Ceramah Agama tentang Baper: Jadi Orang Beriman Jangan Mudah Baperan!

0
717
Ceramah Agama tentang Baper - Jadi Orang Beriman Jangan Mudah Baperan

Ceramah Agama tentang Baper Baperan atau menjadi terlalu emosional dalam situasi tertentu bukanlah sesuatu yang mutlak tidak boleh bagi seseorang yang islam yan beriman. Seperti halnya manusia lainnya, orang yang beriman juga memiliki emosi dan dapat merasakan berbagai perasaan, termasuk kekecewaan, kesedihan, atau marah.

Namun demikian, sifat baperan tidak boleh menjadi karakter yang dominan dalam diri seorang muslim. Karena pada dasarnya kecerdasan Emosional yang baik tentu dicontohkan pula dalam ajaran islam.

Ceramah Agama tentang Baper: Islam Mengajarkan Pengendalian Emosi Umatnya

Dalam hal ini, termaktub pada ajaran agama Islam, terdapat penekanan pada pentingnya mengendalikan emosi dan menjaga keseimbangan dalam berbagai situasi. Agama mengajarkan agar individu tidak terjebak dalam emosi yang berlebihan atau berlebihan dalam merespons suatu kejadian. Dalam Al-Qur’an, Allah menyebut orang-orang yang dapat mengendalikan amarah mereka sebagai orang-orang yang beriman yang bertakwa.

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Harus diingat, bahwa Allah sendiri dalam Surat Al Imran 134 diatas menjelaskan. Bahwa Mereka yang termasuk orang bertaqwa dan melaksanakan kebajikan adalah mereka yang bisa menahan amarah.

Kendatipun demikian, Ini tidak berarti bahwa orang yang beriman tidak boleh merasakan emosi atau menunjukkan perasaannya ya sobat. Sebagai manusia, kita memiliki emosi alami yang perlu diungkapkan dengan cara yang tepat dan sehat. Nah itu dia kuncinya: Tepat dan Sehat. Tidak berlebihan.

Namun, sebagai seorang yang beriman, penting untuk mengelola emosi dengan bijaksana, tidak melampiaskannya secara berlebihan, atau bertindak dengan cara yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama.

Cara Mengendalikan Emosi Agar tidak Gampang Baper

Dalam praktiknya, individu yang beriman biasanya berusaha untuk menjaga ketenangan pikiran dan hati mereka melalui ibadah, introspeksi, dan refleksi. Mereka mungkin mencari bantuan dari Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad SAW sebagai sumber petunjuk dan ketenangan. Selain itu, juga penting untuk berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki pengaruh positif dan dapat memberikan nasehat yang baik.

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا أَبُو شِهَابٍ عَبْدُ رَبِّهِ، عَنْ يُونُسَ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ‏:‏ مَا مِنْ جَرْعَةٍ أَعْظَمَ عِنْدَ اللهِ أَجْرًا مِنْ جَرْعَةِ غَيْظٍ كَظَمَهَا عَبْدٌ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ‏.‏

Selain itu, dalam kitab Al Adab Al Mufrad diatas, kita mengetahui pula bahwa tiada menelan yang lebih baik dilakukan oleh seorang hamba, kecuali untuk mencari RidhoNya. Dalam hadits ini dijelaskan, satu trik sederhana ketika emosi hendak meledak: DIAM Sejenak + Istighfar, daripada kebablasan marah marah dan emosi. Itu lebih baik.

***

Singkatnya, seseorang yang beriman tidak dilarang untuk merasakan emosi atau terpengaruh oleh situasi tertentu. Namun, mereka diharapkan untuk mengendalikan emosi mereka dengan bijaksana, menjaga keseimbangan, dan mengarahkannya sesuai dengan nilai-nilai agama yang mereka anut.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY