Etika Menyambut Jamaah Haji, Jangan Sekadar Oleh-Oleh

0
331
Etika Menyambut Jamaah Haji

Etika Menyambut Jamaah Haji – Sobat Cahaya Islam, musim haji selalu membawa suasana haru dan syukur. Ketika para jamaah haji pulang ke tanah air, masyarakat menyambut dengan antusias: ada tumpengan, karangan bunga, bahkan rombongan yang datang menjemput di bandara. Namun, sering kali suasana ini berubah fokus: dari spiritualitas ibadah haji menjadi soal “oleh-oleh”, terutama air zamzam dan kurma ajwa. Lalu, bagaimana Islam memandang hal ini?

Makna Ibadah Haji dan Kewajiban Masyarakat

Haji bukan sekadar perjalanan fisik ke tanah suci. Ia adalah rukun Islam kelima yang melambangkan puncak ketundukan dan totalitas ibadah. Maka, ketika seseorang pulang dari haji, ia sejatinya telah menjalani proses pembersihan diri secara spiritual.

Sobat Cahaya Islam, menyambut mereka bukan hanya soal keramaian atau hadiah. Lebih utama adalah mendoakan agar haji mereka mabrur. Dalam hadis sahih disebutkan:

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Haji yang mabrur itu tidak ada balasan yang pantas baginya kecuali surga.” (1)

Secara bahasa, “mabrur” berasal dari kata “al-birr” yang berarti kebaikan,ketaatan, atau kesalehan. Maka, haji mabrur dapat diartikan sebagai haji yang diterima oleh Allah karena dilakukan dengan penuh keikhlasan, sesuai tuntunan syariat, dan membuahkan perubahan akhlak yang baik.

Kesalahan Umum Menjadikan Oleh-Oleh Sebagai Tujuan

Tidak sedikit masyarakat yang datang menyambut jamaah haji bukan untuk mengucapkan selamat atau mendoakan, tetapi sekadar berharap mendapat “jatah zamzam” atau kurma dari Makkah. Bahkan, ada yang kecewa jika tidak kebagian. Sikap ini tentu tidak sesuai dengan adab Islam.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan itu bukan banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kaya jiwa.” (2)

Hadis ini menjadi pengingat agar kita tidak bersikap materialistis dalam urusan ibadah. Oleh-oleh dari Makkah hanyalah simbol, bukan inti dari keberkahan haji. Bahkan, tradisi ini kerap kali membebani jamaah haji karena harus menyaipkan uang lebih agar bisa membelikan oleh-oleh kepada tamu yang berkunjung setelah kepulangan haji.

Etika Menyambut Jamaah Haji dengan Mendoakan

Islam mengajarkan adab yang luhur dalam berinteraksi. Daripada menuntut oleh-oleh, akan lebih baik jika Sobat Cahaya Islam mendoakan jamaah haji agar istiqamah dalam ibadah setelah kembali ke tanah air. Ini selaras dengan perintah untuk saling mendoakan dalam kebaikan.

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ

“Tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan.” (3)

Menemani mereka dengan nasihat, motivasi, dan suasana yang kondusif adalah bentuk “oleh-oleh balik” dari kita kepada mereka: semangat menjaga kemabruran.

Sobat Cahaya Islam, mari perbaiki niat dan adab kita. Jamaah haji yang pulang bukan pedagang oleh-oleh, melainkan tamu Allah yang telah menempuh perjalanan suci. Hormati mereka dengan doa, bukan dengan tuntutan. Karena yang paling berharga dari haji adalah perubahan akhlak, bukan sekadar botol zamzam.


Referensi:

(1) HR. Bukhari, no. 1773

(2) H.R. Bukhari no. 6446

(3) QS. Al-Ma’idah: 2

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY