Menguak Hikmah Ramadhan dalam Kehidupan Sosial

0
2302
Menguak Hikmah Ramadhan dalam Kehidupan Sosial

Kehidupan Islami Sobat Cahayaislam yang di muliakan Allah, berpuasa di dalam bulan Ramadhan bukanlah sekedar ibadah wajib yang Allah perintahkan kepada setiap muslim setiap tahunnya. Dengan segala rangkaian amalan-amalannya kita perlu mengetahui hikmah ramadhan di dalamnya.

Namun, lebih dari itu semua, Allah sebenarnya pun memaksudkan kita untuk menggali banyaknya hikmah puasa di bulan Ramadhan itu sendiri.

Untuk kemudian mengaplikasikan hikmah-hikmah tersebut dalam kehidupan kita, hingga kita pun dapat menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bertakwa.

Hal yang fokus utama dalam pembahasan Cahayaislam kali ini adalah memaknai hikmah Ramadhan dalam kehidupan sosial.

Karena sebagaimana kita ketahui, kita semua adalah makhluk sosial yang hidup berdampingan dengan orang lain.

Sehingga kita pun harus bersikap sebagaimana mestinya.

Nah, sobat Cahayaislam sekalian, dengan demikian, memaknai hikmah puasa di bulan Ramadhan dapat kita sebut sebagai wujud realisasi iman dalam kehidupan sosial.

Lalu, seperti apakah hikmah Ramadhan dalam kehidupan sosial itu? Mari kita simak ulasan berikut ini.

Menjadi pribadi yang sholih dengan akhlaqul karimahnya

Sahabat, di dalam bulan Ramadhan kita senantiasa di ajak untuk meningkatkan kesemangatan ibadah kita.

Lalu memfokuskan diri pada beramal sholih, dan membarokahkan waktu dengan mengurangi hal-hal yang bersifat lahan.

Dengan begitu, diri kita akan terarah menjadi pribadi yang lebih baik yang selalu menjaga sikap dan perbuatan kita. Dalam hal ini tentunya kita dapat meneladani akhlaq Rasulullah SAW, sebagaimana yang telah beliau sabdakan dalam sebuah hadits yang artinya:

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُوَيْسٍ قَالَ‏:‏ حَدَّثَنِي عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَجْلاَنَ، عَنِ الْقَعْقَاعِ بْنِ حَكِيمٍ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ السَّمَّانِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ‏:‏ إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاقِ‏.‏

Abu Huraira melaporkan bahwa Rasulullah, semoga Allah memberkati dia dan memberinya kedamaian, berkata,

“Saya di utus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” [1]

Dalam kesehariannya, bahkan sejak sebelum di angkat menjadi Rasulullah, Nabi Muhammad memang memiliki budi pekerti yang mulia.

Dalam bertutur, beliau selalu mengucapkan kata-kata yang halus dan tidak menyinggung perasaan orang lain.

Berinteraksi dengan orang lainpun, beliau selalu menunjukkan sikap yang baik, tidak sombong, dan tetap mengarah pada kerukunan, bahkan pada orang-orang yang memusuhinya sekalipun.

Nah sobat, karena kita tahu dalam bulan Ramadhan segala amalan entah yang baik ataupun yang buruk akan di lipatgandakan pahala atau dosanya.

Maka dalam bulan Ramadhan pun, secara terkhusus kita benar-benar di ajak oleh Allah untuk menjaga akhlaq kita.

Dengan pembiasaan berbudi yang luhur dalam bulan Ramadhan.

Maka kita akan terbiasa pula berusaha mensholihkan pribadi kita dengan akhlaqul karimah tersebut.

Menanamkan sikap peduli dan empati

Ketika berpuasa, kita di tuntun untuk mengendalikan hawa nafsu, seperti hedonistis, egoistis, kompetitif, konsumtif, dan sebagainya.

Kita juga di haruskan untuk menahan rasa lapar dan haus dalam beberapa jam; yang biasanya makan rutin, minum rutin, kesemuanya itu kita tekan dalam bulan Ramadhan.

Hikmahnya, kita dapat belajar merasakan apa yang di rasakan oleh saudara-saudara kita di luar sana yang hidupnya sederhana, apa adanya, bahkan terkadang sangat kekurangan sehingga tidak memiliki pakaian dan rumah yang layak, tidak dapat menikmati makanan yang enak, dan sebagainya.

Dengan demikian, karena kita sudah merasakannya sendiri, kita dapat belajar untuk peduli dan empati terhadap mereka yang membutuhkan, sehingga akan muncul keinginan untuk membantu atau menolong mereka.

Belajar ikhlas untuk berbagi dengan sesama

Belajar ikhlas berbagi adalah hal yang sangat mengena sebagai wujud hikmah Ramadhan dalam kehidupan sosial. Mengapa begitu sobat?

Dapat kita lihat, di dalam bulan Ramadhan, semua saudara muslim senantiasa di ajak untuk bershodaqoh.

Baik itu berupa makanan takjil buka puasa,

Pakaian pantas pakai,

Shodaqoh berupa harta,

Hingga yang berwujud makanan pokok sebagai bentuk zakat.

Nah, dari sinilah kita di ajarkan untuk ikhlas berbagi, ikhlas memberi, dan ikhlas membukakan kemudahan bagi saudara muslim lain yang membutuhkan.

Terkadang apa yang kita bagi, apa yang kita beri, terlihat begitu sederhana bagi kita, namun sobat, semua itu bernilai sangat tinggi bagi mereka yang membutuhkan.

Secara kasat mata, mungkin harta kita berkurang ketika kita memberikannya pada orang lain.

Namun hakikinya, semua itu adalah tabungan untuk kita sendiri, yang nantinya akan kita nikmati di sisi Allah, sebagaimana yang di sebutkan dalam surat Al Muzammil ayat 20 berikut ini:

… وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ …

“…dan apa-apa yang kalian dahulukan untuk diri kalian berupa kebaikan-kebaikan akan kalian jumpai di sisi Allah, dan itu lebih baik dan lebih besar pahalanya…”

Sahabat, sebenarnya masih banyak sekali hikmah Ramadhan dalam kehidupan sosial yang lain, dan itu dapat kita rasakan dan syukuri dalam pribadi masing-masing.

Pada intinya adalah, bulan Ramadhan yang merupakan bulan yang suci bagi kita, juga merupakan wadah bagi kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Baik dalam kehidupan sosial masyarakat, sehingga terciptalah kerukunan, ketentraman, dan kedamaian di antara kita semua.

CATATAN KAKI

[1] H.R. Al-Adam bab sopan santun. Keunggulan dalam Karakter (sahih)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY