Green kurban – Perayaan Iduladha selama ini identik dengan pembagian daging kurban menggunakan kantong plastik. Namun perlahan, kebiasaan tersebut mulai berubah. Di tengah meningkatnya kekhawatiran soal sampah plastik dan ancaman mikroplastik, NU Care-LAZISNU PBNU kembali mendorong gerakan green kurban.
Penggunaan wadah alami seperti besek bambu, daun pisang, dan daun jati untuk distribusi daging kurban tahun 2026 mulai gencar dilakukan.
Green Kurban Jadi Gerakan Baru Peduli Lingkungan
Langkah green kurban bukan sekadar tren sesaat. Program ini telah berjalan sejak 2019 sebagai bagian dari upaya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai saat Iduladha. Gerakan ini sekaligus menjadi bentuk dakwah lingkungan yang mengajak masyarakat menjalankan ibadah tanpa meninggalkan kerusakan bagi alam.
Direktur Eksekutif NU Care-LAZISNU PBNU, Riri Khariroh, mengatakan penggunaan bahan alami dipilih karena lebih ramah lingkungan sekaligus. Selain itu, faktor keamanan untuk menjaga kualitas daging kurban juga menjadi pertimbangan.
Menurut Riri, penggunaan besek dan daun bukan hanya soal kemasan, tetapi juga bagian dari edukasi kepada masyarakat. Tujuannya bahwa kegiatan keagamaan ini perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga bumi. Ia menjelaskan bahwa daun pisang dan daun jati dinilai mampu menjaga kesegaran daging lebih baik dibandingkan plastik.
Penggunaan bahan alami akan lebih aman, sebab dapat mengurangi risiko paparan mikroplastik yang kini menjadi perhatian dunia. Ancaman mikroplastik memang mulai mendapat sorotan serius.
Plastik sekali pakai yang banyak masyarakat gunakan secara masif pada saat Iduladha berpotensi mencemari lingkungan. Selain itu, ada potensi juga masuk ke rantai makanan manusia. Selama bertahun-tahun, lonjakan sampah plastik usai pembagian daging kurban menjadi persoalan rutin di berbagai daerah.
Oleh karena itu, LAZISNU mencoba menghadirkan pendekatan baru melalui konsep green kurban. Gerakan tersebut telah diterapkan sekitar tujuh tahun terakhir dan mulai banyak pengikutnya di berbagai jaringan LAZISNU daerah.
Masyarakat di sejumlah wilayah bahkan tidak lagi menggunakan besek. Mereka lebih memilih langsung memakai daun pisang atau daun jati sebagai pembungkus. Cara ini lebih sederhana, murah, dan tetap ramah lingkungan.


Green Kurban Bantu UMKM dan Gerakkan Ekonomi Rakyat
Gerakan green kurban ternyata tidak hanya berdampak pada pengurangan sampah plastik. Penggunaan besek bambu secara besar-besaran juga membuka peluang ekonomi bagi para perajin lokal. Permintaan besek meningkat saat Iduladha karena banyak panitia kurban mulai meninggalkan plastik konvensional.
Kondisi tersebut memberikan keuntungan bagi pelaku UMKM anyaman bambu yang selama ini kalah bersaing dengan produk plastik murah. Riri menyebut kebijakan ini mendapat respons positif dari masyarakat. Selain membantu mengurangi limbah, penggunaan produk lokal juga mampu menghidupkan ekonomi rakyat kecil.
LAZISNU menginstruksikan seluruh jaringan organisasi, mulai dari PCNU, majelis taklim, hingga masjid-masjid agar mengurangi penggunaan plastik dalam pembagian daging kurban. Langkah ini penting, sebab Iduladha merupakan momen penggunaan plastik besar-besaran setiap tahunnya. Jika semakin banyak lembaga dan masyarakat mengikuti gerakan green kurban, Indonesia berpeluang memiliki model pelaksanaan kurban yang lebih sehat dan ramah lingkungan.
Melalui gerakan ini, NU Care-LAZISNU ingin menunjukkan bahwa ibadah tidak hanya berbicara soal hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga tanggung jawab menjaga alam.






























