Ada Kebaikan dalam Kesederhanaan: Kisah Sahabat Rasulullah Said bin Amir RA

0
2458

Ada kebaikan dalam kesederhanaan – Beberapa waktu yang lalu kami telah menceritakan kisah memilukan salah satu kisah mencerahkan sahabat Rasulullah Khubab bin Adi sebagai nasihat kita semua agar selalu tabah dan sabar menghadapi cobaan dan nasihat untuk mencintai Allah dan Rasul. Dalam cerita tersebut, kami menyebutkan salah satu tokoh kafir Quraisy muda yang bernama Said bin Amir, yang ikut serta dalam menyaksikan hukuman mati Sahabat Khubab bin Adi.

Bisa dikatakan titik awal mulanya Said bin Amir ini kemudian memutuskan untuk memeluk islam sangat lekat dengan peristiwa dieksekusinya Khubab bin Adi. Beliau menjadi muslim karena mengingat doa yang dipanjatkan oleh orang yang mencintai Tuhan dan Rasulnya melebihi apapun (Khubab bin Adi) didetik-detik hembusan nafas terakhirnya. Doa permohonan kepada Allah untuk membalaskan dan memusnahkan semua orang kafir yang menyaksikan kematiannya waktu itu. Doa yang terucap diantara nafas sesak dan simbah darah tersebut mungkin tidak diingat oleh orang-orang kafir, namun tidak untuk Said bin Amir.

Pengangkatan Said bin Amir Menjadi Gubernur Hims

Said bin Amir telah diberikan hidayah oleh Allah. Beliau hijrah ke Madinah dan selalu siap sedia mendukung Rasulullah dalam banyak peristiwa-peristiwa penting. Bahkan setelah Rasulullah kembali ke Rahmatullah, dirinya tetap senantiasa menjadi orang yang bisa dipercaya oleh khalifah-khalifah, khususnya Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Karena kebaikan dan pengorbanannya, diangkatlah dia oleh Umar bin Khattab sebagai Gubernur Hims. Awalnya beliau menolak, namun akhirnya dimarahi oleh Sahabat Umar bin Khattab dan akhirnya dengan ikhlas menerima beban sebagai Gubernur daerah Hims.

Gubernur yang termasuk dalam daftar orang miskin

Suatu ketika ada beberapa petugas dari Hims dengan membawa daftar orang miskin yang datang menemui Khalifah Umar bin Khattab. Pada waktu itu memang beliau memanggil petugas dari beberapa daerah untuk membagikan kefadholan Allah kepada hamba-hambanya yang membutuhkan. Ketika memeriksa daftar tersebut Umar kaget dan berkata “Siapa Said bin Amir yang engkau tuliskan didalam daftar ini wahai petugas?” – Para petugas yang membawa daftar itupun mengatakan bahwa itu adalah Gubernur Hims itu sendiri. Benar benar Ada kebaikan dalam kesederhanaan beliau.

Dengan berlinangan air mata beliau kemudian memasukkan uang seibu dinar kedalam sebuah kantong dan memerintahkan petugas tersebut untuk menyerahkannya kepada Said bin Amir. Namun setelah Said bin Amir menerimanya, beliau istirja’ dan berkata “dunia telah datang kepadaku, aku takut dia akan merusak akhiratku” – tanpa pikir panjang, beliau memerintahkan istrinya untuk membagi-bagikan kantong berisi uang tersebut kepada orang-orang miskin di Hims.

4 Keluhan Masyarakat Hims pada Gubernurnya

Lama waktu tak berselang, kemudian datanglah Khalifah Umar berkunjung ke daerah Hims untuk melihat keadaan disana sekaligus bersilaturahmi. Beberapa warga masyarakat kemudian datang kepada beliau untuk memberi salam serta mengadukan 4 keluhan mereka atas gubernur Hims, yaitu Said bin Amir. Mendengar hal itu, Umar terkejut dan langsung memanggil Said bin Amir untuk berunding bersama para masyarakat yang mengadukan keluhan-keluhan mereka itu.

Singkat cerita datanglah Said bin Amir dihadapan Umar bin khattab dan beberapa masyarakat yang mengadukan keluhannya tersebut. Masyarakat tersebut kemudian mengemukakkan 4 keluhan mereka (1) Beliau tidak pernah menemui mereka hingga siang hari tiba (2) Beliau tidak menerima tamu dimalam hari (3) Ada satu hari dalam sebulan dimana beliau tidak menemui atau menerima tamu sama sekali, dan (3) Beliau kadang terjatuh tak sadarkan diri hingga dia tidak ingat pada sekitarnya.

Sahabat Umar bin Khattab kemudian mengernyitkan dahi dan menanyakan hal itu kepada Said bin Amir, kenapa dirinya bisa bertindak seperti itu? Namun jawaban Said selanjutnya benar-benar menunjukkan betapa Ada kebaikan dalam kesederhanaan – Dalam suara lirih beliau menjawab “Demi Allah, aku malu mengatakan hal ini. aku tidak punya pembantu, jadi dipagi hari aku mengaduk adonan kue untuk makan keluargaku, setelah siang aku baru menemui masyarakat. Aku tidak menerima tamu dimalam hari karena aku telah memberikan segenap waktuku pada mereka disiang hari dan aku ingin memberikan waktuku untuk Allah dimalam hari. Aku tidak bisa keluar dan menerima tamu dalam satu hari sebulan karena saya harus mencuci satu-satunya baju saya yang sedang saya pakai ini dan menunggunya hingga kering, baru bisa keluar rumah. Dan aku sering pingsan dan tidka menghiraukan sekelilingku karena aku masih takut pada doa Sahabat Khubab bin Adi ketika dirinya dihukum mati, aku selalu dihantui oleh itu sehingga hilang kesadaranku”

Mendengar jawaban Said bin Amir, Umar bin Khattab dan masyarakat Hims membasahi pipi-pipi mereka dengan air mata deras yang terus mengalir.

Apa yang bisa dipetik dari kisah tersebut?

Sahabat Rasulullah Said bin Amir adalah sesosok yang menomor satukan perkara Allah dan Rasul diatas segalanya. Beliau peduli terhadap sesamanya meski dia sendiri sebenarnya adalah orang yang kurang mampu. Namun jangan lihat dari kurang mampunya beliau, tapi lihatlah dari seberapa besar hati dan kebaikan-kebaikan beliau yang diselimuti kesederhanaan. Ada kebaikan dalam kesederhanaan. Semoga kita bisa menjadikannya contoh dan tauladan dalam hidup. Amiin

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!