Hubungan Antara Larangan Rasulullah Tentang Memuji dan Keikhlasan

0
1396
Hubungan Antara Larangan Rasulullah Tentang Memuji dan Keikhlasan

Kajian islam – Memang sih memuji seseorang atas kebaikannya terdengar seolah seperti sesuatu yang baik. Namun, tahu nggak sih sobat cahayaislam bahwa memuji seseorang itu dilarang oleh Rasulullah SAW. Pada kesempatan kali ini kami akan mencoba mengulas tentang Hubungan Antara Larangan Rasulullah Tentang Memuji dan Keikhlasan.

Hubungan Antara Larangan Rasulullah Tentang Memuji dan Keikhlasan

Beberapa waktu yang lalu dalam sebuah percakapan grup chat ada salah satu anggota yang tiba-tiba mempostingkan satu gambar sebuah pernak-pernik. Dia menyatakan bahwa dia tadi pagi telah membelinya dari seorang tua yang berjualan dipinggir jalan untuk membantunya. Melihat chat tersebut, beberapa orang mulai memuji kebaikannya. Ada beberapa orang pula menasihati agar hal-hal seperti ini tidak disebarkan karena bahaya riya’. Ada beberapa pula yang mencemooh bahwa orang tersebut hanya ingin dipuji dan lain sebagainya.

Memuji orang lain sama seperti melangkahi Allah dan menyembelih orang yang dipuji

Maha suci Allah atas segala yang dimiliki-Nya. Kesucian dan keagungan Allah lah yang paling pantas dipuji, bukan orang lain. Dengan memuji secara asal-asalan tanpa mempertimbangkan outcome-nya, anda akan dianggap melangkahi Allah. Disisi lain dalam satu hadits Bukhori 6061 dijelaskan pula bahwa memuji seseorang sama halnya seperti menyembelih orang tersebut.

حَدَّثَنَا آدَمُ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ خَالِدٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ رَجُلاً، ذُكِرَ عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَثْنَى عَلَيْهِ رَجُلٌ خَيْرًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ وَيْحَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ ـ يَقُولُهُ مِرَارًا ـ إِنْ كَانَ أَحَدُكُمْ مَادِحًا لاَ مَحَالَةَ فَلْيَقُلْ أَحْسِبُ كَذَا وَكَذَا‏.‏ إِنْ كَانَ يُرَى أَنَّهُ كَذَلِكَ، وَحَسِيبُهُ اللَّهُ، وَلاَ يُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا ‏”‏‏.‏ قَالَ وُهَيْبٌ عَنْ خَالِدٍ ‏”‏ وَيْلَكَ

Dikisahkan Abu Bakra: Seorang pria disebutkan sebelum Nabi (ﷺ) dan pria lain sangat memujinya. Nabi (ﷺ) berkata, “Semoga rahmat Allah atas Anda! Anda telah memotong leher teman Anda.” Nabi (ﷺ) mengulangi kalimat ini berkali-kali dan berkata, “Jika sangat diperlukan bagi siapa pun di antara Anda untuk memuji seseorang, maka dia harus berkata, ‘Saya pikir dia ini ini dan itu,” jika dia benar-benar berpikir bahwa dia seperti. Allah adalah Yang akan mengambil tanggung jawabnya (karena Dia tahu realitasnya) dan tidak ada yang bisa menyucikan siapa pun di hadapan Allah. “(Khalid berkata,” Celaka bagimu, “alih-alih” Rahmat Allah atasmu. “) [1]

Dalam penjelasan hadits tersebut dituturkan oleh Rasulullah bahwa dengan memuji orang lain, maka seseorang telah menyembelih orang yang di puji. Disitu pula dijelaskan bahwa tidak ada seorangpun yang boleh dipuji selain Allah. Pertanyaannya adalah kenapa memuji seseorang sama halnya digambarkan seperti menyembelih orang tersebut?

Pujian bisa menjerumuskan pada sikap takabur, salah niat, dan ketidak ikhlasan

Larangan Rasulullah SAW atas memuji seseorang tidaklah kata-kata kosong yang tanpa alasan. Banyak para alim ulama menjelaskan bahwa larangan tersebut merupakan satu inisiatif baik untuk menghalau sikap takabur, salah niat dan ketidak-ikhlasan seseorang. Rasulullah khawatir bahwa ketika seseorang telah dipuji.

Maka dia akan merasa sombong. Karena pujian itulah kemudian dia melakukan sesuatu hal baik lainnya dengan “pengharapan” mendapatkan pujian yang lain (Salah niat). Alih-alih melakukan kebaikan dengan niat mencari ridho Allah, orang tersebut hanya akan berbuat kebaikan karena ingin dipuji.

Inilah yang kami maksud sebagai hubungan antara larangan memuji yang diberikan oleh Rasulullah dengan keikhlasan seseorang. Seseorang kemungkinan akan menjadi ‘gila pujian’ dan melakukan suatu kebaikan tanpa rasa ikhlas yang sesungguhnya. Orang tersebut merupakan orang yang merugi.

Tips agar tidak menjadi orang yang gila pujian

Setidaknya ada 3 tips yang bisa sobat cahayaislam lakukan agar tidak menjadi orang yang gila dengan pujian. Tips pertama adalah mengacuhkan segala macam pujian (termasuk cemooh dan hinaan) agar anda tidak terhasut akan hal itu. Jangan terima dan masukkan pujian-pujian itu dalam sanubari anda, karena syetan akan ikut masuk pula kedalamnya.

Jangan membiasakan mengungkit-ungkit kebaikan kita. Salah satu indikasi lain bahwa kita sudah terjangkit penyakit gila pujian adalah kita sering mengungkit kebaikan-kebaikan yang telah kita lakukan. Ini sangat berbahaya! Hindari hal seperti ini pokoknya. Adapun tips ketiga adalah dengan selalu menata niat kita agar selalu mukhlis lillah karena Allah. Katakan pada diri anda “cukuplah Allah saja yang memuji diriku” lagi dan lagi. Dengan begitu insha Allah anda akan terhindar dari sifat gila pujian. Semoga bermanfaat ya!


Catatan Kaki

[1] H.R. Shahih Bukhori no. 6061

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY