Mengenal Budaya Cancel Culture dalam Islam, Apakah Termasuk Bagian Adab Menegur?

0
394
budaya cancel cultur dalam Islam

Budaya cancel cultur dalam Islam – Fenomena cancel culture kerap Sobat temui di era digital saat ini. Hanya dalam satu klik, seseorang bisa kehilangan reputasinya hanya dari potongan pertanyaan yang belum tentu benar. Apakah budaya cancel cultur dalam Islam merupakan bagian dari adab menegur? Faktanya Islam sangat menjunjung tinggi keadilan dan sangat berhati-hati dalam bersikap.

Apakah Budaya Cancel Culture dalam Islam Diperbolehkan?

Cancel culture merupakan fenomena di mana seseorang secara sosial karena tindakan maupun ucapannya dianggap salah oleh masyarakat. Maraknya fenomena ini membawa penghakiman massal yang berakibat merusak kehormatan seseorang. Sobat wajib memiliki pedoman dalam menyikapi kesalahan orang lain, yakni tetap berlandaskan adab.

Penghakiman tak berdasar tersebut dapat menjadi alat untuk menuntut keadilan sosial, namun justru berujung kesalahan. Penghakiman tanpa dasar yang kuat justru akan menjadikan ketidakadilan merajalela. Dalam Islam selalu mengajarkan agar menasehati yang bertujuan membangun, tidak untuk mempermalukan. 

budaya cancel cultur dalam Islam

Islam menjunjung tinggi adab dalam menegur sesama umat, sebagaimana ayat berikut ini:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” 1

Cancel cultur sering terjadi untuk mengoreksi kesalahan dalam isu moral atau sosial. Cara yang masyarakat tempuh seringkali salah karena mengabaikan prinsip etika. Seseorang dapat mendapatkan cap bersalah dan diasingkan tanpa kesempatan menjelaskan. 

Secara jangka panjang, budaya cancel culture dalam Islam justru menimbulkan ketakutan hingga intoleransi. Padahal Islam mengedepankan Sobat bisa berlaku adil, sabar, dan penuh kasih sayang. 

Adab Menegur dalam Islam

Islam mengajarkan cara menegur menggunakan adab, kasih sayang, serta niat memperbaiki perbuatan yang salah. Sobat wajib mewaspadai agar tidak terjebak pada penghakiman yang mempermalukan orang lain. Teguran harus membangun serta mencerminkan nilai-nilai Islam, sehingga akan membawa pada perubahan positif. 

Budaya tabayyun dalam Islam membawa dampak positif terutama kepada kesehatan mental serta hubungan sosial. Sobat harus selalu berpikir kritis serta berhati-hati agar tidak terjebak emosi dan menjadi pelaku budaya cancel culture dalam Islam. Melalui tabayyun, maka masyarakat menjadi lebih tenang dan tidak mudah terjebak dalam manipulasi informasi. 

Cancel culture tanpa tabayyun melahirkan budaya menghakimi dan penuh dendam secara sosial. Padahal Islam mengajarkan kasih sayang dan bukan saling menjatuhkan. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan beragama, tabayyun menjadi kunci untuk menjaga persatuan.

Sobat perlu memegang teguh prinsip tabayyun agar tidak saling membenci dan membungkus klaim kebenaran semu. Sebab dalam cancel culture, tertuduh tidak mendapatkan kesempatan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Konsep cancel culture jelas bukan bagian dari adab menegur dalam Islam sebagaimana hadits:

“Cukup seorang itu menjadi pendusta bila ia membicarakan semua informasi yang didengarnya”. 2

Dari hadits tersebut, Sobat bisa menjadikan prinsip untuk tidak menceritakan segala sesuatu yang didengar. Sebab, apa yang Sobat dengar belum tentu mengandung kebenaran secara keseluruhan. Dalam Al Qur’an, orang beriman mendapatkan perintah untuk menerima berita secara hati-hati. 

Selanjutnya, Sobat harus mencari kejelasan atau tabayyun, sehingga memperoleh informasi yang adil. Sikap tabayyun perlu Sobat pertahankan agar tidak menimbulkan penyesalan di masa yang akan datang.  Memahami budaya cancel culture dalam Islam bertentangan dengan tabayyun. Islam memegang teguh sikap adil, kasih sayang, dan tidak menghakimi orang lain. Perlu mempertahankan sikap untuk berhati-hati dalam menerima informasi dan tidak menyebarkannya.


  1. (QS. An-Nahl: 125) ↩︎
  2. (HR. Muslim, No: 04) ↩︎

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY