Pendeta Saifudin Ibrahim Mengganggu Kerukunan Antar Umat Agama

0
464
Pendeta Saifudin Ibrahim

cahayaislam.id – Belum lama ini, telah beredar sebuah video rekaman Pendeta Saifudin Ibrahim yang viral di berbagai platform media sosial. Dia mengatakan berulang kali terkait sejumlah keadaan agama di Indonesia kepada Menag Yaqut Cholil Qoumas.

Sang pendeta ini menyinggung dengan jelas masalah kurikulum pesantren yang mengaitkannya dengan radikalisme. Bahkan juga mengusulkan untuk menghapus 300 ayat dalam Alquran.

Dari keterangan yang didapat, disampaikan bahwa tidak pernah ada pertemuan resmi antara Gus Menteri dengan Pendeta Saifudin. Pada catatan buku tamu juga tidak ada bukti adanya agenda pertemuan antara keduanya.

Selain itu, statement dari Pendeta mengenai pesantren yang melahirkan kaum radikal dan ajarannya tentang Alquran juga dinilai salah. Sedangkan Gus Menteri sendiri berpendapat bahwa kemandirian dalam pesantren merupakan salah satu prioritasnya selama ini.

Alquran pun disebutnya (Gus Kemenag) sebagai kitab suci yang memiliki kesempurnaan bagi seluruh umat Muslim. Seharusnya tokoh agama seperti Pendeta Saifudin tidak menggumamkan pernyataan terkait kitab suci umat lain, terlebih lagi dengan cara yang berpotensi menyinggung.

Hal ini tentu saja bisa membuat emosi masyarakat membuncah, lalu yang paling bahaya akan timbul ketidak rukunan antar umat beragama.

Nah, Sobat Cahaya Islam, lantas bagaimanakah tanggapan agama Islam terkait masalah kerukunan yang bisa saja goyah akibat statement yang salah dan berpotensi menyinggung? Demikian penjelasannya.

Sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (QS. Al-Hujurat:13)

Ayat di atas menjelaskan yang mana kerukunan hidup bai kantar suku, golongan dan bangsa sangat dianjurkan oleh Allah SWT. Hal ini bertujuan agar persatuan dan kesatuan di masyarakat bisa terbina sampai kapanpun.

Nantinya individu maupun kelompok bisa menjalin kebiasaan saling pengertian dan kebersamaan. Tanpa adanya halangan yang disebabkan oleh materi, paham dari masing-masing golongan.

Hubungan yang baik dan harmonis juga dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW. Maka dalam ajaran Islam pun dijelaskan mengenai pentingnya menjaga kerukunan dengan saling menghargai keberadaan setiap orang maupun kelompok.

Apalagi di Indonesia ini penuh dengan keberagaman, maka sudah sepatutnya kita untuk bisa menghormati apa yang menjadi pilihan dan keyakinan dari orang lain.

Cara Menjaga Kerukunan Antar Umat Beragama

Untuk bisa menciptakan suasana rukun di dalam hidup agar bisa berdampingan dengan baik satu sama lain dibutuhkan beberapa cara. Apa saja?

Toleransi

Kita harus bisa menerima perasaan, kebiasaan, pendapat dan juga kepercayaan yang berbeda dari orang lain. Maka sudah sepatutnya kita menjaga ucapan agar tidak sampai menyinggung pemeluk agama lain, hal ini seperti pada kasus Pendeta Saifudin Ibrahim.

Pendeta Saifudin Ibrahim

Sebab, dengan adanya sikap saling menghargai dan tidak mengusik ketenangan dari apa yang diyakini oleh orang lain, hidup akan menjadi harmonis dan dinamis.

Mencegah dan Menyelesaikan Konflik

Terkadang, baik disengaja maupun tidak, konflik antar umat beragama sering kali terjadi. Bisa juga karena adanya oknum yang memulai adu domba sehingga kita menjadi terpecah belah.

Pendeta Saifudin Ibrahim

Maka yang harus kita lakukan adalah menyelesaikan konflik dengan damai dan sebisa mungkin mencegah agar tidak pernah ada konflik yang berpotensi menghilangkan kerukunan.

Demikian di atas adalah ulasan mengenai Pendeta Saifudin Ibrahim yang statementnya mengganggu kerukunan antar umat serta tanggapan Islam tentang masalah tersebut.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY