Inflasi akibat riba – Salah satu masalah makroekonomi yang masih terjadi di Indonesia salah satunya yaitu inflasi. Kenaikan harga barang terjadi terus-menerus dalam periode tertentu membuat masyarakat bertanya-tanya. Inflasi akibat riba tak semata persoalan ekonomi teknis, namun merupakan dampak dari sistem keuangan yang menjauh dari nilai-nilai keadilan.
Memahami Riba dalam Islam
Salah satu faktor yang mendapat sorotan tajam dalam Islam adalah praktik riba yang diyakini berkontribusi besar terhadap ketidakstabilan ekonomi. Selain itu, riba mengakibatkan berkurangnya keberkahan harta. Dalam Islam, riba merupakan tambahan yang diambil secara batil dalam transaksi pinjaman atau jual beli tertentu.
Al-Qur’an secara tegas melarang riba karena mengandung unsur kezaliman dan eksploitasi. Larangan ini bukan tanpa alasan sebagaimana ayat:
“Allah menghilangkan (keberkahan dari) riba dan menyuburkan sedekah. Allah tidak menyukai setiap orang yang sangat kufur lagi bergelimang dosa.” (Al Baqarah 276)
Riba menciptakan ketimpangan struktural antara pihak yang memiliki modal dan pihak yang membutuhkan dana, sehingga kekayaan berputar di kalangan tertentu saja. Ketimpangan inilah yang kemudian memicu tekanan ekonomi, termasuk inflasi. Secara mekanisme, riba mendorong kenaikan biaya produksi dan distribusi.
Pelaku usaha yang mengandalkan pinjaman berbunga harus menanggung beban bunga yang terus bertambah. Untuk menutup biaya tersebut, harga barang dan jasa mengalami kenaikan harga. Akibatnya, konsumenlah yang akhirnya menanggung beban riba secara tidak langsung.
Dalam jangka panjang, kondisi ini menyebabkan harga-harga naik secara sistematis dan daya beli masyarakat melemah.
Mekanisme Inflasi Akibat Riba
Inflasi akibat riba mekanismenya melalui sistem riba mendorong peredaran uang yang tidak produktif. Uang tidak lagi sebagai alat tukar dan penggerak sektor riil, melainkan sebagai komoditas yang diperdagangkan demi keuntungan bunga. Islam memandang praktik ini sebagai penyimpangan fungsi uang.
Ketika uang lebih banyak berputar di sektor keuangan spekulatif daripada di sektor riil. Produksi barang dan jasa tidak sebanding dengan jumlah uang yang beredar. Ketidakseimbangan inilah yang memicu inflasi. Islam juga menilai bahwa riba merusak stabilitas sosial.


Inflasi akibat riba paling berat dirasakan oleh kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Harga kebutuhan pokok meningkat, sementara pendapatan tetap atau bahkan menurun. Kesenjangan ekonomi pun semakin lebar.
Dalam kondisi seperti ini, Islam memandang inflasi bukan sekadar masalah ekonomi, tetapi juga persoalan keadilan sosial dan moral. Sebagai alternatif, Islam menawarkan sistem ekonomi yang bebas riba dan berorientasi pada keadilan. Prinsip bagi hasil, zakat, infak, dan sedekah berperan sebagai instrumen pemerataan ekonomi.
Dalam sistem ini, risiko dan keuntungan menjadi tanggungan bersama, sehingga tidak ada pihak yang mengalami kerugian secara sepihak. Perputaran harta menjadi lebih sehat karena terhubung langsung dengan aktivitas produktif. Selain itu, Islam mendorong pengelolaan uang yang bertanggung jawab dan melarang penimbunan harta.
Solusi Pengendalian Inflasi Berbasis Islam
Untuk menghindari inflasi akibat riba, uang harus terus mengalir dalam kegiatan ekonomi riil agar tercipta keseimbangan antara jumlah uang dan ketersediaan barang. Tekanan inflasi dapat ditekan secara alami dengan dua cara berikut ini:
1.Memperbaiki Moral
Elemen paling esensial untuk merealisasikan tujuan-tujuan Islam yakni berpautnya seluruh aspek kehidupan untuk meningkatkan moral. Kesejahteraan dapat terpenuhi jika kebutuhan material dan spiritual juga terpenuhi.
2. Menghapus Riba
Larangan riba menjelaskan bahwa perbuatan yang Allah larang tersebut akan membawa banyak mudarat. Menghapus riba akan menghentikan seseorang berbuat zalim kepada muslim lainnya sebagaimana hadits:
“Riba itu ada tujuh puluh dosa. Yang paling ringan adalah seperti seseorang menzinai ibu kandungnya sendiri.” (HR. Ibnu Majah, no. 2274)
Pada akhirnya, pandangan Islam terhadap inflasi akibat riba menegaskan bahwa krisis ekonomi bukan hanya persoalan kebijakan moneter, tetapi juga refleksi dari nilai yang dianut suatu sistem. Ketika riba menjadi landasan, inflasi dan ketidakadilan menjadi konsekuensi yang sulit Sobat hindari.































