Ustadz Tengku Zulkarnaen Berpulang, Bencana Krisis Ilmu Bagi Umat

0
46
Tengku Zulkarnaen

Tengku Zulkarnaen – Beberapa hari lagi Ramadhan akan berakhir namun Indonesia berduka dengan kepergian ulama’ kondang, Ustadz Tengku Zulkarnaen. Beliau dikenal karena kecerdasannya dalam menyampaikan gagasan Islam serta ketegasan dalam membela syiar Islam. Tersebab keberaniannya lah, beliau seringkali menghadapi beberapa tantangan dalam dakwahnya.

Sobat Cahaya Islam, kematian adalah batas pemisah antara kehidupan sementara dan sesungguhnya. Dunia hanyalah tempat untuk melepas dahaga, sementara akhirat adalah kampung terakhir untuk ditinggali. Utamanya, kematian seorang ulama’ adalah bencana keilmuan yang harus dihadapi oleh kaum muslimin.

Kematian Ustadz Tengku Zulkarnaen adalah Bencana Krisis Ilmu

Tengku Zulkarnaen

Sobat Cahaya Islam, perlu diketahui bahwa ketiadaan seorang ulama’ di sebuah peradaban adalah sebuah bencana. Hal ini disebabkan lantaran ulama’ adalah generasi pewaris dakwah Islam setelah Rasulullah SAW.

 Tentu dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk mengasah keterampilan serta keuletan generasi muslim agar menjadi penggerak dakwah Islam selanjutnya. Selain itu, dalam proses pemantapan dakwah Islamnya, para calon ulama’ ini haruslah dididik dengan pemahaman aqidah Islam yang kental dan orisinil agar tidak terjadi penyelewengan dan berakhir pada ketidaktahuan umat akan Islam.

Oleh karena itu, berkurangnya ulama’ menyebabkan pemerataan ilmu Islam tak signifikan. Sebab, hari ini banyak didapati bahwa aqidah Islam hanya tertancap secara menyeluruh pada sebagian umat muslim saja.

Lebih banyaknya, umat mengakui keislamannya karena sesuai dengan yang tertulis di KTP. Fakta ini adalah ironi yang senantiasa menjadi permasalahan umat muslim sekarang. Maka dari itu, kuantitas ulama’ harusnya semakin banyak.

Namun, sudah menjadi sebuah Sunnatullah bahwa umat yang condong pada kebaikan terlebih mendedikasikan diri sebagai ulama’ adalah para pekerja terbaik. Hal tersebut sudah disampaikan Allah SWT dalam firmanNya yakni :

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ ٱلْمُسْلِمِينَ

Arti: Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (Quran Surat Fussilat Ayat 33)

Strategi Melahirkan Ulama’ Baru

Tengku Zulkarnaen

Dampak dari berkurangnya ulama’ yakni terhambatnya pembelajaran Islam bagi masyarakat awam. Jika umat dibiarkan tanpa tuntunan Islam, tentu bisa dibayangkan bagaimana kondisi peradaban di masa depan.

Faktanya, di masa sekarang saja telah banyak fenomena – fenomena keharaman yang menjadi kewajaran lantaran tak memahami esensi dosa dan larangan Allah SWT. Tentu ini akan menjadi tugas bagi para ulama’ untuk meluruskannya.

Walaupun sebenarnya seluruh kaum muslim bertanggung jawab atas penurunan aqidah dalam umat, namun tampaknya sekarang terdapat dikotomi bahwa Ulama’ lah yang harusnya meluruskan umat muslim yang bejat.

Terdapat beberapa strategi yang bisa dilakukan agar umat dapat mencetak kembali generasi para ulama’. Pertama, kuatkan pondasi pesantren yang menjadi pencetak unggul generasi calon mubaligh dan mubalighoh.

Pesantren harus menjadi wadah transparan bagi para generasi muslim. Selain itu, harus dipastikan bahwa tidak terdapat pemahaman menyesatkan dalam pesantren tersebut. Akan menjadi bahaya tersendiri generasi peradaban menjadi generasi yang tersesat.

Nah Sobat Cahaya Islam, itulah penjelasan sederhana mengenai urgensitas mencetak generasi ulama baru seperti Ustadz Tengku Zulkarnaen serta para ulama’ yang sudah terlebih dahulu meninggalkan dunia ini. Semoga kematian menjadi pengingat sejati bagi umat muslim agar senantiasa beramal secara maksimal dan memperbanyak sedekah.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY