Kisah Inspirasi Sahabat Rasulullah Zahid: Perkara Allah Adalah yang Paling Utama

0
1127

Kisah inspirasi sahabat Rasulullah zahid – Mungkin sobat Cahayaislam telah banyak mendengar kisah-kisah cinta yang ditekankan dalam beberapa cerita hidup para Sahabat Rasulullah, Salah-satunya adalah kisah cinta Sahabat Rasulullah Zahid dan Zulfah yang banyak dibicarakan sebagai kisah cinta teladan. Namun tim Cahayaislam tidak akan mengisahkan itu dari perspektif cinta. Kami akan menceritakan kisah tersebut untuk menginspirasi anda tentang perkara Allah adalah yang paling utama, bahkan mengalahkan hal yang membuat dunia ini indah, yaitu cinta.

Zahid dan kegemarannya berada di garis depan medan perang

Kisah inspirasi sahabat Rasulullah Zahid ini dimulai ketika Rasulullah melihat Zahid yang sedang mengasah pedangnya didistrik Suffah didekat Masjid Nabawi. Beliau adalah orang yang selalu siap membela islam dan sudah beberapa kali ikut andil dalam peperangan bersama Rasulullah. Pada saat itu usianya sekitar 34 Tahun dan belum memiliki pasangan hidup. Bartanyalah Rasulullah tentang kenapa Zahid belum juga berniat untuk menikah. Zahid menjawab dengan gugup “Saya adalah seorang yang tidak berwajah ganteng dan tidka memiliki pekerjaan tetap wahai Rasulullah, dengan itu semua lalu siapakah yang bersedia menjadi istriku?”

Mendengar hal itu, Rasulullah kemudian membantunya dengan memerintahkan juru tulis beliau untuk membuat surat lamaran atas nama Zahid untuk diberikan kepada Zahid ke kediaman Bangsawan Madinah bernama Said. Surat itu berisi lamaran Rasulullah kepada anak perempuan said yang bernama Zulfah. Singkat cerita, Said seorang bangsawan tersebut terkejut ketika membaca surat tersebut. Zulfah, anak perempuannya yang mendengar itu pula kemudian menangis dan berkata “Wahai ayahanda, banyak pemuda rupawan dan kaya yang menginginkanku, aku tidak mau menerimanya!” dengan menangis sejadi-jadinya.

Said kemudian berkata kepada Zahid agar dia menyampaikan permintaan maafnya kepada Rasulullah karena putrinya tidak mengindahkan permintaan beliau. Mendengar bahwa itu permintaan Rasulullah, Zulfah yang tadinya menangis kemudian istighfar, meminta maaf dan mengiyakan permintaan itu. Zulfah ingat pada firman Allah di Surat An Nuur ayat 51 yang berbunyi:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Mendengar jawaban tersebut berlarilah Zahid dengan riang gembira dan penuh kebahagiaan untuk menemui Rasulullah sambil terus memuji Allah SWT dalam perjalanannya. Sesampainya dikediaman Rasulullah, Zahid kemudian ditanya apakah dia sudah memiliki persiapan untuk menikah? Dengan menunduk malu Zahid berkata “Wahai utusan Allah, sesungguhnya aku adalah orang miskin yang tidak memiliki apa-apa” – Mendengar itu Rasulullah memerintahkan dirinya menemui 3 sahabat Rasulullah yakni Utsman, Abu Bakar, dan Abdurrahman bin Auf untuk meminta bantuan.

Keberangkatan Zahid untuk berperang meninggalkan bulan madunya

Setelah mendapatkan cukup uang untuk persiapan pernikahan, Zahid kemudian berencana pergi ke beberapa pasar dimadinah untuk membeli beberapa hal. Tepat pada saat itulah ada berita Ramai bahwa Rasulullah menyerukan ajakan berperang melawan kaum Musyrik dan banyak saudara islam telah bersiap untuk berperang. Melihat hal itu, Zahid kemudian tidak jadi membeli perlengkapan pernikahannya, namun menggunakannya untuk membeli kuda dan perlengkapan perang terbaik.

Para sahabat yang melihat Zahid kemudian berkata “Wahai Zahid! Apakah kau gila? Nanti malam adalah malam bulan madu pernikahanmu, dan engkau malah hendak pergi ke medan perang?” – mendengar perkataan para sahabat tersebut, Zahid menjawab dengan tegas “Itu tidak mungkin! Karena barang siapa yang mengalahkan cinta Allah dan Rasul dengan istri, anak, keluargamu maka akan mendapat siksa dari Allah!” (nukilan surat At Taubah 24).

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Setelah itu, berangkatlah Zahid untuk berperang demi mendapatkan cinta Allah dan Rasul hingga dia gugur dimedan perang. Dari kejadian itulah kemudian Rasulullah membacakan wahyu Allah surat Al-Imran 169 – 170). Dan mengatakan bahwa mungkin saat ini Zahid tidak bisa berbulan madu dengan Zulfah, namun sesungguhnya dia telah berbulan madu bersama bidadari-bidadari jelita di Surga sana. Mendengar ayat tersebut, menagislah para sahabat dengan tersedu-sedu.

Apa yang bisa dipetik dari Kisah inspirasi sahabat Rasulullah zahid ini?

Cerita tersebut memang mengajarkan cinta karena Allah, dimana cinta yang seharusnya adalah cinta yang tidak melupakan kewajiban kepada Allah dan Rasul. Prioritas beribadah kepada Allah masih menjadi hal yang utama (seperti yang telah kami ulas dalam artikel kami yang lain disini). Kisah inspirasi sahabat Rasulullah Zahid ini mengajarkan bahwa tidak ada perkara yang lebih utama daripada perkara Allah dan Rasul. Maka dari itu, marilah kita semua berusaha melakukan segala hal dengan niyat karena Allah dan mengedepankan apapun perkara yang berhubungan dengan Allah dan Rasul diatas semuanya.

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!