Ayah Vincent Rompies – Beberapa hari yang lalu, ayah Vincent Rompies Allah SWT takdirkan untuk meninggalkan dunia yang fana ini. Tentu, hal ini menjadi duka tersendiri bagi Vincent sekeluarga. Sosok sang ayah adalah orang terpenting dalam hidup.
Sobat Cahaya Islam, kematian ayah Vincent Rompies bisa saja terjadi pada umat lainnya. Sehingga akan meninggalkan luka yang mendalam bagi umat. Apalagi sosok sang ayah adalah orang terdekat dalam keluarga inti.
Bagaimana Umat Menanggapi Kematian Ayah Vincent Rompies?


Sobat Cahaya Islam, sudah selayaknya umat menganggap bahwa kematian ayah Vincent adalah ketetapan Allah SWT yang tak bisa diganggu gugat. Ada atau tidaknya suatu wabah, kepastian akan ajal tidak pernah maju maupun mundur.
Selain memaknai bahwa kematian adalah hal pasti, maka umat juga perlu mendo’akan agar keluarga yang ditinggalkan senantiasa tabah dan sabar atas takdir yang Allah SWT berikan. Dukungan dan bantuan moril juga dapat mengurangi duka dari keluarga yang telah ditinggalkan orang terkasih.
Hal utama yang harus keluarga berduka miliki yakni rasa ikhlas dari hatinya sendiri. Tentu, keikhlasan tersebut tak dapat umat rasakan secara kasat mata sebab ada di dalam hati. Namun, keikhlasan tersebut dapat terlihat melalui beberapa indikasi tertentu.
Bagaimana Umat Seharusnya Memaknai Rasa Ikhlas?
Sederhananya, ikhlas ada di dalam hati manusia sehingga tak semua orang dapat mengetahui. Seseorang yang ikhlas akan sesuatu tentu tidak akan pernah mengungkit kebaikan yang pernah Ia lakukan.
Ustadz Abdul Shomad sering kali menyampaikan dalam kajian beliau bahwa ikhlas tak akan pernah bisa umat ukur dan rasakan sebelum menghadapi kematian. Sebab, adakalanya umat ikhlas dalam awal aktivitas yang mereka lakukan. Namun, bisa saja merasa tidak ikhlas manakala umat dengan sering menyampaikan kepada yang lain alias Riya’.
Riya’ sendiri tidak hanya dalam mode kebaikan saja, namun juga bisa terjadi pada keburukan. Seseorang yang dengan bangga malah mempertontonkan keburukan juga bagian dari Riya’. Padahal, Allah SWT telah menutupi aibnya.
Selain itu, keikhlasan dalam beramal bisa saja luntur manakala manusia merasa hal tersebut adalah sebuah kesalahan. Misalnya, pernah ikhlas dalam berjuang untuk mendakwahkan Islam. Namun, tiba – tiba umat tersebut merasa bahwa perjuangan Islam sangatlah membosankan dan melelahkan serta menggembor – gemborkan pada yang lain. Tentu, hal tersebut adalah bagian dari Riya’. Jadi, dapat disimpulkan bahwa sebuah keikhlasan hanya dapat umat klaim ketika umat sudah tiada.
Bagaimana Menumbuhkan Rasa Ikhlas dalam Diri?


Sobat Cahaya Islam, perasaan ikhlas tak dapat serta merta ada dalam diri umat. Sehingga umat juga perlu membiasakannya. Salah satu cara untuk menjadikan seseorang bisa ikhlas yakni dengan senantiasa mengingat Allah SWT dan segala kelemahan yang umat miliki sebagai hamba. Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala dalam surat Al A’raf ayat 29
قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ
Artinya: “Katakanlah, “Tuhanku menyuruhku untuk berlaku adil. Dan hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada setiap shalat, dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya. Kamu akan dikembalikan kepada-Nya sebagaimana kamu diciptakan semula.”
Nah Sobat Cahaya Islam, demikianlah ulasan mengenai tragedi kematian ayah Vincent Rompies serta langkah umat dalam menumbuhkan keikhlasan dalam diri atas segala sesuatu yang terjadi. Semoga ke depan, ulasan ini dapat menjadi rekomendasi bagi bacaan para umat. Aamin Yarobbal ‘alamin.
































