LHKP PP Muhammadiyah Gelar Bedah Buku Parmusi

0
569
LHKP PP Muhammadiyah

LHKP PP Muhammadiyah baru-baru ini telah berhasil melaksanakan acara bedah buku Parmusi bertajuk Pergulatan Muhammadiyah dalam Partai Politik 1966-1971. Buku tersebut merupakan karya dari Ridho Al-Hamid di Aula Graha Suara Muhammadiyah, Selasa (19/11).

Buku ini tentunya akan langsung mengupas tentang dinamika Muhammadiyah dalam dunia perpolitikan, khususnya melalui Parmusi. Ridho Al-Hamdi sendiri sebenarnya telah menjelaskan bahwa karya ini lahir dari adanya keresahan dirinya pasca menyelesaikan buku Paradigma Politik Muhammadiyah pada 2020.

LHKP PP Muhammadiyah Gelar Bedah Buku

Ridho Al-Hamdi saat itu juga telah menyadari tidak ada buku yang dibuat secara khusus mengulas Parmusi. Padahal, sebenarnya peran Muhammadiyah di dalamnya sangat luar biasa.

LHKP PP Muhammadiyah

Ridho juga saat ini telah menyoroti keterlibatan aktif para kader Muhammadiyah dalam beberapa partai. Baik itu, mulai dari Sarekat Islam sampai Partai Ummat.

1. Parmusi Keterlibatan Kelembagaan Muhammadiyah

Parmusi ini menjadi salah satu contoh paling intensif dalam keterlibatan kelembagaan Muhammadiyah. Menurut Ridho, hubungan antara Muhammadiyah dan Parmusi (1968-1971) ini nantinya akan lebih mendalam dibandingkan dengan Masyumi.

Hal tersebut sebenarnya sudah berlangsung sangat singkat. Dirinya juga menjelaskan bahwa Masyumi dan Parmusi sama sekali hanya berpartisipasi dalam pemilu.

Namun, ada intensitas yang lebih kuat terkait pengaruh Muhammadiyah terhadap Parmusi.

2. Bulan Madu antara Muhammadiyah dan Parmusi

Ridho juga telah menjelaskan bahwa bulan madu antara Muhammadiyah dan Parmusi terlihat jauh lebih pendek dibandingkan dengan Masyumi.

Namun, dampaknya juga saat ini sangat besar. Dalam pandangan David Effendi selaku Sekretaris LHKP PP Muhammadiyah, saat ini organisasi tersebut sebenarnya sudah berhasil memasuki babak baru yang dikenal “politik tanpa partai.”

Dirinya juga selalu mencermati bagaimana Muhammadiyah mendorong kader-kader terbaiknya. Tujuannya tentu untuk mengisi jabatan strategis di pemerintahan tanpa harus terikat secara formal dengan partai.

3. Politik Tingkat Tinggi

Fenomena tersebut juga telah mencerminkan bentuk baru dari politik tingkat tinggi yang berlandaskan konsensus dan diaspora.

Diskusi ini juga menekankan betapa pentingnya untuk memahami sejarah perpolitikan Muhammadiyah. Direktur Media dan Publikasi Suara Muhammadiyah, Isngadi Marwah Atmadja, juga berhasil mengajak generasi muda untuk memandang sejarah dengan perspektif yang segar dan optimistis.

Sejarah ini sendiri memang tidak perlu ditakuti atau disesali, namun bisa diulang Sobat Cahaya Islami dengan cara yang baru.

4. Testimoni tentang Buku

Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Siti Syamsiyatun juga telah memberikan testimoni tentang buku ini sebagai “Musibah berbuah Hikmah.”

Menurutnya, dinamika hubungan antara Muhammadiyah dengan partai politik merupakan salah satu pelajaran berharga yang harus bisa dipahami oleh generasi mendatang.

Sejarah ini juga telah mengajarkan bagaimana mengambil hikmah yang terbaik. Tujuannya tentu untuk bisa melanjutkan gerakan Muhammadiyah.

5. Ruang Refleksi atas Perjalanan Sejarah Muhammadiyah

LHKP PP Muhammadiyah

Diskusi tersebut juga menjadi salah satu ruang refleksi atas perjalanan sejarah Muhammadiyah dalam politik. Hal ini untuk membuka wawasan tentang bagaimana persyarikatan ini terus beradaptasi tanpa harus kehilangan nilai-nilai dasarnya.

Turut hadir pula tokoh-tokoh Muhammadiyah yang lintas disiplin untuk memperkaya perspektif acara. Selain itu, juga dilakukan untuk menggali kembali relasi LHKP PP Muhammadiyah dengan dunia perpolitikan nasional.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY