Hukum Puasa Dzulhijjah, Tata Cara dan Niatnya

0
70
Puasa Dzulhijjah

Puasa Dzulhijjah – Puasa Dzulhijjah adalah puasa yang di laksanakan pada 9 hari di awal bulan Dzulhijjah. Puasa tersebut hukumnya adalah Sunnah, artinya boleh dikerjakan boleh juga tidak. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak berpuasa pada 9 hari pertama Dzulhijjah.

Dalil tentang keistimewaan amalan pada awal bula Dzulhijjah sudah masyhur kita ketahui. Memang dalam dalil tersebut tidak disebutkan khusus bahwa amalan tersebut adalah puasa. Namun, waktu yang istimewa untuk beramal adalah awal Dzulhijjah. Berikut dalil yang dimaksud:

« مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ ».

Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968, dari Ibnu ‘Abbas. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim)

Hukum Puasa Dzulhijjah

Puasa Dzulhijjah

Dalil yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW berpuasa pada 9 hari pertama bulan Dzulhijjah, adalah hadist yang sahih. Dalam Latho-if Al Ma’arif disebutkan, bahwa para sahabat juga ikut melaksanakan puasa pada 9 hari pertama bula Dzulhijjah. Berikut dalil tentang keutamaan puasa Dzulhijjah

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya, …” (HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari dalil di atas, jelas disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW melaksanakan puasa pada 9 hari di bulan Dzulhijjah, pada hari ke 10 bulan Muharrom dan tiga hari pada tiap-tiap bulannya. Dalil ini bisa menjadi pegangan untuk kita agar tidak ragu untuk mengamalkannya.

Pendapat Tentang Nabi Tidak Berpuasa

Selain dalil tentang keutamaan puasa di bulan Dzulhijjah, ada juga dalil yang meyebutkan bahwa Rasulullah SAW  tidak berpuasa pada awal bulan Dzulhijjah. Mengenai pendapat ini, ulama teh memberikan tafsirnya. Sobat Cahaya Islam, sebelum kita membahas tafsirnya berikut adalah dalil yang dimaksud

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَائِمًا فِى الْعَشْرِ قَطُّ

Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada sepuluh hari bulan Dzulhijah sama sekali.” (HR. Muslim no. 1176).

Mengenai hadis di atas, Imam Ahmad mengatakan bahwa maksud dari riwayat Aisyah adalah bahwa Nabi Muhammad SAW tidak berpuasa penuh selama 9 hari dibulan Dzulhijjah bukan tidak berpuasa sama sekali selama 9 hari.

Intinya, kita sebagai umat muslim diperbolehkan untuk melaksanakan puasa Dzulhijjah, baik secara penuh selama 9 hari atau sebagiannya saja. Tetapi, ada anjuran untuk jangan meninggalkan puasa pada hari Arafah, karena puasa Arafah akan membuat dosa kita terhapus. Berikut dalilnya:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ

Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162).

Amalan-Amalan yang Bisa Dikerjakan Pada Awal Bulan Dzulhijjah

Ada beberapa amalan selain puasa, yang bisa kita kerjakan untuk memanfaatkan waktu istimewa di bulan Dzulhijjah. Tentu sebagai orang yang beriman, kita tidak akan mau melewatkan kesempatan mendapatkan pahala lebih banyak. Sehingga, ada baiknya kita mengerjakan amalan-amalan di bawah ini.

1. Memperbanyak Dzikir

2. Puasa  Pada Hari Arafah

3. Tilawah Al-Qur’an

4. Memperbanyak Sedekah

5. Berkurban Bagi yang Mampu

6. Haji Bagi yang Mampu

Bacaan Niat Puasa di Bulan Dzulhijjah

Puasa Dzulhijjah

Sobat Cahaya Islam agar puasa kita menjadi lebih berkah dan sempurna.  Kita harus mulai dengan mengucapkan niat. Seperti halnya puasa lainnya, niat puasa bulan Dzulhijjah harus dibaca di malam hari. Berikut ini adalah bacaan niat puasa -puasa pada bulan Dzulhijjah.

Niat Puasa Al-Zahlajah tanggal 1-7

نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ ذِيْ الْحِجَّةِ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Artinya:

“Saya niat puasa sunnah bulan Dzulhijjah karena Allah ta’âlâ.”

Niat Puasa bulan Dzulhijjah pada Tanggal 8 (Hari Tarwiah) Dzulhijjah.

نَوَيْتُ صَوْمَ تَرْوِيَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى 

Artinya:

“Saya niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah ta’âlâ.”

Niat puasa bulan Dzulhijjah pada tanggal 9 (Hari Arafah) Dzulhijjah.

نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى 

Artinya:

“Saya niat puasa sunnah Arafah karena Allah ta’âlâ.”

Sobat Cahaya Islam, setelah mengetahui hukum dan niat puasa Dzulhijjah, mari kita mulai mengamalkannya dengan semata-mata mengharap ridho Allah SWT. Agar kita menjadi bagian dari orang-orang yang beriman.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY