Memahami Perjalanan Hidup Manusia dari Tembang Mocopat (Bagian 2)

0
380

Tembang mocopat adalah satu kebudayaan bangsa indonesia yang perlu untuk dilestarikan dan dibanggakan oleh kita. Indonesia memang negara kaya dengan ragam budaya yang menakjubkan di dalamnya. Disini tim cahayaislam tidak bermaksud melakukan komparasi Al Quran dengan tembang macapat lho ya! Tentu Al Quran adalah kitab suci mulia miliki kita umat islam yang tiada bandingannya. Dalam artikel ini kami mencoba untuk memberikan informasi sedikit tentang kebudayaan indonesia berupa tembang ini, yang konon dulu dipakai sebagai media untuk dakwah islam.

Pada seri sebelumnya, tim cahayaislam telah mengulas tembang pertama yang berjudul maskumambang yang berisi tentang penciptaan Allah pada manusia dalam kandungan. Lain halnya tentang tembang kedua yang berjudul mijil ini. Dia menceritakan keadaan manusia setelah melewati alam kandungan.

Tembang Mijil yang menggambarkan kelahiran manusia di dunia

Setelah proses kehamilan, tibalah saat dimana jabang bayi terlahir di dunia. Hal ini digambarkan dalam tembang berjudul mijil yang merupakan tembang kedua dari sebelas tembang Macapat. Mijil itu sendiri berasal dari kata Wijil yang berarti keluar. Pada tembang ini lebih banyak pula penggambaran tentang jasa orang-tua. Terutama ibu yang pada saat melahirkan anaknya berusaha sekuat tenaga memperjuangkan dua nyawa (nyawa anaknya dan dirinya sendiri).

Begitu besar pengorbanan seorang ibu. Dibalik proses kelahiran yang menangguhkan nyawa tersebut. Kita bisa mengambil hikmah pula tentang cinta dan harapan-harapan keluarga kepada anak-anak mereka yang dilahirkan di dunia. Harapan agar menjadi pribadi-pribadi beriman dan beramal sholih. Menghormati orang tua (terutama ibu) yang telah mengandung dan merawat kita sejak dalam kandungan hingga besar adalah suatu kewajiban yang oleh Allah diperintahkan kepada orang islam. Hal ini tertera dalam surat Al Ahqaf ayat 15.

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Dan Allah memerintahkan kepada manusia dalam ayat tersebut agar berbuat baik kepada kedua orangtua. Di ayat tersebut dijelaskan pula bahwa sosok ibu telah bersusah payah mengandung bayi, melahirkan, hingga menyapih dan merawatnya sampai dewasa.

Dalam Surat ini, himbauan untuk menjadi sosok yang bersyukur kembali ditekankan. Di bagian belakang surat, sobat bisa menelaah bahwa hingga ketika dia (bayi) dewasa, maka dia berdoa kepada Allah agar menjadi orang yang mensyukuri nikmat Allah dan agar dirinya menjadi orang yang beramal sholih dengan diliputi oleh ridha dari Allah. Sungguh seharusnya manusia adalah orang-orang yang berserah diri kepada Allah.

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!