Belajar Tegar Menghadapi Cobaan Hidup! (Kisah Pilu Sahabat Rasulullah Khubab bin Adi)

0
3495
A pawn on the chequer before the shapes.

Setiap manusia di dunia ini memiliki kesulitannya masing-masing. Sebagai seorang islam beriman dan bertaqwa kepada Allah, suatu hal yang pasti adalah kita harus selalu belajar tegar menghadapi cobaan hidup. Ketabahan dan kesabaran kita dalam menjalani segala macam ujian dari Allah tidak akan lepas dari seberapa cinta dan sayangnya Allah kepada kita. Meski hidup kita dipenuhi dengan banyaknya cobaan dan rintangan hidup, kita harus tetap bersyukur dan yakin bahwa Allah memiliki rencana yang indah untuk kita.

Pada kesempatan kali ini, kami akan membawakan sebuah cerita pilu salah satu sahabat Rasulullah yang bernama Khubab bin Adi. Seorang pejuang yang dikenal sebagai simbol ketabahan dan ketegarannya dalam menghadapi cobaan. Beliau adalah orang yang tenang dan yakin bahwa tidak ada hal di dunia ini yang perlu ditakuti selain Allah. Beliau juga merupakan seorang yang mati syahid dalam perjuangannya di jalan Allah. Mari kita simak kisah pilu beliau.

Khubab bin Adi dan utusan mata-mata Rasulullah yang tertangkap

Cerita inspiratif tentang belajar tegar menghadapi cobaan hidup yang diangkat dari cerita Khubab bin Adi ini dimulai dari perintah Rasulullah kepada 10 orang utusan guna melakukan misi mata-mata kaum Quraish yang dipimpin oleh Ashim bin Tsabit. Diantara 10 orang tersebut termasuklah Khubab bin Adi. Dalam misi mata-mata tersebut, ternyata ada informan yang berhasil menyebarkan kabar kedatangan mereka. Golongan kufur bani Lihyan kemudian menggerakkan 100 orang pemanah untuk memburu 10 orang tersebut.

Singkat cerita, kesepuluh mata-mata utusan Rasulullah itu terpojok disebuah bukit dan dihujani panah oleh para kaum Kafir. 7 orang dari sepuluh tim ekspedisi tersebut gugur dalam peristiwa tersebut dan 3 orang sisanya dijadikan tawanan oleh kaum kafir. Khubab bin Adi yang merupakan salah satu diantara ketiga orang tersebut kemudian dijual sebagai budak kepada keluarga Al Harits bin Amr yang ketika perang badar tewas ditangan Khubab. Setelah itu, Khubab menjalani hidupnya ditawan dan diperlakukan kasar hari demi hari oleh keluarga tersebut. Bukankah dengar mendengar ini kita harus lebih semangat belajar tegar menghadapi cobaan hidup?

Eksekusi mati Khubab bin Adi yang memilukan

Setelah menjalani hidupnya sebagai budak yang diperlakukan semena-mena, akhirnya kaum kufur bani Lihyah memutuskan untuk mengeksekusi Khubab bin Adi. Tibalah waktu dimana Khubab bin Adi dibawa ke tanah Tan’im yang berada di tanah Haram untuk dieksekusi. Pelaksanaan hukuman mati itu disaksikan oleh pemuka Quraish seperti Shafwan bin Umayyah, Abu Sufyan, termasuk Said bin amir yang kemudian masuk islam karena peristiwa ini.

Diceritakan dalam kisah itu, Khubab bin Adi diseret jatuh bangun dengan menggunakan tambang, ketika para wanita, anak-anak dan lelaki kafir Quraisy melempari, mendorong, dan menendangi tubuhnya dengan kuat untuk melampiaskan dendam mereka atas kekalahan di perang Badr yang membuat banyak orang kafir terbunuh. Sesampainya di pelataran eksekusi, khubab bin Adi berkata “Perkenankanlah aku melaksanakan shalat dua rekaat sebelum kalian melangsungkan hukuman mati kepadaku” – kaum kafir pun mengabulkannya.

Setelah selesai melaksanakan shalat dua rekaat yang sempurna, kemudian datanglah Khubab kehadapan mereka orang terkemuka kafir Quraish seraya berkata “Engkau boleh menyangka bila aku melaksanakan shalat dalam waktu yang lama karena takut mati, Namun demi Allah! Bila aku takut pada kematian, maka niscaya aku akan menambah rekaat shalatku” – mendengar hal itu, kaum kafir kemudian geram dan memancang Khubab bin Adi dan menyiksanya tanpa belas kasih. Mereka mencincang satu persatu bagian tubuh Khubab, memotongnya sendi demi sendi walaupun dia masih hidup.

Dalam keadaan kesakitan dan darah yang bercecer dimana-mana, berteriaklah orang-orang kufur kepadanya “Bila saja kau bisa menggantikan posisimu, dimana engkau selamat dan Muhammad yang dicincang pada saat ini, apakah engkau akan melakukannya?” – dengan keadaan yang naas dan lemah, Khubab bin Adi berteriak pula menjawab “Tidak! Demi dzat yang memiliki diriku, niscaya aku tidak ingin hidup aman beserta keluargaku sedangkan Rasulullah sedang merintih kesakitan karena tertusuk duri!”

Mendengar jawaban itu pula, kemudian orang kafir Quraisy semakin menjadi-jadi menyiksanya, dan mengangkat jasadnya tinggi-tinggi bersama sorak sorai mereka. Dalam keadaan seperti ini, Khubab bin Adi menengadahkan wajahnya ke langit dan berdoa agar Allah membalaskan perbuatan kafir Quraisy terhadapnya tanpa menyisakan satupun dari mereka. Hingga kemudian gugurlah Khubab bin Adi tanpa sanggup membela diri dari terjangan panah, tombak dan tebasan pedang-pedang yang memotong-motong tubuhnya.

Apa yang bisa dipetik dari kisah ini?

Kisah sahabat Rasulullah Khubab bin Adi ini tentunya mengajarkan kepada kita tentang seberat apapun cobaan yang kita lalui, kita tetap harus tabah dan ingat kepada Allah bagaimanapun keadaannya. Kita harus percaya bahwa Allah maha adil dan menerima segala ketentuan-ketentuan Allah tanpa mengeluh. Mari kita rasakan penderitaan sahabat Khubab bin Adi hingga ke hati sanubari kita, dan katakan: Alhamdulillah, penderitaan dan cobaan hidup yang aku alami ini tidak berat. Mari kita belajar tegar menghadapi cobaan hidup! Semoga bermanfaat ya.

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!