang itu?” Setelah mendengar keterangan dari Rojul tersebut Abu Bakr percaya bahwa kantong itu benar miliknya dan memberikannya.

Ketika pemilik Kantong Hendak Memberikan Hadiahnya, Abu Bakr Menolak

Abu Bakr merasa bahwa sudah menjadi kewajibannya untuk mengembalikan kantong tersebut sehingga ia tidak berhak menerima imbalan yang dijanjikan karena kantong itu ditemukan sebelum Abu Bakr mendengar adanya imbalan tersebut. Meski sang pemilik kantong bersikeras memaksa Abu Bakr menerima imbalannya, ia tetap menolak. Meski saat itu dia dalam keadaan membutuhkan, ia rela mengembalikan berlian tersebut karena Allah.

Setelah lama menetap di Makkah, Abu Bakr kemudian pulang ke kampung halamannya dengan menaiki perahu. Perahu yang ditumpanginya pecah, semua penumpangnya mati. Hanya Abu Bakr lah yang masih hidup. Abu Bakr terombang-ambing ambak dengan hanya berpegang pada kayu pecahan perahu, hingga akhirnya terdampar di sebuah pulau. Di pulau itu penduduknya buta huruf, maka ketika penduduk tersebut melihat Abu Bakr yang sedang membaca Al-qur’an di mushola, mereka bertanya, “Apakah kamu bisa menulis?” Abu Bakr menjawan, “Ya, saya bisa menulis.” Penduduk pulau berkata, “Ajarilah kami menulis.”

Abu Bakr Kemudian Dijodohkan Dengan Seorang Gadis Yatim Kaya

Penduduk Pulau tersebut sudah merasa cocok dengan Abu Bakr, lantas diberikan tawaran untuk menikah dengan seorang gadis yatim yang kaya. Abu Bakr menyetujuinya, lantas mereka saling dipertemukan. Setelah mereka bertemu, Abu Bakr tidak melihat wajah gadis itu, namun ia melihat kalung yang dikenakannya. Keluarga sang gadis berkata, “Syaikh, kalau Anda tidak melihat wajahnya namun hanya melihat kalungnya, Anda menyusahkan gadis ini.’

Abu Bakr berkata, “ada yang saya ingat dari kalung itu, kalung itu sama dengan kalung yang saya pernah temukan di Makkah.” Begitu mendengar berita itu, seluruh keluarga gadis tersebut menyerukan takbir. Ternyata pemilik kantong yang ditemukan Abu Bakr adalah ayah dari gadis tersebut.

Pada saat haji, ayah gadis itu terus berdo’a pada Allah, “Ya Allah pertemukanlah saya dengan lelaki itu, saya ingin menjadikannya menantu saya.

Istri Abu Bakr dan Dua Orang Anaknya Meninggal

Akhirnya Abu Bakr menikah dengan gadis itu. Namung tak berselang lama , istrinya kemudian meninggal. Kalung dan harta istrinya kemudian diwaris dan kedua anaknya. Beberapa waktu kemudian anaknya juga meninggal, akhirnya hanya Abu Bakr lah yang menjadi pewaris .

Apa Hikmah dalam Kisah islami ini?

Apa hikmah yang dapat kita ambil dari kisah islami inspiratif ini? Bahwa rizqi tiap hamba itu berbeda-beda dan porsinya telah ditentukan. Untuk itu, jangan mengambil pada apa yang bukan menjadi hak kita. Harta yang awalnya tidak diambil oleh Abu Bakr pada akhirnya kembali padanya lewat warisan.

Semoga kisah islami inspiratif ini dapat menjadi nasehat untuk diri kita sendiri agar jangan sampai mengambil pada apa yang bukan menjadi hak kita. Itu hukumnya harom.  Banyak kisah islami lain yang sobat cahayaislam bisa petik dari al-qur’an. Jadikan kisah islami tersebut sebagai motivasi bagi diri kita untuk terus memperbaiki diri, terus meningkatkan ibadah, dan semakin yakin dengan Allah SWT. Aamiin

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!