Hukum Jujur dalam Kemaksiatan

0
653
Jujur dalam Kemaksiatan

Jujur dalam Kemaksiatan – Kita semua sepakat bahwa jujur termasuk sikap terpuji. Tapi, meneladani kejujuran tidak bisa di sembarang tempat. Pasalnya, adakalanya Islam justru melarang jujur karena dapat membawa dampak buruk. Salah satu contohnya adalah jujur dalam kemaksiatan. Lalu, jika kita pernah berbuat maksiat di masa lampau, apakah kita harus terus terang atau menyembunyikannya?

Bolehkah Jujur dalam Kemaksiatan?

Dalam kebaikan, kita harus selalu menerapkan sikap jujur. Tapi, kejujuran tidak berlaku dalam kemaksiatan, sebagaimana sabda Nabi:

 كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ

“Setiap umatku akan mendapatkan ampunan, kecuali orang-orang yang berterus terang dalam berbuat dosa (mujahirin).” (1)

Maksud dari hadits di atas adalah bahwa kita tidak perlu mengumbar kemaksiatan kita yang telah lampau. Pasalnya, jika setiap orang mengumbar perbuatan dosanya, maka dikhawatirkan maksiat akan menjadi hal yang biasa di masyarakat. Oleh karena itu, hendaknya seseorang menyembunyikan masa lalunya yang kelam agar maksiat tetap menjadi hal yang tabu di masyarakat.

Bukankah Ketidakjujuran dalam Maksiat Termasuk Bohong?

Ketidakjujuran dalam perbuatan dosa atau maksiat tidak termasuk kebohongan. Pasalnya, maksud hadits di atas adalah tidak menceritakan dosa atau kesalahan. Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda:

وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ فَيَبِيتُ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

“Sebenarnya di malamhari Tuhannya telah menutupi perbuatan dosanya, tapi di pagi harinya ia menyingkap perbuatannya sendiri yang sudah ditutupi oleh Allah.” (2)

Sekilas, hadits-hadits di atas terdengar aneh. Kenapa saat berbuat dosa & tidak jujur malah diampuni oleh Allah, sementara orang yang jujur akan dosanya justru tidak mendapatkan ampunan dari Allah?

Jika seseorang, terlebih seorang tokoh agama, mengumbar kemaksiatannya di masa lalu, maka maksiat bisa terasa biasa saja. Misalnya, seorang ustadz yang dengan jujur mengatakan bahwa dia pernah melakukan berbagai maksiat di masa mudanya, lalu ia bertaubat dan bisa menjadi ustadz.

Di satu sisi, ini bisa menjadi motivasi bagi orang lain. Tapi, akan banyak muridnya yang mengatakan “Tidak apa-apa berbuat dosa, dulu guruku juga pernah melakukannya.” Tentu, ini akan sangat berbahaya.

Apa yang Harus Kita Lakukan Jika Sudah Pernah Berbuat Dosa?

Seseorang yang melakukan dosa , lalu bertaubat, dan tidak menceritakan kemaksiatannya dulu, secara tidak langsung ia sudah menutup kemungkinan terbukanya sunnatan sayyiatan. Oleh karena itu, jika kita pernah berbuat dosa, yang harus kita lakukan cukup menyesali diri, mohon ampun kepada Allah, dan berbuat baik setelahnya. Allah berfirman:

وَّاَنِ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَّتَاعًا حَسَنًا

“Hendaknya kamu mohon ampunan kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya, niscaya Dia akan memberikan kenikmatan yang baik kepadamu.” (3)

Allah maha menerima taubat. Maka, hendaknya kita tidak berputus asa terhadap ampunan Allah, sebesar apapun dosa yang pernah kita lakukan. Yang terpenting adalah tetap istiqomah ke dalam jalan yang Allah ridhai.


Referensi:

(1) Sahih al-Bukhari 6069

(2) Sahih Muslim 2990

(3) Q.S. Hud: 3

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY