Sejarah islam dan Literatur – Siapakah yang tak kenal Abu Nuwas? Kita kadangkala lebih mengenalnya dengan nama Abu Nawas. Di Indonesia kita biasanya mengenal sosok Abu Nawas sebagai sosok yang lucu. Namanya selalu muncul sebagai tokoh dalam kisah-kisah lucu seperti Nasruddin Khoja. Abu Nuwas misalnya seringkali dikisahkan dia dipanggil oleh Khalifah Harun al-Rasyid yang memang benar-benar ada di dalam sejarah Islam, diberi teka-teki yang harus dia pecahkan dalam waktu tertentu. Kalau dia tidak bisa memecahkannya, maka kepalanya akan dipenggal. Biasanya kemudian, Abu Nuwas selalu bisa memecahkan teka-teki apapun. Sehingga dia selalu selamat dari hukum penggal dan sebaliknya justru mendapatkan hadiah uang emas dari khalifah.
Cerita-cerita semacam itu dalam islam biasanya menjadi sarana dakwah islam. Artinya, ada pelajaran-pelajaran yang baik yang bisa diperoleh dari sana, meskipun karena pelajaran ini tersirat maka seringkali menangkap pelajaran itu tidaklah mudah. Nah, terkadang gara-gara kita mengenalnya melalui cerita, maka kita menganggapnya hanya sebagai tokoh yang fiktif. Padahal, sobat cahayaIslam, sebagaimana Khalifah Harun al-Rasyid, Abu Nuwas itu tokoh yang benar-benar ada lho di dalam sejarah islam. Mari kita mengintip sebagian kisah tentangnya.
Sejarah islam dan Literatur: Abu Nuwas sang penyair Khamriyat
Abu Nuwas adalah seorang penyair besar, setidaknya kalau itu dilihat dari pencapaian estetika puisinya. Akan tetapi dia juga dalam sejarah Islam dipandang sebagai penyair perintis genre puisi yang kemudian disebut sebagai syair-syair Khamriyyat. Syair-syair khamriyyat ini memuja anggur di dalam baris-barisnya. Padahal sementara itu di dalam Alquran sendiri hukum meminum minuman keras semacam anggur itu sudah dijelaskan dan mutlak, seperti difirmankan di dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 219 sebagai berikut:
يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْخَمْرِ وَٱلْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَآ إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَٰفِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَآ أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا ۗ وَيَسْـَٔلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلِ ٱلْعَفْوَ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمُ ٱلْءَايَٰتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ
Dari ayat di atas sudah jelas bahwa hukum minuman keras itu haram mutlak dan merupakan dosa besar. Lalu bagaimana bisa kemudian seorang penyair terkenal Islam tetapi memuja anggur? Tentang hal tersebut ada banyak tafsir juga. Ada yang menafsirkan misalnya bahwa dalam sejarah Islam apa yang dilakukan oleh Abu Nuwas itu bisa dipandang sebagai sebuah pemberontakan terhadap kezaliman di negaranya yang seringkali dilakukan oleh penguasa-penguasa islam. Dia ingin menunjukkan bahwa daripada kemunafikan seperti itu akan lebih bagus jujur dan terang-terangan.
Tetapi ada juga yang menafsirkan dari sudut pandang lain, bahwa Abu Nuwas memang menjalani hidup yang jauh dari nilai-nilai keislaman. Selain itu, di dalam sejarah Islam yang berhubungan dengan kepenyairan, ada juga disebutkan bahwa Abu Nuwas memiliki kecenderungan homoseksual. Tentu saja hukum homoseksual dalam islam juga jelas terlarang. Jika menggunakan sudut pandang ini, sosok Abu Nuwas ini bisa dilihat sebagai sama sekali bukan sosok tokoh yang bisa diteladani. Selain minum Khamr, dia seorang homoseksual pula.
Abu Nuwas yang Bertaubat
Nah, tapi, sobat cahayaislam, kisahnya belum selesai. Dikisahkan bahwa kemudian di akhir hidupnya Abu Nuwas bertaubat. Memang kemudian kisah tersebut tidak ditulis dalam sejarah Islam yang kredibel, akan tetapi disebutkan bahwa setelah kematian Abu Nuwas, seorang ulama di kotanya bermimpi melihat Abu Nuwas dengan wajah berseri-seri mengenakan mahkota emas.
Dia kemudian ditanya kenapa orang yang banyak melakukan hal terlarang seperti dia bisa mendapatkan kenikmatan seperti itu? Abu Nuwas lalu menjawab bahwa dia sudah bertaubat, doa taubatnya bisa ditemukan di bawah bantalnya. Besoknya ulama ini melihat ke bawah bantal Abu Nuwas, lalu dia menemukan secarik kertas bertuliskan doa dalam bentuk puisi. Doa itu yang diawali dengan baris Ilahi lastu lil firdausi ahla, kemudian menjadi salah satu doa taubat yang paling populer dalam Islam sampai sekarang. Semoga menambah khazanah ilmu dalam kehidupan islam kita ya!

































