Filosofi Stoic dan Kehidupan Islam?

0
337
Filosofi Stoic dan Kehidupan Islam

Stoic dan kehidupan islamAda yang pernah bilang kepada kami bahwa mempelajari filosofi barat bisa membuat kita jadi terlalu liberal. Mungkin beberada dari sobat cahaya islam disini pernah dikatain hal serupa. Namun jiwa pembelajar kami tidak padam, dan akhirnya terus mempelajari banyak hal hingga kami mencoba untuk menemukan integrasi dan interkoneksi hal hal baru yang kita pelajari itu dengan ajaran islam. Dan ada satu yang menarik: ada hal baik dalam filosofi stoic dan kehidupan islam.

Beberapa Persamaan antara Stoic dan Kehidupan Islam

Filosofi Stoik dan ajaran Islam memiliki beberapa persamaan dalam pendekatan terhadap kehidupan dan nilai-nilainya. Meskipun Stoikisme berasal dari budaya Yunani kuno dan Islam adalah agama yang melandaskan ajarannya pada wahyu Ilahi. ada beberapa konsep yang dapat bermekaran dengan subur di kedua tradisi tersebut.

Stoic dan Kehidupan Islam Sejalan Pada Karakter Ridho dan Pengendalian Diri dengan Ajaran Islam

Faktanya, Filosofi Stoik mengajarkan penerimaan terhadap takdir dan kehidupan sesuai dengan prinsip “Amor Fati” (cinta akan takdir). Hal ini sejalan dengan konsep Islam tentang tawakkal (percaya sepenuhnya kepada Allah) dan redha terhadap kehendak-Nya. Islam mengajarkan bahwa manusia harus menerima apa yang terjadi dalam hidupnya sebagai bagian dari rencana Allah yang sempurna.

ﻮْ ﺃَﻧَّﻜُﻢْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﻮَﻛَّﻠُﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺣَﻖَّ ﺗَﻮَﻛُّﻠِﻪِ ﻟَﺮُﺯِﻗْﺘُﻢْ ﻛَﻤَﺎ ﻳُﺮْﺯَﻕُ ﺍﻟﻄَّﻴْﺮُ ﺗَﻐْﺪُﻭ ﺧِﻤَﺎﺻًﺎ ﻭَﺗَﺮُﻭﺡُ ﺑِﻄَﺎﻧًﺎ

Seperti penjelasan Hadits Tirmidzi diatas tentang Tawakkal kepada Allah layaknya burung yang terbang dipagi hari untuk mencari makan, dan kembali ke sarangnya dalam keadaan kenyang.

Di lain sisi, Stoikisme juga mendorong pengembangan akhlak yang baik dan disiplin diri. Prinsip-prinsip ini juga penting dalam Islam, dengan penekanan pada pengendalian diri, pemeliharaan adab, dan pengembangan akhlak yang mulia.

Stoikisme Ajarkan Kehidupan yang Mandiri secara Emosional dan Menghindari Kemelekatan Pada Materi Dunia

Pada dasarnya, bagi tiap muslim yang beriman kepada hari akhir. Kita percaya bahwa kehidupan dunia ini hanyalah kehidupan yang fana. The real purpose kita adalah kampung akhirat. Stoikisme mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak tergantung pada kekayaan materi atau kemewahan dunia. Konsep ini sejalan dengan ajaran Islam tentang pentingnya menjaga ketidakbergantungan pada harta dan dunia material, serta mengutamakan kekayaan spiritual dan akhirat.

Pada waktu yang sama, mindset prioritas akhirat ini haruslah membungkus erat kemandirian dan kedewasaan manusia secara emosional. Stoikisme mengajarkan perlunya mengendalikan emosi dan tidak terjebak dalam perasaan negatif atau mengandalkan situasi eksternal untuk kebahagiaan. Ajaran ini juga sejalan dengan Islam yang mengajarkan pengendalian diri terhadap emosi negatif seperti kemarahan, iri hati, atau kebencian.

***

Kesimpulannya, Stoic dan kehidupan islam menjunjung satu garis mindset yang sama. Meskipun terdapat persamaan dalam beberapa prinsip filosofi Stoik dan ajaran Islam, penting untuk diingat bahwa Islam memiliki pondasi yang unik berdasarkan wahyu Ilahi dan petunjuk Allah melalui Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, dalam menerapkan konsep-konsep Stoik dalam kehidupan Islam, penting untuk memastikan bahwa ajaran dan nilai-nilai Islam tetap menjadi pedoman utama.

Kira kira begitu sih ulasan singkat kami tentang filosofi hidup stoic dan kehidupan islam. Mungkin sobat cahaya islam disini menemukan hubungan atau hikmah lain yang bisa kita kaitkan antara agama kita dan stoicism itu? Jangan ragu untuk share dengan kami lewat kolom komentar ataupun bisa dengan dm di sosial media cahaya islam ya. Mari berbagi dan semoga bermanfaat!

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY