Perselisihan Suami-Istri, Bagaimana Solusinya Menurut Ajaran Islam?

0
1199

Perselisihan Suami-Istri – Sebuah keluarga tentunya tidak lepas dari permasalahan yang datang. Hal ini sebagai salah satu bentuk ujian untuk memperkokoh suatu keluarga. Hanya saja, hasilnya ada yang berhasil dan adapula yang kandas tidak tahan terhadap ujian. Islam mengajarkan untuk senantiasa sabar ketika menghadapi masalah.

Keberadaan masalah yang memicu Perselisihan Suami-Istri, hendaknya dicari solusi yang memberikan masalahat serta kedamaian yang seimbang. Perlu diyakini, setiap masalah tentu ada solusinya. Jadi, Sobat Cahaya Islam tidak boleh menyerah dan putus asa karena masalah yang menghadang. Dalam syariat Islam disajikan beberapa solusi yang bisa diterapkan kala perselisihan terjadi.

Solusi Terhadap  Perselisihan Suami-Istri dalam Ajaran Islam

Keutuhan sebuah keluarga hendaknya dijaga dengan pondasi yang kuat. Perselisihan Suami-Istri merupakan suatu kewajaran yang kerap menghiasi sebuah keluarga. Hal ini menjadi bumbu-bumbu penguat bagi mereka yang kuat menahan terpaan badai. Lantas apa saja solusi yang bisa dicoba? Berikut ini informasi yang bisa Sobat Cahaya Islam simak!

1.   Mengetahui Asal-Muasal Masalah

Hal pertama yang harus dilakukan ketika Perselisihan Suami-Istriterjadi yakni mengethaui pangkal masalah. Tidak ada asap tanpa api, tentu setiap masalah yang timbul akan disebabkan suatu hal. Carilah inti dari permasalahan yang terjadi, lalu bicarakan secara baik-baik dan temukan solusi yang mendamaikan.

Dalam hal ini, suami hendaknya bisa memposisikan diri dengan baik, sehingga permasalahan yang timbul pun dapat segera diatasi. Selain itu, untuk menari jalan keluar suatu permasalahan hendaknya dihadapi dengana kepala dingin tanpa emosional.

2.   Pahami Tabiat Istri

Selanjutnya, suami bisa memahami tabiat istrinya. Jika memang terdapat tabiat yang menyimpang, maka hal tersebut merupakan penciptaan dan fitrah dari Allah swt kepadanya. Adapun selaku suami, hendaknya melakukan koreksi atau pun nasihat secara tepat tanpa menyakitinya.

Akan ada masa di mana suami dan istri memiliki pendapat yang berbeda. Hal ini bergantung pada individu masing-masing dalam menyikapinya.

إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ لَنْ تَسْتَقِيمَ لَكَ عَلَى طَرِيقَةٍ، فَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَبِهَا عِوَجٌ، وَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهَا، كَسَرْتَهَا وَكَسْرُهَا طَلَاقُهَا  

 “Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk. Ia tidak akan pernah lurus untukmu di atas sebuah jalan. Jika engkau ingin bersenang-senang dengannya, maka bersenang-senanglah. Namun, padanya tetap ada kebengkokan. Jika engkau berusaha meluruskannya, engkau akan memecahnya. Dan pecahnya adalah talaknya. (HR Muslim). “ 

Jika seorang suami memahami tabiat yang dimaksud, maka selaku pemimpin dalam keluarga akan mampun menyikapinya dengan bijak. Sama halnya dengan seorang istri, hendaknya memberikan kelapangan hati kala diberi nasihat/ koreksi dari suami.

3.   Senantiasa Introspeksi Diri

Solusi lainnya yakni senantiasa melakukan introspeksi diri baik suami maupun istri. Perselisihan Suami-Istri banyak terjadi karena satu sama lain egois, senantiasa ingin menang sendiri. Lantas, berintrospeksilah, sehingga dengan mengaca diri dapat diketahui apa yang menjadi permasalahan. Tidak sedikit laki-laki yang dikaruniai istri yang hebat, cerdas dan lebih bijak darinya. Namun, hal ini tentunya tidak bisa dijadikan alasan untuk seorang istri mengeksploitasi suami.

Adapun selanjutnya, seorang istri hendaknya tidak membangkang tetap menghormati suami selaku pemimpin dalam keluarga. Jika hal ini terjadi, maka koreksi dan mengaca pada diri serta terima setiap nasihat guna menciptakan perdamaian yang baik. 

“Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik, (QS al-Nisa: 128).”

4.   Suami Menjadi Pengayom yang Baik

Dalam sebuah keluarga, suami merupakan orang pertama yang hendaknya mengayomi dengan baik. Hak kepemimpinan seorang suami hendaknya diterapkan secara bijak dengan mendidik, menyayangi, melindungi maupun menaungi. Bukan sebaliknya bersikap otoriter, luhur, semaunya, maupun keras. Hal ini merupakan salah satu hal yang harus dihindari setiap suami, guna menciptakan keluarga yang harmonis.

Sebagaimana yang termaktub dalam Firman Allah swt. dalam Al-Quran surat An-Nisa ayat 34:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. An-Nisa: 34).

Nah, Sobat Cahaya Islam, itulah beberapa solusi yang diajarkan Islam dalam menghadapi Perselisihan Suami-Istri. Setiap permasalahan pasti ada solusinya, dan jadikan ujian yang menghadang sebagai penguat dalam kehidupan keluarga. Perbedaan itu indah, tetapi segalanya bergantung pada masing-maisng individu dalam menyikapinya.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY