Ceramah Agama untuk Milenial: Hati-hati dengan Idola!

0
21
Ceramah Agama untuk Milenial: Hati-hati dengan Idola!

Tips Islami – Bagi generasi muda zaman sekarang, memiliki idola adalah satu hal yang biasa. Idola itu sendiri biasanya bermacam-macam. Bisa artis, penyanyi, ataupun penulis. Ada banyak sekali figur yang biasa dijadikan idola. Bahkan tidak menutup kemungkinan juga misalnya sobat cahayaIslam mendengarkan ceramah agama kemudian menjadi ustaz yang melakukan ceramah itu sebagai idola. Bisa juga misalnya kita mengidolakan figur ibu atau bapak dalam keluarga kita.

Nah, siapakah idola kita maka hal itu akan mempengaruhi kepribadian kita, bagaimana cara kita memandang persoalan, dan sebagainya. Semua pengaruh itu biasanya didapatkan secara tidak sadar. Misalnya dalam kasus kita menjadikan ustaz yang memberikan ceramah agama sebagai idola, maka kita akan relatif lebih mudah terpengaruh oleh isi ceramah agama sang ustaz. Karena pengaruh itu sifatnya tidak kita sadari, maka pengaruh seorang idola terhadap kita biasanya sudah menjadi semacam refleks. Seringkali pula hal itu membuat kita menjadi saklek menerima apapun yang bersumber dari idola kita.

Ceramah Agama

Asal-usul Idola

Idola dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dimaknai sebagai “orang, gambar, patung, dan sebagainya yang dijadikan pujaan.” Sayangnya kita sering terlena dan menganggap karena memiliki idola itu adalah hal biasa maka hal itu pun dianggap sepenuhnya memiliki nilai positif, seperti misalnya mengidolakan ustaz yang memberikan ceramah agama atau ibu bapak. Kata idola sendiri diserap dari bahasa Inggris idol, maknanya kalau kata Kamus Webster ada dua. Pertama sama dengan makna dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kedua, bermakna berhala. Kata idol sendiri memang berasal dari bahasa Yunani yang berarti gambar atau berhala.

Maka, sobat cahayaIslam, kata idola pun mengandung makna negatif. Dua makna yang dimiliki oleh kata tersebut pada dasarnya masih saling berhubungan. Jika kita terlalu mengidolakan seseorang atau sesuatu, maka kita bisa terpeleset memujanya sebagaimana orang-orang kafir zaman pra-Islam memuja berhala dewa-dewa. Tentu harus diakui bahwa mengidolakan seorang shalih seperti ustaz yang memberikan ceramah agama adalah sesuatu yang baik. Apalagi jika karena itu maka kita menjadi lebih memahami ajaran islam dan mempraktikkannya.

Meskipun demikian, jika kita mengidolakan seorang penyanyi misalnya, non-muslim pula, maka efek negatifnya bisa sangat mungkin muncul. Mungkin awalnya kita hanya mengagumi suaranya yang bagus. Biasanya setelah itu kita mulai mengikuti berita-berita tentang gaya hidupnya, kesehariannya, cara dia menanggapi satu masalah, dan lain-lain. Jika sudah demikian, tanpa sadar kita akan cenderung meniru dia juga dalam hal-hal tersebut. Padahal, sebagai seorang muslim, kita dituntut untuk menjalani keseharian kita sesuai tuntunan ajaran islam yang seringkali disampaikan dalam ceramah agama.

Nabi Muhammad sebagai Idola

Dalam ajaran Islam sosok yang paling mulia adalah Nabi Muhammad. Maka sebenarnya sebelum kita mengidolakan siapapun kita bisa memulainya dengan mengidolakan Nabi Muhammad. Dari itu kita akan terdorong untuk meniru perilaku beliau, melaksanakan amalan-amalan sunnah yang diajarkan oleh beliau. Kalaupun misalnya kemudian kita mengidolakan seorang ustaz yang biasa mengajari kita ilmu agama, kita melakukan hal itu tidak secara saklek. Karena sebenarnya ustaz itu pun hanyalah menyampaikan apa yang sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad pula.

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ، حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ عَمْرٍو الْكَلْبِيُّ، عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أُرَاهُ رَفَعَهُ قَالَ ‏ “‏ أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْمًا مَا وَأَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا ‏”‏ ‏.‏ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لاَ نَعْرِفُهُ بِهَذَا الإِسْنَادِ إِلاَّ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ ‏.‏ وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ عَنْ أَيُّوبَ بِإِسْنَادٍ غَيْرِ هَذَا رَوَاهُ الْحَسَنُ بْنُ أَبِي جَعْفَرٍ وَهُوَ حَدِيثٌ ضَعِيفٌ أَيْضًا بِإِسْنَادٍ لَهُ عَنْ عَلِيٍّ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَالصَّحِيحُ عَنْ عَلِيٍّ مَوْقُوفٌ قَوْلُهُ ‏.‏

Muhammad bin Sirin meriwayatkan dari Abu Hurairah – dan saya pikir dia (meriwayatkannya dari Nabi) yang mengatakan: “Cintai kekasihmu secara moderat, mungkin dia menjadi benci padamu suatu hari nanti. Dan membencimu yang kau benci sedikit, mungkin dia menjadi kekasihmu suatu hari nanti.” [1]

Dari hadis tersebut kita bisa menarik pelajaran bahwa ketika kita menyukai atau mengidolakan seseorang maka lakukanlah dengan sewajarnya, tidak berlebihan. Seorang ustaz yang memberikan ceramah ajaran islam memang pantas dikagumi, tapi beliau juga adalah seorang manusia yang pasti memiliki kekurangan.  Kalaupun misalnya kita memutuskan untuk mengagumi, akan lebih baik jika kita fokus pada konten ceramah agama yang diberikan, bukan pada sosoknya sebagai manusia.


Catatan Kaki :

[1] H.R. Jami At-Tirmidhi nomor hadits 1997 (Hasan)

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!