Masih banyak “orang awam” yang beranggapan bahwa LDII itu aliran sesat. Mengapa mereka “beranggapan” seperti itu? Karena kebanyakan mereka mendapatkan informasi tanpa disaring terlebih dahulu, di klarifikasi terlebih dahulu kebenaran sejatinya. Mereka menelan mentah-mentah informasi itu dan menutup mata terhadap kebenaran yang sesungguhnya.

Disini, tim Cahaya Islam Indonesia berusaha meluruskan dan memberi informasi sejatinya LDII itu seperti apa. Berikut adalah list tanya jawab yang berkaitan dengan “fitnah” kesesatan LDII :

  1. Adakah hubungan LDII dengan Islam Jama’ah?

LDII tidak ada hubungannya dengan Islam Jama’ah dan/atau ajaran terlarang lainnya. LDII adalah ormas Islam yang legal, berdasarkan Undang-Undang, berasaskan Pancasila, setia dan ta’at kepada Pemerintah NKRI yang sah, memiliki Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, dan memiliki Program Umum yang dapat diketahui secara transparan oleh masyarakat seluas-luasnya. Informasi mengenai LDII bisa di baca di internet www.ldii.or.id

  1. Benarkan LDII sebagai penerus ajaran Islam Jama’ah?

Tidak benar. LDII adalah ormas Islam yang besar dengan latar belakang anggota yang sangat beragam, dalam bidang pendidikan, profesi, status sosial maupun aspirasi kelompok keagamaannya, termasuk mereka yang dulunya “dianggap” melaksanakan ajaran Islam Jama’ah. Adanya orang-orang yang dianggap mantan Islam Jama’ah inilah yang kemudian menimbulkan citra seolah-olah LDII ini sebagai penerus Islam Jama’ah.

  1. Benarkah warga LDII menganggap kafir orang diluar LDII?

Tidak. Karena siapapun tidak memiliki wewenang untuk menyatakan kekafiran seseorang, berdasarkan dalil: “Barang siapa yang menganggap kafir saudaranya, maka kekafiran akan berbalik kepada dirinya, jika saudaranya ternyata tidak kafir”.

  1. Benarkah warga LDII merasa benar sendiri?

Tidak. Warga LDII tidak merasa benar sendiri, karena kebenaran itu ada di tangan Allah. Siapapun yang didalam beribadahnya berpedoman pada Al Qur’an dan Al Hadits, walaupun dari golongan manapun, tetap dijamin kebenarannya.

  1. Benarkah LDII meresahkan masyarakat?

Tidak benar. Namun, juga ada warga LDII yang melakukan kegiatan yang dianggap meresahkan masyarakat, bukan berarti LDII sebagai institusi bisa dipersalahkan. LDII sebagai institusi akan sangat menghargai jika warga LDII yang dianggap menimbulkan keresahan tersebut dapat diselesaikan menurut hukum yang berlaku.

  1. Benarkah warga LDII bila berjabat tangan dengan orang lain kemudian tangannya dicuci?

Tidak benar. Jika isu tersebut benar, alangkah sulitnya menjadi anggota LDII karena harus mencuci tangan setiap habis berjabat tangan atau bersentuhan dengan orang bukan warga LDII. Kenyataannya banyak warga LDII yang merupakan kaum terpelajar, dan para profesional yang setiap saat bergaul dengan banyak orang dari berbagai kalangan, serta tetap mengikuti etika dalam pergaulan.

  1. Benarkah masjid LDII jika dimasuki orang lain, kemudian lantainya di pel?

Tidak benar. Jika isu itu benar, logikanya adalah daripada harus mengepel lantai setelah dimasuki seseorang yang bukan warga LDII, tentunya lebih baik LDII melarang siapa saja yang bukan warga LDII untuk masuk ke masjid tersebut. Sebab alangkah susahnya jika setiap dimasuki orang selain warga LDII kemudian harus mencuci lantai. Kenyataannya tidak demikian. Banyak sekali masjid LDII yang terletak di pinggir jalan besar, bebas dimasuki oleh siapa saja, baik untuk sekedar sholat maupun untuk mengikuti sholat Jum’at. Sebagian dari foto-foto masjid LDII dapat Anda lihat di www.ldii.or.id

  1. Apakah di LDII ada Amir atau Imam?

Tidak ada. Di LDII tidak ada istilah Amir atau Imam melainkan yang ada adalah Ketua Umum dan Istilah-Istilah yang lazim di sebuah organisasi. Adapun istilah Amir dan imam memang terdapat di dalam Al Qur’an dan Al Hadits, sehingga di LDII istilah-istilah itu tetap dikaji, tetapi dalam rangka keilmuan saja.

  1. Benarkah bahwa warga LDII tidak mau bermakmum kepada orang lain?

Tidak benar. Penetapan imam sholat mengikuti tuntunan Rasulullah SAW: “Yang berhak mengimami kaum adalah yang paling mahir di dalam membaca Al Qur’an, jika dalam hal ini sama semua maka yang paling dahulu hijrahnya, jika dalam hal ini sama semua maka yang paling banyak mengetahui sunnahnya, jika dalam hal ini mereka sama semua maka yang paling tua usianya”. Contoh yang nyata adalah pada saat ibadah haji. Di Makkah warga LDII sholat di belakang imam Masjidil Harom. Di Madinah warga LDII sholat di belakang imam Masjid Nabawi. Begitu juga di masjid-masjid lainnya.

  1. Benarkah warga LDII tidak mau solat di masjid selain masjid LDII?

Tidak benar. Warga LDII selalu berusaha tertib dalam menetapi sholat lima waktu, dalam rangka menetapi firmah Allah: “Jagalah waktu-waktu sholat dan sholat yang tengah (ashar)”. Untuk menetapi kewajiban sholat lima waktu tersebut, warga LDII dapat melaksanakan ibadah sholat di masjid, mushollah, atau di tempat ibadah lainnya. Adapun jika di tempat terdekat ada masjid LDII, tentunya wajar saja jika warga LDII tersebut lebih memilih pergi ke masjid LDII. Hal tersebut semata-mata disebabkan karena di masjid LDII tersebut dapat diperoleh informasi-informasi mengenai kegiatan organisasi, sekaligus silaturohim dan menambah ilmu.

  1. Benarkah LDII melaksanakan pernikahan sendiri tanpa melalui KUA?

Tidak benar. Sebagai warga negara yang baik dan ta’at kepada Peraturan Pemerintah yang sah, dalam melaksanakan pernikahan, warga LDII harus mengikuti Undang-Undang Perkawinan, dimana perkawinan hanya sah apabila disaksikan dan dicatat oleh pejabat dari KUA (Kantor Urusan Agama).

  1. Mengapa LDII tidak pernah melakukan bantahan terhadap hujatan?

LDII mengedepankan 3 prinsip ukhuwwah, yaitu ukhuwwah Islamiyah, Ukhuwwah Basyariyah, dan Ukhuwwah Wathoniah. LDII mempunyai suatu pandangan bahwa berbantah-bantahan lebih banyak madlorotnya daripada manfaatnya.

1 KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!