Perbedaan Zakat Infak dan Sedekah – Dalam islam kita oleh Rasulullah ajari untuk saling berbagi dan berempati. Dalam analoginya Rasulullah sabdakan umat muslim seharusnya seperti satu kesatuan tubuh. Yang mana ketika satu bagian merasakan sakit, maka bagian lainnya pun akan merasakan sakit pula. Kita tim cahaya islam sendiri bersama sama udah dari lama mencoba untuk membiasakan hal itu. Caranya adalah berbagi.
Kalo kita bilang berbagi maka terminologi ini cakupannya luas banget ya. Dan tujuannya juga tidak melulu orang islam juga. Tentu prioritasnya adalah pada saudara saudari kita seiman. Tetapi kemanusiaan yang Rasulullah ajarkan wujudnya sangatlah luas. Bahkan terkadang kita juga berbagi sedikit pada hewan atau makhluk Allah lain yang membutuhkan. Berkaitan dengan ini dalam ajaran islam kita udah familiar banget dengan berbagi ini: zakat, infak, dan sedekah. Dan tiga tiganya adalah tiga bentuk amal yang memiliki peran penting dalam menjaga kesejahteraan sosial dan spiritual umat. Meskipun ketiganya melibatkan pemberian harta, ada perbedaan mendasar di antara mereka. Dan Surprisingly banyak dari sobat yang nggak tahu detail soal perbedaannya. Kita Jelasin disini yak!
Perbedaan Zakat Infak dan Sedekah Secara Definisi, Jumlah dan Kriterianya?
Secara Definisi bedanya begini Zakat adalah kewajiban finansial yang harus dibayar oleh setiap Muslim yang memenuhi syarat tertentu, dan ini adalah salah satu dari lima rukun Islam. Jadi ada NISHOB nya dulu agar bisa masuk dalam zakat. Disisi lain, Infak adalah pemberian harta yang sifatnya sukarela, tidak terikat pada jumlah tertentu, dan dapat diberikan kapan saja. Infak bisa dilakukan kepada siapa saja, baik yang membutuhkan maupun tidak. Lain hal, dengan Sedekah yang merupakan segala bentuk pemberian atau amal yang dilakukan dengan ikhlas untuk mencari ridha Allah pula. Sama lah seperti infak. Tapi Sedekah lebih bisa dalam bentuk intrinsik. Jadi tidak hanya terbatas pada harta, tetapi juga bisa berupa senyuman, bantuan tenaga, dan lain-lain.
Nah, kita tahu ada kata kunci nishob dalam zakat. Perbedaan lainnya terletak pada Jumlah dan Kriterianya. Yakni untuk akat memiliki jumlah dan kriteria khusus yang harus kita penuhi. Misalnya, zakat maal (zakat harta) biasanya sebesar 2,5% dari harta yang telah mencapai nisab (batas minimum kekayaan) dan telah kita simpan selama satu tahun penuh. Sedangkan Infak & Sedekah tidak ada batasan minimum atau waktu tertentu untuk infak. Seberapa banyak yang diberikan tergantung kemampuan dan niat pemberi. Bahkan untuk sedekah hal-hal kecil seperti memberikan makanan kepada orang lain atau berbuat baik kepada orang lain, bertetangga dengan baik, menasihati dan menyayangi anak kecil, Kasih minum kucing dan lain lain bisa juga merupakan bentuk sedekah.
Perbedaan Zakat Infak dan Sedekah dari Sisi Hukum dan Siapa Penerimanya?
إِنَّمَا ٱلصَّدَقَٰتُ لِلْفُقَرَآءِ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱلْعَٰمِلِينَ عَلَيْهَا وَٱلْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِى ٱلرِّقَابِ وَٱلْغَٰرِمِينَ وَفِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Artinya: Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Kalo dari kutipan Surat At Taubah ini, Zakat ini harus kita salurkan kepada delapan golongan yang telah Allah tentukan dalam ayat tersebut. Yakni seperti fakir, miskin, amil zakat, mualaf, budak yang ingin merdeka, orang yang terlilit hutang, orang yang berjuang di jalan Allah, dan ibnu sabil (musafir). Ada kriteria khusus untuk zakat itu sendiri ya. Beda cerita sama Infak atau Sedekah. Keduanya lebih fleksibel kalo kita bandingkan dengan zakat, karena tidak ada aturan khusus mengenai jumlah atau golongan penerima. Karena sedekah lebih fluid bentuknya maka penerimanya juga tanpa ada batasan tertentu. Penerimanya bisa siapa saja yang membutuhkan atau bahkan orang yang tidak membutuhkan secara materi, namun membutuhkan perhatian atau kebaikan lainnya. Yang harus kita garis bawahi adalah satu ya. Bahwa Membayar zakat adalah WAJIB bagi yang mampu, dan meninggalkannya merupakan dosa besar. Karena merupakan perbuatan yang ingkar.
Melaksanakan Zakat, Infak Maupun Shodaqoh dengan Keikhlasan dan Nilai Empati yang Benar
Keikhlasan dalam memberikan zakat, infak, dan sedekah adalah esensi dari ibadah itu sendiri. Allah SWT hanya menerima amal yang dilakukan dengan niat tulus dan ikhlas karena-Nya. Keikhlasan ini menunjukkan bahwa seseorang memberikan hartanya bukan untuk mendapatkan pujian atau penghargaan dari manusia, tetapi semata-mata untuk mencari keridhaan Allah. Ketiganya seharusnya menjadi wujud nyata dari rasa empati terhadap sesama. Dengan berempati, kita bisa merasakan kesulitan dan penderitaan orang lain, yang mendorong kita untuk membantu mereka. Islam sangat menekankan pentingnya menjaga kesejahteraan sosial dan memerintahkan umatnya untuk tidak acuh terhadap kondisi sesama.
Zakat, infak, dan sedekah adalah perwujudan dari rasa kemanusiaan yang tinggi. Dengan memberikan sebagian dari harta yang kita miliki kepada orang yang membutuhkan, kita menunjukkan bahwa kita peduli terhadap sesama manusia dan tidak ingin melihat mereka menderita. Ini juga mencerminkan prinsip keadilan sosial dalam Islam, di mana yang kaya membantu yang miskin, dan yang kuat membantu yang lemah. Kuncinya itu! Ikhlas, dengan nilai empati dan jiwa kemanusiaan harus hadir dalam ketiga amal tersebut. Karena bila tiada ketiganya atau tersembunyi niat lainnya, maka sirna pula makna dan pahala dari ketiganya.
***
Kesimpulannya adalah, pada dasarnya ketiga bentuk amal ini saling melengkapi dalam menciptakan keseimbangan sosial dan spiritual dalam masyarakat, serta membantu individu untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah melalui berbagi dan peduli terhadap sesama. Umat islam melalui sabda Rasulullah harus mempraktikkan ketiga tiganya. Dan yang pasti niyat yang kita harus lillahi ta’ala tulus ikhlas karena Allah dengan memegang nilai nilai empati dan jiwa kemanusiaan yang kuat. Semoga bermanfaat ya!


































