Benarkah Ganjar Pranowo Ingin Jadi Pemimpin?

0
36
ganjar pranowo

Ganjar Pranowo – Ganjar Pranowo dikabarkan tengah mendapatkan teguran dari PDIP. Fakta ini dibeberkan di media lantaran beliau seakan – akan secara getol mengumpulkan pendukung guna nyapres di tahun 2024. Tentu, jika banyak pendukung maka elektabilitasnya akan naik. Padahal, PDIP belum mengkonfirmasi siapa yang akan dijadikan kader calon presiden di tahun tersebut.

Sobat cahaya Islam, pemilihan seorang pemimpin adalah hal yang paling krusial. Mungkin karena faktor inilah akhirnya Bapak Ganjar Pranowo berusaha untuk melayakkan diri menjadi seorang pemimpin. Sebab jika kepemimpinan tidak dikaji dengan mendetail, maka yang terjadi yakni kehancuran pada bangsa.

Bagaimana Umat Menyikapi Sikap Ganjar Pranowo?

ganjar pranowo

Bagi umat Islam, melayakkan diri menjadi seorang pemimpin adalah sebuah keharusan. Hal ini adalah kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT kepada seluruh umat muslim. Kewajiban ini tidak dimaknai sebagai pemimpin di kalangan pemerintahan saja, namun menjadi pemimpin bagi diri sendiri juga merupakan hal yang harus dilaksanakan.

Terkait dengan isu Bapak Ganjar yang beredar, hal itu sah saja bila dilakukan jika memang terdapat niatan untuk melayakkan diri menjadi pemimpin ideal bagi umat. Namun, akan menjadi sebuah kekecewaan bagi umat bila hal tersebut hanya digunakan untuk pencitraan belaka supaya elektabilitas meningkat.

Selain itu, umat pun seharusnya perlu lebih mengkaji politik supaya tidak salah dalam memilih kandidat pemimpin. Sudah cukup umat dibodohi dengan berbagai tipu daya para politikus hanya untuk mendapatkan kursi pemerintahan.

Fenomena seperti kasus bapak Ganjar sebenarnya sudah diterapkan oleh beberapa politikus sebelumnya. Tentu banyak yang pro kontra. Sebagian yang kontra beranggapan bahwa eksistensi politikus di media sosial maupun gemar melakukan kritik adalah hanya untuk mencari pencitraan belaka serta meraih dukungan publik. Semoga tidak dengan bapak Ganjar.

Bagaimana Umat Memastikan Pemimpin yang Ideal?

ganjar pranowo

Sobat Cahaya Islam, umat wajib untuk senantiasa menjadi muslim negarawan yang mengerti terkait kondisi pemerintahan di negara. Akan sangat disayangkan bila umat hanya berpangku tangan melihat kepemimpinan yang melahirkan berbagai kebijakan yang dzalim.

Padahal, sejatinya dalam Islam pemimpin setingkat negara adalah orang yang akan dimintai pertanggungjawaban akan semua kebijakan yang diputuskan terhadap negara. Oleh sebab itu, masyarakat perlu memastikan kriteria pemimpin yang ideal sesuai Islam. Beberapa kriteria diantaranya adalah :

1. Ahli di Bidangnya

Kriteria pertama yang pertama perlu dimilik yakni pemimpin harus ahli di bidangnya. Sebab pemimpin harus mengurusi banyak hal. Akan sangat berbahaya bila seorang pemimpin tak memiliki kecakapan di bidangnya. Walaupun banyak menteri yang ikut membantu, namun tetap saja pemimpin harus lebih memahami apa yang seharusnya dilakukan. Umat akan sangat dirugikan bila pemimpin tak sesuai dengan bidangnya.

يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْىٌ وَنَدَامَةٌ إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ فِيهَا

“Wahai Abu Dzarr, sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah. Dan kekuasaan itu adalah amanah, dan kekuasaan tersebut pada hari kiamat menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mendapatkan kekuasaan tersebut dengan haknya dan melaksanakan kewajibannya pada kekuasaannya itu.” (HR. Muslim no. 1825).

2. Memahami Strategi Militer

Selain ahli, pemimpin juga harus ahli dalam menyusun strategi militer. Walaupun sebenarnya hal ini bukanlah sesuatu yang wajib, namun militer memegang peranan besar dalam hal keamanan negara. Sehingga, pemimpin harus cakap dan memiliki pengetahuan yang luas di bidang militer.

Nah Sobat Cahaya Islam, itulah ulasan mengenai pandangan Islam terhadap isu Ganjar Pranowo yang dinilai hanya untuk meningkatkan elektabilitas. Semoga umat dapat lebih memahami secara luas makna seorang pemimpin dan strategi dalam memilih agar tidak kembali terjerumus pada tipu daya di masa pencitraan saja.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY