6 Menteri Baru dilantik, Simak Kewajiban Menjaga Amanah Kepemimpinan

0
76

Menteri Baru – Selasa (22/12) Presiden Joko Widodo melantik 6 menteri baru untuk me-reshuffel menteri lama. Perombakan menteri ini merupakan yang pertama pada kepemimpinan Jokowi. Hal ini telah lama dibicarakan Jokowi saat mengeluhkan kinerja para menterinya dalam menangani pandemi Covid-19 yang masih belum tuntas.

6 menteri baru tersebut dilantik untuk menggantikan 2 kursi menteri yang kosong karena kasus korupsi dan 4 menteri yang dicopot dari jabatannya. Menteri-menteri tersebut adalah Menteri Sosial diisi oleh Bu Risma yang semula menjabat sebagai Walikota Surabaya. Menteri Kelautan dan Perikanan diisi oleh Sakti Wahyu Trenggona menggantikan Edhy Prabowo karena kasus ekspor benih lobster.

Sandiaga Uno mengisi posisi sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggantikan Wishnutama. Muhammad Lutfhi sebagai Menteri Perdagangan. Menteri Agam diisi oleh Yaqut Cholil Qoumas, dan terakhir Menteri Kesehatan digantikan Budi Gunaidi Sadikin. Atas reshuffel ini, diharapkan dapat membantu kinerja Kabinet Indonesia Maju di bawah kepemimpinan Jokowi dan Ma’ruf Amin.

Sobat Cahaya Islam, kita ketahui bersama bahwa pandemi Covid di Indonesia sendiri terbilang masih cukup tinggi kurvanya. Hal ini tentu menjadi PR bagi Presiden dan para menterinya dalam merencanakan strategi, menangani, membuat kebijakan, serta upaya-upaya lain agar pandemi segera berlalu. Netizen sempat meragukan keputusan Jokowi melantik menteri baru yang dianggap kurang sesuai.

Menteri Baru dan Tanggungjawabnya dalam Menjaga Amanah Kepemimpinan

Sobat Cahaya Islam, kita semua tahu bahwa setiap dari kita adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat. Namun, bagaimana sebenarnya kewajiban sebagai seorang pemimpin? Terlebih pemimpin dalam sebuah negara demokratis karena amanat yang diemban bersumber dari kedaulatan rakyat. Simak ulasan berikut:

1.     Menjadi Pemimpin yang Amanah

Pemimpin merupakan seorang yang telah diamanahi untuk memimpin suatu hal. Dalam hal ini 6 menteri baru di atas mendapatkan amanat dari Presiden untuk menangani bidang-bidang yang telah disebutkan. Pemimpin dipilih karena mereka memenuhi syarat sebagai seorang pemimpin, seorang pemimpin haruslah berjiwa kuat dan tidak lemah.

Indonesia merupakan negara demokrasi yang olehnya amanah yang dijalankan oleh para pemimpin di Indonesia bersumber dari kedaulatan rakyat. Maka dari itu, ketika seorang pemimpin telah berkhianat, tidak menjaga dan menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya. Maka pemimpin tersebut termasuk orang yang munafik. Dalam Al-quran dijelaskan sebagai berikut:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa’:58)

2.     Belajar dari Umar bin Khattab

Sahabat Umar terkenal sebagai pemimpin yang tegas dan cukup keras dalam bertindak. Namun, beliau merupakan seorang pemimpin yang pertama kali kelaparan jika rakyatnya kelaparan. Pun demikian, beliau orang yang akan kenyang setelah rakyatnya kenyang. Prinsip kepemimpinan Umar adalah ikut merasakan apa yang dirasakan oleh rakyatnya.

Sahabat Umar bin Khattab telah menjalankan tugasnya sebagai pemimpin yang berhati nurani kuat. Beliau juga tidak pernah menjadikan jabatannya sebagai padang rumput yang bisa digunakan untuk menggembala kambing, pun tidak pernah menganggap jabatan kepemimpinan sebagai buruan yang bebas. Sesungguhnya mengemban amanat kepemimpinan hanya diberikan bagi mereka yang kuat.

Menanggapi dua poin di atas, kita dapat belajar bahwa 6 menteri baru yang dilantik Presiden merupakan orang-orang kuat pilihan dan diharapkan dapat menjadi pemimpin yang amanah. Aamin.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY