Janda Kaya Nikahi Pria Pengangguran Viral, Singgung Nabi Muhammad SAW?

0
565
janda kaya menikahi pria pengangguran

Janda kaya nikahi pria pengangguran – Calon wakil Gubernur DKI Jakarta, Suswono tengah viral soal kelakar memberi saran agar janda kaya nikahi pria pengangguran. Saran tersebut mencuat dalam konteks agar angka kesejahteraan di Jakarta mengalami peningkatan. Kelakar tersebut semakin menuai kontroversial lantaran menyebut nabi Muhammad pengangguran sebelum menikah dengan Khadijah.

Viralnya Pernyataan Suswono Soal Janda Kaya Nikahi Pengangguran

Suswono akhirnya meminta maaf atas candaan yang menyarankan janda kaya nikahi pengangguran. Cawagub Jakarta nomor urut 1 tersebut memantik reaksi publik. Ia menyadari bahwa pernyataan saat pertemuannya dengan relawan Bang Japar telah menimbulkan polemik.

Suswono lebih lanjut menjelaskan bahwa pernyataan tersebut hanya kelakar pada saat merespon celetukan salah satu warga. Ia mengaku tidak bermaksud mengaitkannya dengan Rasulullah SAW. Pernyataan pemuda nikahi janda sempat mendapat tanggapan dari PP Muhammadiyah.

Muhammadiyah meluruskan bahwa menyebut nabi Muhammad SAW menganggur sebelum menikah adalah keliru. Faktanya, Nabi Muhammad bekerja sebagai penggembala sebelum menikahi Khadijah. Terlebih lagi, pernikahan Nabi Muhammad merupakan pilar penting sebelum masa kenabian.

Khadijah merupakan wanita mulia, sebagaimana digambarkan pada hadist berikut ini:

“Wanita terbaik ialah Maryam putri Imran dan Khadijah” 1

Pernyataan Suswono tentang janda kaya nikahi pengangguran memang tidak patut. Terlebih lagi ia mencalonkan diri sebagai calon pemimpin yang seharusnya memiliki sifat yang patut diteladani.

Keutamaan Menjaga Lisan

Menjaga lisan merupakan upaya menjadi hamba Allah yang bertanggung jawab. Sobat Cahaya Islam harus menyadari bahwa setiap ucapan memiliki dampak. Lisan, tangan, dan kaki nantinya akan menjadi saksi saat hari perhitungan tiba.

Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadist tentang pentingnya menjaga lisan berikut ini:

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kalimat tanpa dipikirkan terlebih dahulu, dan karenanya dia terjatuh ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat” 2

janda kaya menikahi pria pengangguran

Pentingnya adab menjaga lisan harus Sobat Cahaya Islam pahami sebab lisan ibarat pisau yang bisa melukai hati orang banyak. Setiap kalimat yang keluar dari mulut umat Islam akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Oleh karena itu, sebaik-baiknya manusia yang terampil yaitu memperhitungkan dan memperhatikan setiap perkataan.

Berikut ini keutamaan jika umat Islam bisa menjaga lisannya:

1.     Mendapatkan Jaminan Surga

Salah satu manfaat penting menjaga lisan yaitu agar tidak salah kata sehingga melukai banyak orang. Setiap ucapan tidak luput dari pendengaran Allah. Oleh karena itu, Allah mengutus malaikat untuk mencatat setiap ucapan umatNya. Allah memberikan jaminan surga untuk umatNya yang bisa menjaga perkataan.

2.     Mendapatkan Ridha Allah

Umat Islam yang mampu menjaga lisan akan mendapatkan ridha dari Allah SWT. Allah selalu mencatat keridhaan sampai umat Islam berjumpa denganNya.

3.     Memiliki Kedudukan yang Tinggi

Lisan merupakan anugerah dari Allah kepada setiap umat melalui lisan. Manusia bisa berkomunikasi sehingga sudah sepatutnya menjaga lisan. Nabi Muhammad meminta kaum muslim membatasi ucapannya. Bahkan beliau menganjurkan untuk menghindari berbicara jika tidak ada kepentingan.

janda kaya menikahi pria pengangguran

Lebih baik memperbanyak berdzikir daripada berbicara, sebab perkataan tanpa dzikir akan meresahkan hati. Saat ini banyak perbuatan yang berasal dari lisan berujung menjadi dosa contohnya pernyataan janda kaya nikahi pengangguran oleh Jalan wakil gubernur Jakarta nomor urut 1.

Seorang muslim yang mampu menjaga lisan dan tangannya dari berbuat buruk kepada orang lain akan memperoleh kedudukan yang lebih tinggi.

Dari kasus candaan janda kaya nikahi pengangguran yang dilontarkan Suswono, Sobat Cahaya Islam dapat memetik hikmah bahwa perlu menjaga lisan. Sebab lisan dapat menyakiti hati orang lain jika tidak bijak saat berbicara.


  1. (HR Al Bukhari 3432, Muslim 2430) ↩︎
  2. (HR Muslim nomor 2998) ↩︎

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY