6 Batasan Bercanda Menurut Ajaran Agama Islam

0
442
Batasan Bercanda

Batasan Bercanda – Bercanda atau sebut saja, bergurau, merupakan suatu keadaan yang mana seseorang mengajak untuk tertawa dalam berbagai hal.

Di dalam Islam, ada batasan bercanda yang mungkin tidak banyak orang yang tahu.

Secara umum, manusia memang membutuhkan waktu sejenak untuk bercanda dengan orang lain agar penat dalam hidup menjadi berkurang.

Atau bisa juga digunakan untuk melupakan beberapa beban hidup, baik itu masalah pekerjaan atau secara pribadi.

Banyak manfaat yang bisa diperoleh dari bercanda, mulai dari mendekatkan hati antar sesama. Bahkan dianggap mampu menciptakan kehangatan di tengah dinginnya sebuah keadaan yang kaku.

Hanya saja, sering kali gurauan yang terlewat batas justru keluar dari aturan dan bisa mendatangkan berbagai masalah.

Mulai dari membuat orang lain marah lantaran tersinggung dengan candaan yang dibuat. Sehingga terjadinya permusuhan karena suatu kesalah pahaman yang berawal dari kalimat gurau.

Nah, Sobat Cahaya Islam, sudah sepatutnya kita mengetahui apa saja Batasan dalam bercanda sebagaimana diajarkan oleh agama Islam. Demikian ulasannya.

Batasan Bercanda Menurut Ajaran Agama Islam

Berikut ini adalah beberapa batasan yang harus kita patuhi saat bercanda dengan orang lain. Apa saja?

1.      Dilarang Mengolok-olok Agama

Batasan Bercanda

Yang pertama, mengolok-olok. Di mana hal tersebut jika dilakukan pada orang lain saja dilarang apalagi jika yang dihina adalah perkara agama.

Sebab, agama bukanlah permasalahan yang boleh dipermainkan, terlebih lagi dbuat candaan.

Fatalnya lagi, mengolok-olok agama bisa menjadi sebab seseorang menjadi dianggap keluar dari Islam. Sebagaimana dalam firman Allah SWT dalam QS. At-Taubah ayat 66 yang berbunyi:

لَا تَعْتَذِرُوْا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ اِيْمَانِكُمْ ۗ اِنْ نَّعْفُ عَنْ طَاۤىِٕفَةٍ مِّنْكُمْ نُعَذِّبْ طَاۤىِٕفَةً ۢ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا مُجْرِمِيْنَ ࣖ

“Tidak perlu kamu meminta maaf, karena kamu telah kafir setelah beriman. Jika Kami memaafkan sebagian dari kamu (karena telah tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang (selalu) berbuat dosa.”

2.      Dilarang Berdusta

Selanjutnya, dalam bercanda juga dilarang berdusta. Rasulullah SAW sendiri mendoakan mereka celaka yakni yang melakukan dusta hanya agar mendapatkan tawa dari orang lain.

3.      Dilarang Membahayakan Pihak Lain

Bercanda yang bisa membahayakan orang lain juga dilarang. Seperti mengancam, menakut-nakuti, hingga melukai.

Yang demikian itu pula, justru bisa membuat orang lain merasa frustasi dan trauma sehingga kesehatan pada mentalnya pun bisa saja terganggu.

4.      Dilarang Menjadikan Kebiasaan

Batasan Bercanda

Perlu di garis bawahi, tidak semua hal bisa kita anggap sebagai bahan candaan.

Ada masa dan tempatnya di mana bisa dibuat bercanda atau harus serius.

Oleh sebab itu, kita harus bijak dalam menggunakan candaan yang fungsinya hanya sebagai pemanis dalam hubungan antar sesama.

5.      Harus Menyesuaikan Orangnya

Bercanda juga harus melihat terlebih dahulu siapa yang diajak. Kita tidak boleh sembarangan dengan orang yang kemungkinan tidak menyuka candaan kita.

Disarankan bercanda dengan teman yang memang sudah akrab, saudara, atau anggota keluarga yang sudah mengetahui karakter kita bagaimana.

Dikhawatirkan, jika salah orang justru bisa menganggap candaan kita sebagai hinaan.

6.      Dilarang Bercanda dalam Kemaksiatan

Bercanda itu diperbolehkan asal bukan dalam hal maksiat: seperti body shamming, menghina, merendahkan, membandingkan kelebihan dan kekurangan orang lan atau lain sebagainya.

Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Hujurat ayat 11 yang berbunyi:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

Demikian di atas adalah ulasan mengenai batasan bercanda berdasarkan ajaran agama Islam. Semoga artikel ini bermanfaat.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY