Sejarah Maulid Nabi Singkat yang Penuh dengan Hikmah

0
1239
Sejarah Maulid Nabi

Sejarah Maulid Nabi – Sebagai umat Islam tentu sudah tidak asing lagi dengan peringatan Maulid Nabi. Hanya saja masih banyak yang belum mengetahui Sejarah Maulid Nabi. Supaya bisa meningkatkan kecintaan, sebaiknya ketahui pembahasan tersebut terlebih dahulu.

Setiap satu tahun sekali, selalu diperingati Maulid Nabi tepatnya pada bulan Maulid. Pada masing-masing daerah di Indonesia memiliki kebiasaan berbeda. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri sehingga perayaan Maulid semakin meriah.

Tentang Sejarah Singkat Maulid Nabi

Pada tahun 2022 ini, peringatan Maulid Nabi Muhammad jatuh pada tanggal 8 Oktober. Semua umat muslim mengadakan acara sesuai dengan kebiasaan masing-masing daerah. Di balik perayaan tersebut, terdapat sejarah yang sebaiknya Sahabat Cahaya Islam ketahui.

Sejarah Maulid Nabi

Sesuai penyebutannya, Maulid Nabi merupakan peringatan kelahiran Nabi Muhammad. Bersumber dari riwayat Qatadah, Nabi Muhammad lahir pada hari Senin, 12 Rabiul Awal tahun Gajah yang bertepatan pada 570 Masehi.

Penjelasan lebih lanjut yang bersumber dari sebuah hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim, diterangkan bahwa kelahiran Nabi Muhammad bertepatan pada hari Senin, tanggal 12 Rabiul Awal. Berikut penjelasannya:

وُلِدَ رَسُولُ اللَّهِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ، لِاثْنَتَيْ عَشْرَةَ لَيْلَةً خَلَتْ مِنْ شَهْرِ رَبِيع الْأَوَّلِ، عَام الْفِيلِ

Artinya: “Rasulullah dilahirkan di hari Senin, tanggal dua belas di malam yang tenang pada bulan Rabiul Awal, Tahun Gajah.”

Pada bulan kelahiran nabi ini, umat Islam dianjurkan untuk bergembira. Maksud bergembira di sini adalah merayakannya dengan kegiatan positif sebagai wujud kegembiraan bahwa Nabi Muhammad telah dilahirkan di dunia dan membawa ajaran agama Islam.

Pembahasan mengenai hal ini termuat dalam QS. Yunus Ayat 58. Bunyi ayat sekaligus artinya yakni:

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ ٥٨

Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS Yunus: 58)

Pendapat Ulama Mengenai Perayaan Maulid

Setiap tahunnya umat Islam hampir di seluruh dunia selalu merayakan Maulid Nabi Muhammad tepatnya pada tanggal 12 Rabiul Awwal sesuai penanggalan Hijriah. Bentuk kegiatannya sendiri beragam, namun sebagian besar mengarah ke hal positif.

Umumnya masyarakat merayakan bulan kelahiran nabi ini dengan mengadakan syukuran baik dengan bersedekah makanan kepada sesama ataupun mengadakan acara seperti pengajian dan pembacaan kitab Al Barzanji.

Sejarah Maulid Nabi

Menyinggung mengenai hukum perayaan ini ada khilafiyah. Sahabat Cahaya Islam bisa mengambil riwayat paling diyakini. Adanya khilafiyah atau perbedaan ini sebaiknya tidak sampai menimbulkan perpecahan antar umat Islam.

Sebagian besar ulama berpendapat bahwa perayaan Maulid Nabi ini boleh dilakukan. Misalnya saja pendapat dari Imam Suyuthi dari kalangan ulama’ Asy Syafi’iyyah dan Ibnu Taimiyyah dari kalangan Madzhab Hambali, beliau menyebutkan bahwa:

هُوَ مِنَ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ الَّتِيْ يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيْهِ مِنْ تَعْظِيْمِ قَدْرِ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَإِظْهَارِ الْفَرَحِ وَالْاِسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ “

Artinya: “Perayaan maulid termasuk bid’ah yang baik, pelakunya mendapat pahala. Sebab di dalamnya terdapat sisi mengagungkan derajat Nabi Saw dan menampakkan kegembiraan dengan waktu dilahirkannya Rasulullah SAW.”

Diperbolehkannya memperingati kelahiran junjungan umat Islam ini, sebaiknya dijadikan sebagai momen berharga untuk meningkatkan kedekatan kepada Allah SWT dan juga Nabi Muhammad SAW.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY