Membudayakan Menyembunyikan Amal Baik itu Disukai Allah

0
565

Manusia diciptakan oleh Allah di dunia ini tidak lain dan tidak bukan hanya untuk melaksanakan kewajibannya kepadaNya untuk bersimpuh beribadah. Tidak ada yang lain. Untuk itu kita sebagai manusia haruslah bisa pintar-pintar dalam hal ini. Dalam artikel tim Cahayaislam yang lainnya, kami telah mengulas sedikit cara dan tips supaya kehidupan kita setiap waktu menjadi sebuah ibadah (DISINI). Berbicara tentang kewajiban kita sebagai manusia untuk beribadah, Kita selalu dihadapkan pada banyak praktik amalan baik yang berhubungan dengan diri sendiri maupun dalam kehidupan sosial secara luas.

Nah, perihal amalan-amalan baik itu. Di kehidupan yang sudah sangat modern sekarang, ada satu tren yang cukup memprihatinkan. Tren itu adalah memposting/ update sosial media yang berisi tentang suatu wujud peribadatan atau amalan baik. Misalnya seseorang mengupdate status di sosial media dengan caption islami sembari memajang fotonya yang sedang berada di depan Baitullah. Atau ketika bulan Ramadhan misalnya, seseorang update status “udah 15 juz nih.. kurang separo lagi” yang seolah-olah ingin pamer amalan baik.

Antara memberikan penilaian dan Nasihat kebaikan

Tentu, kita tidak tahu hati seseorang. Bisa saja mereka memposting hal itu dengan tujuan untuk menyebarkan semangat kepada orang-orang disekitarnya. Namun, bukanlah hal yang bijak juga untuk melakukannya. Karena setiap orang bisa “memberikan penilaian” atas hal itu, karena itu di media sosial. Dan pastinya setiap orang memiliki perspektif yang berbeda.

Nah, tim Cahayaislam bukan bermaksud untuk mengkritiki atau bahkan mencela hal itu. Kami mencoba tetap khusnudzon billah dan berusaha pula untuk memberikan beberapa patah kata perihal fenomena itu. Kami hanya ingin memberikan pengertian bahwa sesungguhnya membudayakan menyembunyikan amal baik itu adalah hal yang disukai oleh Allah. Berikut akan kami berikan beberapa contoh hadits yang menyinggung tentang hal tersebut.

Hadits tentang baiknya menyembunyikan amal kebaikan

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، وَعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْعَظِيمِ، – وَاللَّفْظُ لإِسْحَاقَ – قَالَ عَبَّاسٌ حَدَّثَنَا وَقَالَ، إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا – أَبُو بَكْرٍ الْحَنَفِيُّ، حَدَّثَنَا بُكَيْرُ بْنُ مِسْمَارٍ، حَدَّثَنِي عَامِرُ بْنُ سَعْدٍ، قَالَ كَانَ سَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ فِي إِبِلِهِ فَجَاءَهُ ابْنُهُ عُمَرُ فَلَمَّا رَآهُ سَعْدٌ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّ هَذَا الرَّاكِبِ فَنَزَلَ فَقَالَ لَهُ أَنَزَلْتَ فِي إِبِلِكَ وَغَنَمِكَ وَتَرَكْتَ النَّاسَ يَتَنَازَعُونَ الْمُلْكَ بَيْنَهُمْ فَضَرَبَ سَعْدٌ فِي صَدْرِهِ فَقَالَ اسْكُتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ ‏ “‏ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ ‏”

Dalam hadits riwayat muslim yang tertera di kitab catatan zuhud diatas diceritakan bahwa seseorang pernah berkata kepada Sa’d. Orang itu bertanya kenapa dia sering terlihat sibuk dengan unta dan dombanya, dimana orang-orang lain sedang saling sibuk untuk berlomba-lomba (dalam kebaikan). Sa’d dengan lirih berkata bahwa dia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah menyukai hambanya yang berhati lapang (menerima ketentuan Allah dengan sabar) dan suka mengasingkan diri.

Maksud kata “mengasingkan diri” disini menurut para alim ulama adalah perilaku dimana seseorang tidak menunjukkan amalan baiknya agar dilihat oleh orang lain. Dia mengasingkan diri dari tampaknya amalan baik karena yang ia lakukan hanya terfokus dan ditujukkan karena mencari ridho dari Allah.

Dalam hadits lain, yakni H.R Bukhari 1423 (Kitabuzzakah) yang menjelaskan bahwa Allah akan menaungi 7 golongan orang besok di akhirat ketika masa dimana tidak ada naungan selain milik Allah. Dan orang yang termasuk salah satu 7 golongan tersebut adalah orang yang bersedekah dimana tangan kirinya tidak mengetahui apa yang tangan kanannya berikan.

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ، قَالَ حَدَّثَنِي خُبَيْبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ “‏ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ تَعَالَى فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ إِمَامٌ عَدْلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ ‏”

Sebenarnya tidak hanya ada dua hadits saja sih yang menyinggung tentang kebaikan menyembunyikan amalan dari orang lain. Namun mungkin insha Allah akan tim Cahayaislam ulas lagi lain waktu. Semoga bermanfaat ya!

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!