Abdul Mu’ti Hadiri Halal Bihalal: Ekspresi Ajaran Islam Universal

0
65
Abdul Mu’ti hadiri Halal Bihalal

Abdul Mu’ti hadiri Halal Bihalal yang diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah (27/4), RSI Muhammadiyah Kendal. Selain Mu’ti, dalam agenda tersebut turut hadir Ketua PWM Jateng Tafsir beserta jajaran, Bupati Kabupaten Kendal Dico M. Ganinduto.

Hadir juga Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kendal Ikhsan Intizam beserta jajaran, dan Organisasi Otonom. Terakhir, ada Direktur RSI Muhammadiyah Kendal dr. Suhardi.

Abdul Mu’ti Hadiri Halal Bihalal

Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, asal Kudus itu telah menyampaikan halal bihalal dalam istilah antropologi merupakan vernakularisasi islam. Di mana memiliki ajaran dan nilai-nilai Islam yang diekspresikan sesuai dengan konteks atau kuotif setempat.

Seseorang Islam, tetap bisa memberikan ekspresi yang sangat universal. Hal ini sangat terbuka, kemudian bisa diterima oleh semua kalangan.

1. Islam tidak Dilihat dari Ajarannya

Abdul Mu’ti hadiri Halal Bihalal

Menurutnya, Vernakularisasi Islam berarti agama tersebut tidak dilihat dari ajarannya. Melainkan, bagaimana pemeluk Agama Islam menjalankan ajarannya. Dikarenakan ini merupakan acara halal bihalal, setidaknya didalamnya sudah memiliki empat sajian agenda.

2. Sajian Agenda

Sajian agenda yang pertama berkaitan dengan sifat syariat. Di mana hal ini membahas pelaksanaan Salat Idulfitri.  Agenda yang kedua berkaitan dengan mudik. Ini merupakan salah satu tradisi atau budaya. Namun, menurut Mu’ti tradisi mudik ini juga bisa dimaknai sebagai mudik kultural dan spiritual.

Mudik kultural ini masih menjadi ciri khas Indonesia. Di mana betapa pentingnya minta maaf sampai berjam-jam. Lalu harus bisa melewati kemacetan yang luar biasa.

3. Sisi Ekonomi

Sementara itu, jika Sobat Cahaya Islam lihat dari sisi ekonomi, mudik ini juga termasuk salah satu periode perputaran uang cukup besar di Indonesia. Bahkan, Abdul Mu’ti saat ini sudah menaksir ada perputaran uang triliunan rupiah ketika orang-orang tersebut sedang mudik.

Bagi seluruh umat Islam, mudik dan idul fitri ini sebenarnya bagaikan dua hal yang berbeda. Namun, hal tersebut tidak dapat dipisahkan. Sebab, tidak akan ada mudik apabila tidak ada idul fitri.

Setelah mudik, pasti akan ada sajian agenda ketiga yaitu silaturahmi. Kemudian, ada agenda keempat yaitu seremonial yang dilakukan oleh instansi.

Dalam agenda seremonial halal bihalal, Mu’ti mengatakan bahwa didalamnya ada 4R, yaitu refreshing (bergembira), reflection (muhasabah), recreation (semangat kembali). Terakhir, ada R yang merubah reconciliation-resolution, ini menjadi bagian penting pada situasi dunia ‘terbelah’.

4. Tradisi Islam Lain

Abdul Mu’ti hadiri Halal Bihalal

Mu’ti juga telah mengatakan bahwa ada tradisi Islam lainnya yaitu mengucapkan selamat Idul Fitri. Ucapan ini berakar dari hadis Nabi, yakni “taqabbalallahu minna wa minkum”.

Arti kalimat ini yaitu “Semoga Allah menerima amal ibadah semuanya.” Tradisi ini juga seringkali ditambahi dengan permohonan maaf lahir dan batin.

Selain itu, Mu’ti menyatakan bahwa istilah Syawalan mempunyai makna serupa dengan Halal Bihalal. Dirinya menjelaskan bahwa Halal Bihalal saat ini sudah menjadi budaya agama yang berakar kuat di Muhammadiyah sejak lama.

Jadi bukan hanya dimulai tahun 1948 seperti yang dikira orang. Melainkan, sudah ada sejak tahun 1924. Itulah beberapa pendapat dari Abdul Mu’ti hadiri Halal Bihalal.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY