Puasa Mutih Menjelang Pernikahan, Bagaimana dalam Pandangan Islam?

0
212
Puasa Mutih

Puasa Mutih – Puasa Mutih menjadi perbincangan publik saat Aurel Hermansyah mengakui sedang menjalankannya sebagai ritual mempersiapkan pernikahannya. Pernikahan Aurel dan Atta Halilintar akan berlangsung pada 3 April mendatang.

Melalui Insta Story, sang Ibunda, Ashanty mengatakan Aurel tengah menjalankan Puasa Mutih. Puasa tersebut di lakukan di sinyalir agar pengantin perempuan tampak cerah dan cantik. Postingan itu pun mendapat beragam reaksi dari netizen.

Lantas apa itu puasa mutih? puasa tersebut merupakan puasa mengonsumsi makanan yang selain warna putih. Orang yang menjalankannya hanya memperbolehkan memakan nasi putih dan air putih saja. Nasi yang di makan pun tidak di perbolehkan menggunakan penyedap rasa seperti garam dan gula.

Mutih sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berati memutihkan. Orang yang menjalankannya di percaya untuk memutihkan hatinya, membersihkan jiwa dan mendapatkan keberkahan.

Bahkan ada pula yang melakukan puasa ini untuk mendapatkan ilmu ghaib. Atau berkaitan dengan hal-hal supranatural. Namun dalam kesehatan, mutih merupakan cara untuk mendetoks tubuh. Karena bisa mengurangi asupan lemak dan kadar gula dalam tubuh

Warna putih di filosofikan keberkahan. Biasanya puasa ini di lakukan saat bulan purnama. Namun ada juga yang menjalankannya saat menjelang hari pernikahan.

Puasa Mutih dan Pandangannya Dalam Islam

Agama Islam mengajarkan tentang puasa, yakni puasa wajib dan puasa sunnah. Jika puasa wajib kita lakukan pada saat Bulan Ramadhan, sedangkan puasa sunnah yang di jalankan di luar bulan Ramadhan.

Terkait hal ini, Islam hanya mengajarkan puasa tidak makan dan minum saat fajar. Kemudian saat matahari terbenam, puasa di batalkan dan di perbolehkan makan dan minum kembali.

Rasulullah SAW pun tidak pernah mengajarkan umatnya menjalankannya dengan cara mutih. Sehingga bisa dipastikan puasa tersebut bukanlah ajaran Islam.

Dalil tentang berpuasa terdapat dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 183.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai, orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Sehingga puasa mutih bukanlah dari ajaran islam, tidak termasuk rukun islam dan tidak bernilai pahala di mata Allah.

Alasan Mutih Bukan Syariat Islam

Mutih merupakan ritual yang seringkali segelintir orang lakukan dalam beberapa peristiwa. Namun mutih bukan bagian dari syariat islam, berikut perbedaanya;

1. Ritual Mutih Hakikatnya Berbeda Dengan Puasa Dalam Islam

Aturan mutih adalah tidak makan selain dari warna putih. Sementara puasa dalam islam adalah menahan haus dan lapar dari fajar hingga matahari terbenam atau magrib. Dalam islam juga puasa adalah menahan segala hawa nafsu dunawi seperti dorongan sexual.

Sementara mutih tidak ada keterangan tidak di perbolehkannya melakukan kegiatan sex. Dalam islam jika melakukan hal tersebut maka puasanya di anggap batal.

2. Tidak Ada Syariat Sunnah Dengan Cara Mutih

Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkan umatnya untuk melakukan puasa seperti ini untuk menjalankan ibadah. Puasa cara mutih juga tidak ada dalam Al Quran dan hadist Rasulullah.

3. Tidak Bernilai Ibadah

Puasa dengan cara seperti ini merupakan sebuah ritual yang seringkali di lakukan. Namun dalam islam cara tersebut bukan termasuk dalam ibadah.

Puasa dengan cara mutih bukan bersumber dari ajaran islam. Tujuannnya pun tidak sama sebagaimana dnegan ajaran puasa dalam islam.

4. Kejawen

Puasa dengan cara mutih merupakan kepercayaan terhadap aliran kejawen atau tradisi-tradisi tertentu. Biasanya tradisi tersebut berasal dari Jawa. Tujuannya biasanya untuk supranatural. Atau orang yang menjalankannya diberikan jiwa yang bersih, kuat seperti sinar putih rembulan.

Demikianlah perbedaan Puasa Mutih dengan puasa dalam ajaran Islam.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY