Juragan 99 Mundur – Gilang Pramana, atau juga dikenal dengan Juragan 99 mundur dari jabatannya sebagai Presiden Klub Sepak Bola Arema. Tepat pada tanggal 29 Oktober 2022.
Pernyataannya tersebut diberikan langsung di Kandang Singa, markas dari Arema FC. Sebelumnya, Gilang pun telah berpamitan dengan bertemu langsung jajaran manajemen Arema FC terkait pengunduran dirinya.
Juragan 99 menyampaikan, keputusannya ini diambil karena ingin lebih fokus pada keluarganya dan berkegiatan lain di luar sepakbola, khususnya.
Kendati demikian, Gilang mengaku akan tetap turun tangan membantu korban apabila masih diperlukan.
Sebab, seperti yang kita ketahui selama ini, setelah tragedi kanjuruhan yang memakan banyak korban, Gilang memang berkeliling secara langsung untuk melakukan takziyah ke keluarga yang telah ditinggalkan.
Bahkan, dia juga membuka crisis center di Kandang Singa demi bisa memberikan respon cepat kepada para keluarga korban.
“saya sudah memberikan semua sebisanya,” ucap Gilang saat ditemui awak media kemarin.
Nah, Sobat Cahaya Islam, lantas bagaimana pendapat Islam perihal seorang pemimpin yang memilih mundur dan melepas jabatannya? Demikian ulasannya.
Juragan 99 Mundur Sebagai Presiden Arema FC, Ini Tanggapan Islam
Di Indonesia, budaya malu dalam sebuah pertanggungjawaban moral masih sangatlah rendah.
Nyaris saja, kita tidak pernah melihat seorang pemimpin rakyat yang akhirnya dengan legawa mau mengundurkan diri saat melakukan kesalahan dan gagal dalam menjalankan tugasnya.
Terlepas setuju atau tidak, keputusan yang diambil Juragan 99 mundur dari jabatannya itu adalah salah satu bentuk kepeloporannya bagi budaya bangsa. Untuk menjunjung tinggi rasa pertanggungjawaban moral.
Tak hanya itu, bagi Islam, ada dua hal yang perlu kita perhatikan bagi seorang pemimpin yang memang perlu melepas jabatan kepemimpinannya saat melakukan kesalahan atau ketidaksanggupannya. Antara lain:
1. Punya Rasa Malu
Masih ingat dengan Bambang Widjojanto yang pernah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai wakil pimpinan KPK? Nah, dia adalah salah satu pemimpin yang masih punya rasa malu.


Di mana dia tunduk pada konstitusi Undang-undang yang ada. Meski kasus yang ada memang terkesan seolah-olah diada-adakan. Namun dia memilih untuk mundur dari jabatannya karena enggan menentang kebijakan.
Padahal, dia pun bisa mencari berbagai alasan untuk tidak mundur hanya saja masih memiliki rasa malu. Itulah krisis yang masih menjerat kepemimpinan Indonesia saat ini.
2. Menyadari Jabatan itu Bisa Dialihkan pada Orang Lain
Kemudian, saat kita tidak lagi sanggup menjadi pemimpin maka untuk mundur pun perlu menyadari: di mana jabatan itu bisa dialihkan kepada orang lain yang mungkin lebih mumpuni.
Apabila dipertahankan pun, khawatir menjadi semakin tidak sejahtera dan jauh dari kata makmur. Maka dari itu, menjadi orang yang sadar diri sangatlah perlu.
Supaya tidak ada yang dirugikan oleh keserakahan kita pada jabatan. Tahta tidak akan bisa dibawa mati, hanya amal shaleh yang akan menemani kita di dalam liang lahat yang gelap gulita, kelak.
Pemimpin Ulul Amri
Pun rakyat, ketika memilih pemimpin haruslah yang ulul amri. Sebagaimana dijelaskan dalam surat An Nisa ayat 59.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلً
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”


Terakhir, sikap muslim ketika memilih pemimpin adalah menerima lapang dada siapapun yang ditakdirkan menjadi pemimpin. Dengan kata lain, menyerahkan segalanya kepada Allah SWT sebagaimana difirmankan dalam surat Ali Imran ayat 26,
قُلِ اللّٰهُمَّ مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَاۤءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاۤءُۖ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاۤءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاۤءُ ۗ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۗ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Allah, Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tanganMulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”
Demikian di atas merupakan ulasan mengenai Juragan 99 mundur sebagai presiden Arema FC beserta tanggapan Islam terkait hal tersebut.





























