Terapi Psikologi Al Quran dan Dakwah islam

0
58
terapi psikologi

kehidupan islami – Alquran, bagi umat Islam, adalah sumber ilmu pengetahuan. Segala ilmu pengetahuan yang berguna untuk kemaslahatan manusia ada di dalamnya. Tak heran jika dalam dakwah islam, Alquran merupakan sumber rujukan utama. Ilmu-ilmu modern seperti misalnya geografi, ataupun psikologi, kesemuanya juga bisa ditemukan di dalam Alquran. Bahkan al quran bisa menjadi terapi psikologi loh!

Dakwah islam dan Terapi Psikologi Al Quran

Apa yang dibutuhkan untuk mengetahui itu sangat sederhana yaitu mempelajari Alquran. Sayangnya, meskipun sederhana, kadangkala ada kendala bahasa yang menghalangi pemahaman Alquran seutuhnya.

Agama islam adalah agama yang humanis. Dengan demikian, tidak mengherankan jika dakwah islam menaruh perhatian tinggi pada berbagai aspek manusia, termasuk jiwa. Sebagai agama, Islam mengajarkan ibadah yang selain bisa menyehatkan fisik, juga bisa menyehatkan psikis.

Konsep tauhid, misalnya, adalah konsep yang bisa memberikan ketenangan bagi jiwa. Mereka yang memiliki tuhan cenderung lebih mudah terhindar dari depresi dibandingkan mereka yang tidak mempercayai tuhan. Mereka yang mempercayai agama juga akan lebih mudah terhindar dari frustrasi karena mereka memiliki pegangan.

Membaca Alquran Menenangkan Jiwa

Sobat cahayaislam, bukan hanya di dalam Alquran ada pengetahuan psikologi, tetapi Alquran itu sendiri bisa menjadi terapi islam bagi jiwa. Hanya dengan membacanya saja orang bisa menjadi lebih tenang jiwanya. Tentu saja membaca Alquran juga bernilai ibadah. Hal itu bukan hanya dijelaskan dalam ceramah-ceramah yang mungkin pernah kita dengar tetapi juga memang dinyatakan dalam Alquran :

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, [1]

agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. [2]

Ayat tersebut menganalogikan membaca Alquran dengan perniagaan dengan Allah yang akan Allah balas dengan pahala. Maka apa yang tersirat di balik ayat tersebut adalah bahwa dengan membaca Alquran, manusia akan menjadi lebih tenang. Mengapa demikian?

Karena analoginya, pebisnis yang sudah tahu bahwa dia akan mendapatkan laba yang besar juga jelas akan bisa hidup dengan tenang. Berdasarkan alasan tersebut, tidak mengherankan juga jika dalam setiap dakwah islam, pembacaan Alquran selalu ditekankan. Selain itu dalam Alquran dijelaskan:

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. [3]

Efek Alquran bagi jiwa itu muncul karena bahasa Alquran adalah bahasa yang puitis. Bahasa-bahasa yang puitis memiliki kecenderungan untuk menenangkan pikiran. Menariknya lagi, selain puitis, Alquran memuat semua ilmu pengetahuan Islam dan umum yang membawa pada kemaslahatan manusia.

Itu merupakan satu bukti tak terbantahkan tentang kemukjizatan Alquran. Tak ada kitab apapun yang menyamainya. Setiap dakwah islam, misalnya yang disampaikan dalam bentuk ceramah oleh ustadz-ustadz pun pasti mengutip ayat Alquran sebagai dalil untuk menguatkan apa yang diajarkan dalam ceramah tersebut.

Psikologi Kelompok dalam Alquran

Psikologi apapun biasanya dibagi menjadi dua, pertama psikologi individu dan kedua psikologi kelompok. Psikologi individu berkaitan dengan bagaimana individu memahami dirinya sendiri, psikologi kelompok berkaitan dengan bagaimana individu hidup selaras dengan orang lain, ini termasuk berkaitan juga dengan bagaimana dakwah islam dilakukan.

Di dalam Alquran, psikologi kelompok tergambar dengan adanya konsep umat. Di dalam Alquran disebutkan sebagai berikut:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. [4]

Dalam ayat ini umat Islam dipandang sebagai sebaik-baik umat. Mengapa demikian? Karena umat islam memang diajarkan untuk selalu menjaga keharmonisan dengan orang lain. Umat islam diajarkan untuk saling membantu sesama. Ketika satu pihak mengalami bencana maka pihak yang lain segera mengulurkan tangan untuk meringankan beban.

Konsep umat yang harmonis seperti itu adalah konsep yang menunjukkan dasar psikologi kelompok. Psikologi kelompok biasanya memang dicirikan dengan adanya satu tujuan yang sama pada berbagai orang. Gambaran yang paling mudah dilihat misalnya ketika orang berbondong-bondong menghadiri dakwah islam dengan satu tujuan, tanpa disuruh, itulah bukti keberhasilan psikologi kelompok yang diajarkan oleh Alquran.


Catatan Kaki

[1] Surat Fathir (35) ayat 29

[2] Surat Fathir (35) ayat 30

[3] surat Asy-Syams (91) ayat 8

[4] surat Ali Imran (3) ayat 110

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!