Dendam Menyiksa Diri Sendiri

0
524
Muslim rebel with automatic rifle and machine-gun belt

Sebagai manusia biasa terkadang ada rasa marah, benci, kecewa yang timbul dihati karena ketidaksukaan kita terhadap sesuatu atau seseorang yang melakukannya. Sakit hati karena perlakuan orang yang buruk kepada kita, kadang tidak kita sadari telah menjadi dendam di dalam hati. Kebencian kita terhadap orang tersebut sangat besar sehingga begitu sulit untuk kita maafkan. Setiap kesalahannya membekas didalam hati, yang berubah menjadi duri sehingga setiap melihat orang tersebut kita dengan seketika langsung menggerutu atau menyumpahinya. Sahabat cahaya Islam, dendam adalah satu perkara yang tidak membawa kebaikan baik bagi diri maupun bagi orang lain. Jika kita memelihara dendam sama halnya kita menyimpan duri didalam hati kita, yang sejatinya itu tidak sehat bagi hati kita karena dendam dapat menyiksa diri sendiri. Ibarat duri yang masuk ke kaki, rasanya akan sakit setiap kali kita berjalan, sehingga kita pasti memutuskan untuk mengeluarkannya bagaimanpun caranya, begitupun seharusnya dengan dendam, kita harus mengeluarkannya agar hati kita tidak sakit tapi kebanyakan dari kita hanya mengikuti amarahnya saja yang tidak memikirkan dampak buruk dari dendam.

Dendam Menyiksa Diri Sendiri

Dendam yang berujung pada tindakan (balas dendam) maka akan berujung pada permusuhan yang tiada ujungnya, saling membalas, mencari sekutu, membuka aibnya, dan mengejeknya. Dendam bila telah menjadi konflik terbuka maka akan semakin sulit untuk mencari jalan keluarnya karena masing-masing pasti merasa benar. Hati yang penuh amarah maka semakin mudah dihasut syaithan untuk berbuat hal-hal yang tercela, nasehat pun tak masuk ke logika lagi karena tertutup oleh kebencian. Dendam akan berujung petaka, maka dari itu Islam sangat memperhatikan perkara ini. Sahabat cahaya Islam, sebagai Muslim yang baik, kita harus tahu bahwa perkara dendam adalah perkara serius yang bahkan dapat memakan korban. Islam tidak menginginkan umatnya menjadi pendendam, walaupun terhadap orang kafir.

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Allah berfirman, “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.”( QS.Al Araf: 199)

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Allah berfirman, “Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali ‘Imran: 134)

Lawan dari dendam adalah memaafkan, walau terkadang berat untuk memaafkan tapi demi kebaikan bersama kita harus melakukannya, meredam amarah, mengenyampikan ego, dan berlapang dada terlepas siapa yang benar dan siapa yang salah. Rasulullah salallahu alaihi wassalam adalah teladan kita yang sudah sepatutnya kita contoh, beliau mengalami masa-masa sulit yang bahkan jauh dari apa yang kita alami, dicaci, dimaki, dilempar, dimusuhi, bahkan ditinggalkan, tapi tak sekalipun beliau dendam kepada mereka.

‘Aisyah Radhiyallahu anhuma bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai, Rasulullah! Pernahkah engkau melewati suatu hari yang lebih berat dari peperangan Uhud?”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Aku telah mengalami gangguan dari kaum-mu. Peristiwa yang paling berat kulalui adalah pada hari ‘Aqabah. Aku mendatangi Ibnu ‘Abdil-Lail bin Abdi Kilal, namun ia tidak menyambutku. Aku bergegas pergi dalam keadaan sedih bukan kepalang. Aku baru menyadari ketika telah sampai di daerah Qarnuts-Tsa’âlib. Aku angkat kepalaku, dan tiba-tiba terlihat awan yang menaungiku. Aku amati, dan muncullah Jibril seraya berseru,’Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mendengar perkataan dan penolakan kaummu. Dia Subhanahu wa Ta’ala telah mengutus malaikat penjaga gunung untuk siap engkau perintah’. Malaikat penunggu gunung pun memanggil dan mengucapkan salam kepadaku, seraya berseru: “Wahai, Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar penolakan kaummu. Dan aku penjaga gunung mendapat titah untuk menerima perintahmu sesuai dengan kehendakmu. Jika engkau mau, maka aku akan benturkan dua gunung ini di atas mereka”.

(Mendengar seruan malaikat ini), beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam justru berkata:

“Sesungguhnya aku berharap Allah akan mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang beribadah kepada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan apapun.” [HR Muslim no. 4629].

Sungguh mulia akhlak baginda Rasulullah SAW. Sahabat cahaya Islam, siapa diri ini yang tak memiliki keistimewaan apa-apa dibanding Rasulullah, sudah sepatutnya kita mencontoh beliau agar kita selamat dunia dan akhirat. Semoga kita tidak termasuk orang pendendam, sesungguhnya memaafkan adalah sifat yang terpuji.

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!