Ketua Umum PBNU dan K.H. Yahya Cholil Staquf selaku Ketua Majelis Wali Amanat UI mengungkapkan akan memperkenalkan wajah Islam yang moderat, inklusif, serta berbasis nilai kemanusiaan universal demi perdamaian dunia.
Pesan ini sebenarnya turut disampaikan dalam acara yang bertemakan “International Conference on Humanitarian Islam” atau Muktamar al-Duwali Islam lil Insaniyah.
Penjelasan Ketua Umum PBNU dan UI
Acara Muktamar ini telah diselenggarakan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Di mana bekerja sama dengan UI dan Centre for Shared Civilizational Values (CSCV), pada Selasa (5/11/2024).
1. Bentuk Implementasi Skala Global
Gagasan Humanitarian Islam ini diusung sebagai bentuk implementasi skala global dari ajaran Ahlusunnah wal Jamaah an-Nahdliyah atau Aswaja an-Nahdliyah (Awaja ala NU) tentang tawasuth, tasamuh, tawazun, serta i‘tidal.
Gagasan tersebut juga merupakan kelanjutan dan penguatan dari konsep khittah NU 1926, pribumisasi Islam, Islam Rahmatan lil ‘Alamin, Islam Nusantara, dan Fiqh Peradaban yang sejalan dengan Pancasila maupun Bhinneka Tunggal Ika.
Ketua Umum PBNU mengaku bahwa gagasan humanitarian Islam atau Islam lil insaniyah telah dicetuskan sejak 10 tahun lalu oleh elemen Nahdlatul Ulama.
Gerakan tersebut tentu telah menawarkan solusi yang berbasis karakter Islam Nusantara damai serta ramah bagi dunia. Hal ini semakin kompleks akibat pergeseran geopolitik, maraknya populisme berbasis agama dan rasisme.
Selain itu, meningkatnya ancaman kekerasan dan perang, kesenjangan dan kemiskinan global.
Oleh karena itu, Sobat Cahaya Islami perlu Humanitarian Islam yang tidak hanya fokus pada tataran konsep. Namun, juga terhadap langkah konkret serta instrumen yang tepat untuk menghadapi hal tersebut.
2. Landasan Perdamaian Dunia
Menurutnya, gagasan Humanitarian Islam ini diharapkan bisa menjadi salah satu landasan pokok untuk menghadirkan perdamaian dunia.
Sementara Rektor UI, Prof. Ari Kuncoro, S.E., M.A., Ph.D, juga mengungkapkan bahwa hanya melalui pendekatan antarbudaya, dunia yang adil dan harmonis bisa terbangun.
Di mana semua orang nantinya akan terlepas dari latar belakang budaya maupun agama. Hal ini dilakukan agar hidup bisa lebih damai dan penuh pengertian.
Sedangkan, filsafat antarbudaya sendiri telah menekankan pada tiga hal saja. Diantaranya yaitu keterbukaan, saling menghargai, dan kesadaran kritis.
3. Islam Bukan Ancaman
Melalui filsafat tersebut, Indonesia sendiri menunjukkan pada dunia bahwa Islam sebenarnya bukanlah ancaman. Namun, menjadi solusi bagi perdamaian dunia.
Indonesia juga berperan sebagai perintis dalam mendukung dialog lintas agama, menyuarakan anti kekerasan, serta mempromosikan Islam. Hal ini tetap berlandaskan pada kemanusiaan sebagai alternatif bagi dunia yang dilanda konflik berkepanjangan.
4. Menghasilkan Karya Ilmiah
Konferensi tersebut diharapkan juga akan menghasilkan karya ilmiah yang bukan hanya penting bagi perbincangan intelektual di tingkat internasional. Namun, juga dapat memberikan arah strategis bagi pengembangan dan perluasan misi humanitarian.
UI sendiri berada di barisan terdepan untuk ikut serta dalam mendorong semangat ini. Baik itu, dalam kapasitasnya sebagai lembaga akademik maupun sebagai bukti dari Dharma Pendidikan Tinggi. Tujuannya tentu untuk permasalahan kemanusiaan yang lebih luas.
Oleh karena itu, Sobat Cahaya Islami juga harus menyerukan semangat Rahmatan lil ‘Alamin dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dilakukan karena masing-masing manusia adalah agen perubahan yang membawa wajah kemanusiaan. Selain itu, mengedepankan perdamaian serta kasih sayang.
Kegiatan internasional ini sendiri telah berlangsung di Hyatt Hotel Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, pada 5–6 November 2024.
Selain Ketua Umum PBNU, ternyata acara ini dihadiri oleh beberapa kiai, cendekiawan, dan akademisi internasional dari Amerika Serikat (AS), hingga Asia Tenggara.































