Jalan beragama yang Muhammadiyah tempuh – Corak keberagaman umat Islam belum terbuka lantaran keterbatasan literasi dan edukasi. Jalan beragama yang Muhammadiyah tempuh erat kaitannya dengan alasan berdirinya organisasi Islam yang satu ini. Hadirnya Muhammadiyah membawa pencerahan demi mencerdaskan umat.
Jalan Beragama yang Ditempuh Muhammadiyah
Pengajian Malam Selasa yang sudah menjadi agenda rutin menghadirkan Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Gita Danu Pranata, sebagai penceramah. Kegiatan keagamaan yang diikuti oleh santri serta jamaah Muhammadiyah tersebut mengangkat tema yang spesial.
Tema Jalan Beragama yang Muhammadiyah tempuh untuk Islam berkemajuan sudah sejak lama menjadi identitas dan pilihan ideologis. Dalam penyampaiannya, Gita mengajak seluruh peserta untuk memahami Islam Berkemajuan secara utuh.
Ia menegaskan bahwa konsep tersebut tidak sekadar istilah atau slogan, melainkan pondasi ideologis, teologis, dan praksis yang menopang seluruh gerak Muhammadiyah. Menurutnya, masih terdapat anggapan pada sebagian kalangan bahwa Islam Berkemajuan merupakan gagasan baru yang lahir dari Muktamar Muhammadiyah di Surakarta pada tahun 2022.
Ada yang menilai konsep jalan beragama yang ditempuh Muhammadiyah bersandar pada Islam berkemajuan sebagai konstruksi pemikiran elite pimpinan Muhammadiyah masa kini. Gita menilai pandangan tersebut kurang tepat. Ia menjelaskan bahwa semangat kemajuan telah melekat sejak Muhammadiyah berdiri.
Hal itu dapat ditelusuri melalui dokumen-dokumen resmi persyarikatan, termasuk Statuten Muhammadiyah tahun 1912 yang secara eksplisit menyebut tujuan organisasi untuk memajukan ajaran agama bagi para anggotanya.
Fakta Historis Islam Berkemajuan
Semangat jalan beragama yang ada pada konsep kemuhammadiyahan sejalan dengan dalam misi penyebaran ajaran Nabi Muhammad Saw kepada masyarakat bumiputera. Menurut Gita, fakta historis tersebut menunjukkan bahwa Islam Berkemajuan bukanlah produk pemikiran baru, melainkan ruh yang lahir dan tumbuh bersama Muhammadiyah.


Ia juga mengutip pesan Kiai Ahmad Dahlan kepada murid-muridnya agar menjadi kiai yang berkemajuan dan tidak pernah merasa lelah dalam berkhidmat. Pesan itu, kata Gita, seringkali hadirnya kesalahpahaman akibat pemenggalan konteks.
Padahal, esensinya adalah dorongan agar warga Muhammadiyah tidak bersikap apatis, stagnan, atau bekerja sekedarnya dalam memajukan persyarikatan dan umat. Lebih jauh, Gita memaparkan bahwa Risalah Islam Berkemajuan merupakan pandangan keislaman Muhammadiyah yang menekankan nilai kemajuan, keterbukaan terhadap modernitas.
Jalan beragama yang Muhammadiyah tempuh berkaitan erat dengan relevansi Islam dalam menjawab tantangan zaman. Meski rumusan resminya dikodifikasikan dalam Muktamar Surakarta, substansi dan praktiknya telah dijalankan sejak awal perjalanan Muhammadiyah. Ia menegaskan bahwa Islam Berkemajuan pada hakikatnya adalah Islam itu sendiri.
Apabila ajaran Islam yang Sobat pahami dan amalkan secara benar, maka kemajuan akan lahir dengan sendirinya. Sebaliknya, jika umat Islam mengalami stagnasi, maka menjadi indikasi adanya kekeliruan atau aspek ajaran yang belum berjalan secara optimal.
Dalam pengajian tersebut, Gita juga menguraikan lima karakter utama Islam Berkemajuan, yakni:
- Berlandaskan tauhid
- Bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah
- Menghidupkan ijtihad dan tajdid
- Mengembangkan sikap wasathiyah atau moderasi
- Menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Kelima karakter ini harus dijalankan secara menyeluruh dan seimbang agar tidak kehilangan arah. Menutup pengajian, Gita menegaskan bahwa Islam Berkemajuan bukan sekadar wacana konseptual, melainkan peta jalan beragama yang rasional, moderat, dan berorientasi pada kemaslahatan.
Melalui pemahaman jalan beragama yang Muhammadiyah tempuh, warga dapat menjalani Islam dengan manhaj berkemajuan dalam kehidupan pribadi, sosial, dan kebangsaan.





























