Rizwan Fadilah Warisi Bakat Lawak Sang Ayah, Sudah Tahu Batasannya?

0
1149
Rizwan Fadilah

cahayaislam.id – Rizwan Fadilah, merupakan anak ketiga dari komedian Sule yang akhir-akhir ini menjadi pusat perhatian. Pasalnya, Rizwan terlihat mempunyai bakat lawak seperti sang ayah.

Popularitasnya kian meroket setelah sukses menjadi host di kanal YouTube milik ayahnya itu, Sule Productions.

Dalam kanal YouTube tersebut, Rizwan membawakan program Ini Bukan TalkShow dan masih didampingi oleh Sule yang menjadi co-host.

Tak heran jika 4 vidio program ini berhasil menduduki trending di YouTube. Sebab duet anak dan ayah tersebut dinilai sangat menghibur penonton.

Banyak yang menyoroti sosok Rizwan saat menjadi host remaja yang jenaka dan riang. Kini, Rizwan pun mendadak muncul di program Ini Sahur yang dibawakan oleh Sule.

Suasana studio pun menjadi kian meriah, Rizwan sukses menunjukan aksi kocak saat menjadi host sehingga membuat penonton tertawa. Hal ini menunjukan bahwa Rizwan memang bisa mewarisi bakat lawak dari ayahnya.

Rizwan Fadilah Warisi Bakat Lawak Sang Ayah, Sudah Tahu Batasannya?

Sebuah lawakan atau komedi adalah media hiburan bagi masyarakat. sebab dianggap dapat memicu tawa yang membuat penonton merasa kehilangan ketegangan serta stress dalam dirinya.

Mengenai hal ini, bagaimana agama islam memandangnya?

Memang, lawakan bukanlah hal yang dilarang dalam islam. Bahkan Nabi Muhammad SAW pernah tertawa karena mendengar sebuah lawakan.

Kendati demikian, islam tetap menghendaki adanya kejelasan yang harus dipegang oleh masyarakat, yakni tentang kejujurannya. Karena Rasulullah SAW tidak memperkenankan seseorang membuat lawakan jika menggunakan kebohongan.

Maka dari itu, ada beberapa batasan yang harus diperhatikan selama menghibur orang lain dengan menggunakan lawakan. apa saja?

1.      Tidak Berlebihan

Rizwan Fadilah

Dalam membuat lawakan, meski hanya bercanda dianjurkan tidak berlebihan. Sebab, hal ini bisa menjatuhkan kehormatan orang lain dalam sudut pandang manusia.

Maka dari itu setiap kali mengucapkan sesuatu harus disertai dengan kesadaran agar tidak ada potensi mencelakai orang lain. terlebih lagi, harus bisa mengontrol diri untuk tetap menjaga kehormatan orang.

2.      Bukan Cacian

Rizwan Fadilah

Allah SWT berfirman yang berbunyi;

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat Ayat 11)

Dari ayat di atas, maka sudah jelas bagi kita bahwa Allah SWT telah melarang melakukan lawakan atau kalimat candaan yang menggunakan cacian dan cemoohan.

Karena hal ini bisa membuat orang lain yang mendengarnya menjadi tersinggung atau merasa direndahkan.

3.      Tidak Dijadikan kebiasaan

Sebagai seorang muslim, kita perlu mengetahui bahwa menjadikan sebuah lawakan atau canda sebuah kebiasaan adalah hal yang dilarang menurut ajaran agama.

Alasannya adalah karena hal tersebut hanya boleh dilakukan menjadi pelepas penat dan bukan untuk dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.

4.      Memperhatikan Materinya

Dalam membuat lawakan, kita dilarang menjadikan aspek agama sebagai materi. Terlebih lagi, jika itu menyangkut Allah SWT, ayat-ayatNya, RosulNya atau segala hal yang bersangkut paut denganNya.

Apakah pantas hal tersebut dipermainkan atau dijadikan senda gurau atau diolok-olok?

Orang-orang seperti itu, bisa menjadi kafir setelah beriman dan akan ada azab bagi mereka karena telah berbuat dosa yang besar.

 وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمْ تَسْتَهْزِءُونَ

Artinya: Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”

لَا تَعْتَذِرُوا۟ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَٰنِكُمْ ۚ إِن نَّعْفُ عَن طَآئِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَآئِفَةًۢ بِأَنَّهُمْ كَانُوا۟ مُجْرِمِينَ

Artinya: Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. (QS. At.Taubah: 65-66)

Demikian di atas merupakan ulasan mengenai Rizwan Fadilah, anak komedian Sule yang memiliki bakat lawak dari ayahnya. Serta penjelasan tentang batasan apa saja yang harus diperhatikan dalam membuat candaan menurut islam.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY