RUU Cipta Kerja dan Status Halal dalam Islam

0
36

RUU Cipta Kerja – RUU Cipta Lapangan Kerja saat ini tengah ramai diperbincangkan, salah satunya sertifikasi halal dalam Pasal 49 RUU Cipta Lapangan Kerja. RUU ini dikabarkan akan segera rampung dalam waktu dekat.

Omnibus Law menyebutkan akan melakukan penyederhanaan pada proses perizinan usaha di Indonesia. Peraturan ini juga dapat dilakukan oleh ormas atau pun Perguruan Tinggi Negeri.

Pihaknya juga menjamin akan membebaskan biaya sertifikasi halal bagi pelaku usaha berskala kecil. Karena biaya sertifikasi akan ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah. Proses ini disebutkan Omnisbus Law tidak akan berbelit-belit. Karena dikhawatirkan menghambat pengusaha kecil seperti pedagang gorengan, ataupun pengusaha warteg.

Dengan begitu tidak akan ada lagi monopoli penetapan sertifikasi halal suatu produk oleh lembaga keagamaan tertentu. Sebelumnya Pasal 49 RUU Cipta Kerja ini sudah mengalami revisi yakni dihapusnya kewenangan tunggal MUI dalam menetapkan produk halal.

Terlepas dari aturan sertifikasi halal, halal memang wajib bagi seorang muslim untuk mengonsumsi sesuatu yang halal. Mulai dari cara dan proses sebelum mengonsumsi sesuatu, serta berbagai aspek kehidupan seorang muslim yang sesuai syariat agama.

Sobat Cahya Islam, segala hukum dalam kehidupan telah diatur dalam Al Quran. Salah satunya materi yang halal dalam Surat Al Baqarah ayat 172.

RUU Cipta Kerja dan Status Halal dalam Islam

Halal berasal dari bahasa Arab yang artinya sesuai yang baik, diperbolehkan, dan sesuai aturan hukum. Aturan itu tercantum dalam Al Quran, yakni surat Al Baqarag ayat 172 yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (QS: Al Baqarah:172)

Risiko Mengonsumsi Makanan Haram

Ada dua jenis makanan yang dikategorikan haram, yakni asal makanan tersebut dan karena suatu kondisi. Contohnya seperti babi dan khamr, keduanya dikatakan haram karena mengakibatkan keburukan dalam tubuh atau bisa mendatangkan penyakit.

  1. Mengundang Keburukan

Mengonsumsi segala materi yang bersifat haram dipercaya akan menghasilkan energi yang negatif. Hal tersebut disebutkan dalam kitab Ihya ‘Ulum al-Din jilid 2, Al-Ghazali menyebutkan energi tersebut digunakan untuk hal yang berbau maksiat.

  1. Doa Terhalang

Rasulullah SAW pernah berkata pada sahabatnya Sa’ad RA bahwa orang yang berinteraksi dengan sesuatu yang haram akan terhalang doanya

 

  1. Sukar Mendapat Ilmu Allah

Imam Syafi’i pernah mengeluh pada gurunya Imam Waki karena sulit menghafal ilmu. Imam Waki menyebut ilmu sebagai cahaya, artinya ilmu hanya diterima oleh orang yang menegakakan kehalalan.

  1. Jadi Penghuni Neraka

Rasulullah SAW menegaskan orang yang mengonsumsi sesuatu yang haram maka sudah tentu menjadi penghuni neraka.

Sobat Cahya Islam, pengertian haram dan halal bukan hanya mengenai makanan saja tapi juga perbuatan. Dan haram ialah sesuatu yang membahayakan dan merugikan. Meski demikian status haram akan dipertimbangkan ulang jika digunakan untuk hal yang mendesak misalnya keperluan obat-obatan atau kondisi yang mengancam nyawa.

Pemberlakuan RUU Cipta Kerja mendapat perhatian penuh dari MUI. MUI menilai peraturan tersebut berkaitan erat dengan ajaran Islam. Pihaknya meminta pemerintah pusat untuk lebih berhati-hati pada materi pengaturan halal tersebut.

 

TIDAK ADA KOMENTAR

Ikut Berkomentar Yuk!