Contoh Syar’u Man Qablana Berdasarkan Macam-macamnya

0
47
contoh syar'u man qablana

Contoh syar’u man qablana – Bagi sebagian orang, istilah syar’u man qablana masih cukup asing, apalagi contoh syar’u man qablana itu sendiri. Karena bisa digunakan untuk mengetahui sebuah hukum agama, maka penting mencari tahu berbagai informasi penting mengenai hal tersebut.

Secara istilah, ulama mendefinisikan syar’u man qablana sebagai hukum-hukum yang Allah SWT disyariatkan kepada umat para nabi sebelum Nabi Muhammad SAW. Seperti halnya syariat Nabi Ibrahim, Nabi Isa, dan Nabi Musa.

Ini Dia Contoh Syar’u Man Qablana berdasarkan Macam-macamnya

Berdasarkan macam-macamnya, syar’u man qablana dibedakan menjadi beberapa, termasuk yang masih berlaku dan tidak. Berikut pembahasan lengkapnya:

1. Syar’u Man Qablana yang Masih Berlaku

Terdapat syar’u man qablana yang disebutkan dalam Al-Quran dan Al-Hadits dengan status hukum tersebut masih berlaku sekaligus digunakan hingga saat ini. Contohnya yaitu sebagai berikut:

  • Diharamkannya daging babi
  • Menyembelih binatang qurban
  • Kewajiban melaksanakan puasa, yaitu puasa Ramadhan
  • Hukuman qishash dalam pembunuhan

2. Syar’u Man Qablana yang Tidak Berlaku

Meski disebut dalam Al-Quran maupun Al-Hadits, tetapi ada syar’u man qablana yang kemudian dihapus oleh syariat Nabi Muhammad SAW, misalnya:

Bagi kaum Yahudi, Allah SWT mengharamkan seluruh binatang berkuku, domba, dan lemak sapi, kecuali yang melekat di punggung, dalam isi perutnya, atau yang bercampur dengan tulang. Dalilnya sebagai berikut:

وَعَلَى ٱلَّذِينَ هَادُوا۟ حَرَّمْنَا كُلَّ ذِى ظُفُرٍ ۖ وَمِنَ ٱلْبَقَرِ وَٱلْغَنَمِ حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ شُحُومَهُمَآ إِلَّا مَا حَمَلَتْ ظُهُورُهُمَآ أَوِ ٱلْحَوَايَآ أَوْ مَا ٱخْتَلَطَ بِعَظْمٍ ۚ ذَٰلِكَ جَزَيْنَٰهُم بِبَغْيِهِمْ ۖ وَإِنَّا لَصَٰدِقُونَ

Lafadz latin: Wa ‘alallażīna hādụ ḥarramnā kulla żī ẓufur, wa minal-baqari wal-ganami ḥarramnā ‘alaihim syuḥụmahumā illā mā ḥamalat ẓuhụruhumā awil-ḥawāyā au makhtalaṭa bi’aẓm, żālika jazaināhum bibagyihim, wa innā laṣādiqụn

Terjemah: “Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan segala binatang yang berkuku dan dari sapi dan domba, Kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, selain lemak yang melekat di punggung keduanya atau yang di perut besar dan usus atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka; dan sesungguhnya Kami adalah Maha Benar.” (QS. Al-An’am 146)

Dalam ayat di atas, diterangkan apa-apa yang diharamkan untuk kaum Yahudi. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi umat nabi Muhammad berdasarkan ayat berikut:

قُل لَّآ أَجِدُ فِى مَآ أُوحِىَ إِلَىَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٍ يَطْعَمُهُۥٓ إِلَّآ أَن يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَّسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنزِيرٍ فَإِنَّهُۥ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ ٱللَّهِ بِهِۦ ۚ فَمَنِ ٱضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Lafadz latin: Qul lā ajidu fī mā ụḥiya ilayya muḥarraman ‘alā ṭā’imiy yaṭ’amuhū illā ay yakụna maitatan au damam masfụḥan au laḥma khinzīrin fa innahụ rijsun au fisqan uhilla ligairillāhi bih, fa maniḍṭurra gaira bāgiw wa lā ‘ādin fa inna rabbaka gafụrur raḥīm

Terjemah: Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi — karena sesungguhnya semua itu kotor — atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-An’am:145)

contoh syar'u man qablana

3. Syar’u Man Qablana yang Tidak Diketahui Masih Berlaku atau Tidak

Salah satu contoh dari Syar’u Man Qablana ini adalah mahar Nabi Musa AS saat menikah dengan putri Nabi Syu’aib yaitu berupa bekerja padanya selama beberapa tahun. Dalilnya ada dalam QS. Al-Qashash ayat 27 yang tidak diketahui apakah masih berlaku atau tidak untuk umat Nabi Muhammad SAW. Ayatnya sendiri berbunyi:

قَالَ إِنِّىٓ أُرِيدُ أَنْ أُنكِحَكَ إِحْدَى ٱبْنَتَىَّ هَٰتَيْنِ عَلَىٰٓ أَن تَأْجُرَنِى ثَمَٰنِىَ حِجَجٍ ۖ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِندِكَ ۖ وَمَآ أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ ۚ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ

Lafadz latin: Qāla innī urīdu an ungkiḥaka iḥdabnatayya hātaini ‘alā an ta`juranī ṡamāniya ḥijaj, fa in atmamta ‘asyran fa min ‘indik, wa mā urīdu an asyuqqa ‘alaīk, satajidunī in syā`allāhu minaṣ-ṣāliḥīn

Terjemah: Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik”.

Agar lebih paham dengan contoh syar’u man qablana atau ingin mendalami macam-macam hukumnya, akan lebih baik jika langsung menemui guru yang ahli dalam bidang terkait.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY