Mudik Ramadhan, Seberapa Penting bagi Muslim?

0
57
mudik ramadhan

Mudik Ramadhan – Beberapa hari yang lalu, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan terkait larangan mudik yang waktunya maju 14 hari dari tahun sebelumnya. Tentu, hal ini menjadi pro kontra di kalangan masyarakat Indonesia. Sebab sebagian kaum muslim terkena dampak negatif dari kebijakan tersebut.

Sobat Cahaya Islam, larangan mudik yang diberlakukan diterapkan dalam rangka pencegahan penularan covid-19 semakin luas. Namun, nyatanya pelarangan ini tidak dibarengi dengan pengontrolan di hari penerapannya.

Seberapa Penting Mudik Setelah Ramadhan Bagi Kaum Muslimin?

Mudik ramadhan menduduki posisi penting di hati sebagian besar kaum muslimin. Pasalnya, momen mudik adalah momen kembali pada keluarga besar bagi siapapun yang merantau. Selain itu, terdapat budaya di Indonesia yang juga menjadikan momen ini sebagai waktu meminta maaf. Islam sendiri tidak memberikan kewajiban untuk melakukan mudik.

Hanya saja, budaya meminta maaf ketika mudik perlu disadari sebagai bentuk dari ajaran Islam. Namun, meminta maaf ini seharusnya tidak dilakukan ketika mudik saja bukan? Setiap hari adalah hari dimana manusia meminta maaf manakala telah melakukan sebuah kedzaliman. Akan sangat merugi bila terdapat kaum yang tak dapat menyadari kesalahannya bahkan tak meminta maaf.

2 Hakikat Mudik Ramadhan Sejati di Mata Allah

Bagi kaum muslimin, mudik itu menjadi momen yang penting dan harus disiapkan sematang mungkin. Pasalnya, perjumpaan dengan keluarga besar bukanlah hal yang mudah. Bahkan bisa jadi setahun sekali dilaksanakan.

 Nah, maka dari itu pelarangan mudik mendapatkan berbagai respon kurang enak dari masyarakat. Hanya saja, penting diyakini bahwa terdapat definisi mudik hakiki bagi seorang muslim, diantaranya adalah : 

1. Mudik dari Kejahiliyahan

mudik ramadhan

Mudik ke rumah orangtua adalah hal yang biasa. Namun, bagaimana maksud mudik dari kejahiliyahan? Mudik ini didefinisikan sebaga aktivitas berpulang selamanya dari kejahiliyahan. Artinya, kaum muslimin menempatkan posisinya sebagai hamba yang bertaqwa dan totalitas dalam ibadah. Tentu, akan ada banyak rintangan dan cobaan yang menghadang.

Namun, semua itu hanyalah bagian ujian kaum muslimin. Kondisi jahiliyah yang dimaksud dalam era kini yakni terkait kehidupan Millenial yang tergerus teknologi. Seharusnya, teknologi menjadi penunjang. Selain itu, berpindah dari kondisi jahiliyah menuju kondisi yang lebih sangat dicintai oleh Allah SWT.

2. Mudik berarti kembali pada Allah SWT

mudik ramadhan

Selain diartikan sebagai kondisi yang berpindah dari jahil ke baik, maka kaum muslimin juga memahami bahwa mudik yang sebenarnya adalah kembali pada Allah SWT. Tidak ada jaminan yang pasti di seluruh dunia kecuali apa yang sudah ditakdirkan oleh Allah untuk hambaNya, termasuk kematian.

Kematian harusnya cukup menjadi pengingat dalam diri agar senantiasa memaksimalkan aktivitas, termasuk halnya memaksimalkan diri di bulan Ramadhan. Jangan sampai waktu Ramadhan diri lebih sering berkecimpung pada persiapan mudik yang sementara dibandingkan mempersiapkan mudik ke akhirat.

Hal ini sesuai dengan yang disampaikan Allah SWT dalam firmanNya di surat Jumuah ayat 8 yakni :

قُلْ إِنَّ ٱلْمَوْتَ ٱلَّذِى تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُۥ مُلَٰقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Nah Sobat Cahaya Islam, itu tadi ulasan tentang mudik ramadhan yang perlu dipahami agar umat tidak salah fokus. Jangan sampai ibadah di bulan Ramadhan hanyak ditinggalkan lantaran lebih sering ada dalam ranah duniawi dibandingkan akhirat.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY