Generasi Sandwich dalam Pandangan Islam?

0
68
Generasi Sandwich dalam Pandangan Islam

Generasi Sandwich – Sobat cahayaislam ada yang familiar dengan istilah ini nggak? Istilah ini cukup populer lho dikalangan pemerhati parenting dan praktisi psikologi. Konon menurut statistik, generasi kita (kebanyakan generasi milenial) yang sudah sampai pada level menikah dan memiliki anak istri untuk dinafkai dikatakan sebagai orang yang terjebak sebagai generasi sandwich.

Apa sih Generasi Sandwich itu?

Sobat cahayaislam tahu kan wujud dari roti sandwich. Roti lapis ini merupakan makanan yang cukup terkenal di negara barat dan di Indonesia sendiri, makanan ini sering kali dijumpai di tempat tempat makan yang cukup berkelas.

Makanan ini berupa tumpukan roti tawar, irisan selada dan tomat, keju lembaran, sliced meat atau bisa juga diganti telur dadar yang biasanya berada ditengah – tengah tumpukan itu. Nah, kita diibaratkan daging atau telur dadar yang ada di tengahnya. Kita terhimpit antara tumpukan roti tawar dan iris irisan sayur dan keju.

Sedangkan irisan sayur, roti tawar dan keju di bagian atas diibaratkan sebagai orang tua kita dan bagian bawah menggambarkan keluarga kita sendiri (anak dan istri). Jadi secara singkat penjelasannya generasi sandwich adalah orang yang dilema dalam hal finansial karena dia terjebak antara harus menafkahi keluarganya atau orang tuanya.

Pandangan Islam: Menafkahi Keluarga berbuah Pahala!

Dalam kehidupan islam cukup sederhana, hal hal yang terkait usaha kita untuk berbuat kebaikan sekecil apapun memiliki buah pahala dari Allah. Dalam hal ini kita bisa tengok sejenak satu hadits riwayat bukhori (No. 56) dalam kitabul iman yang mencakup nafkah keluarga.

حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ حَدَّثَنِي عَامِرُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ “إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فَمِ امْرَأَتِكَ

Sungguh tiada engkau infak untuk harapan pada wajah Allah (Ridho Allah) kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran yang mulia, termasuk makanan yang engkau berikan kepada istrimu.

Bagaimana dengan Menafkahi Orang tua kita?

Memang sih dalam hadits itu tertera dengan jelas bahwa yang disebutkan adalah istri. Namun banyak ahli tafsir dan alim ulama mengutarakan bahwa hal ini lebih luas karena dikaitkan dengan hadits lain yang mencakup keluarga lain seperti orang tua.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمِنْهَالِ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ، حَدَّثَنَا حَبِيبٌ الْمُعَلِّمُ، عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، أَنَّ رَجُلاً، أَتَى النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي مَالاً وَوَلَدًا وَإِنَّ وَالِدِي يَجْتَاحُ مَالِي ‏.‏ قَالَ ‏ “‏ أَنْتَ وَمَالُكَ لِوَالِدِكَ إِنَّ أَوْلاَدَكُمْ مِنْ أَطْيَبِ كَسْبِكُمْ فَكُلُوا مِنْ كَسْبِ أَوْلاَدِكُمْ

Dalam hadits riwayat Abu Dawud (3530) diatas dijelaskan bahwa orang tua boleh memakan hasil dari anak anaknya, karena anak mereka adalah usaha terbaik dari orang tua. Tapi tunggu dulu, ada hadits lain pula yang memberikan penjelasan lebih detail.

Orang tua boleh menikmati rezeki anaknya, namun HANYA SECUKUPNYA

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ، أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ ـ رضى الله عنها ـ أَنَّ هِنْدَ، قَالَتْ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ، فَأَحْتَاجُ أَنْ آخُذَ مِنْ مَالِهِ‏.‏ قَالَ ‏ “‏ خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ

Hal ini tertera dalam hadits Bukhari 7180 yang menyatakan bahwa ada parameter sampai mana orang tua bisa turut serta menikmati harta anaknya. Yakni Secukupnya.

Menjadi orang tua yang bertanggung-jawab dan mengerti bagaimana keadaan anaknya dan rumah tangganya adalah sebuah hal bijak. Seperti ungkapan Generasi Sandwich yang muncul ini, kemungkinan besar bahwa ada di luar sana orang tua yang kurang bisa memahami itu. Mungkin anak hanya berusaha yang terbaik untuk birulwalidain namun bukan berarti juga sebagai orang tua bisa seenaknya bukan? Semoga bermanfaat ya!

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!