Tedak Siten dalam Islam – Hai, Sobat Cahaya Islam, sudah tahukah bagaimana hukum tedak siten dalam Islam?
Sebagai penduduk asli Indonesia, pastinya sudah tidak asing lagi dengan beberapa warisan budaya yang terus dianut hingga sekarang. Apalagi yang memiliki kaitan erat dengan buah hati, seperti upacara tedak siten.
Jika Sobat berasal dari Tanah Jawa, tentu istilah tersebut sangat familiar. Yakni tradisi yang dikenal dengan upacara turun tanah.
Umumnya, ini dilakukan anak-anak mereka yang baru bisa belajar dan menginjakkan kaki ke tanah.
Meski demikian, bagi umat Muslim sangat penting untuk mengetahui bagaimana hukum tentang upacara tersebut. Jangan sampai apa yang dilakukan di dalamnya justru bisa termasuk hal-hal yang melanggar syariat Islam.
Tedak siten biasanya digelar bertujuan untuk menunjukkan rasa syukur karena si kecil sudah sampai pada tahap belajar berjalan. Umumnya dilakukan pada saat buah hati menginjak usia 7 hingga 8 bulan dari hitungan pasaran jawa.
Di dalam upacara, ada rangkaian acara yang salah satunya adalah pembacaan doa. Yang membaca adalah orang tua dari si anak dengan harapan agar menjadi sukses dan mendapat rahmat hidup di kemudian hari.
Sedangkan mengenai hukumnya di dalam Islam, diperbolehkan. Selama di dalamnya tidak mengandung unsur-unsur syirik dan melanggar serta menyalahi syariat dari agama Islam.
Tedak Siten dalam Islam, Ketahui Beberapa Faktanya!
Nah, Sobat, setelah mengetahui apa itu tedak siten dan bagaimana hukumnya dalam Islam. Perlu kita ketahui pula beberapa fakta yang ada padanya. Seperti apa? Demikian ulasannya!
1. Sajian Serangkaian Makanan
Salah satu yang ada pada acara adat tedak siten adalah tuan rumah yang menyajikan serangkaian makanan tradisional untuk selamatan.
Mulai dari beberapa jajana yang terbuat dari bahan beras ketan yang kemudian dinberi warna-warni. Ada tumpeng dengan pelengkap berbagai macam sayuran dan masih banyak lagi.


Untuk mengikuti ajaran yang selaama ini disyiarkan oleh agama Islam. Maka sudah sepatutnya ini bisa dijadikan sebagai media bersilatur rahmi dengan kerabat, saudara, teman, dan tetangga.
Sediaan makanan yang ada bisa dinikmati bersama-sama agar sebagai sesame Muslim bisa terjalin kerukunan.
Allah SWT berfirman,
اَوْ اِطْعَامٌ فِيْ يَوْمٍ ذِيْ مَسْغَبَةٍۙ
atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan, (QS. Al-Balad Ayat 14)
2. Melakukan Setiap Prosesi dengan Menyelipkan Doa
Harapan hanyalah harapan semata jika tidak didorong dengan usaha dan doa. Oleh sebab itu, jika acara tedak siten ini dilakukan dengan harapan si kecil nantinya bisa sehat, bahagia dan penuh kerahmatan dalam menjalani hidup.
Maka ritual adat saja tidak cukup, harus ada doa yang terus dipanjatkan hingga tak putus-putus.
Pada saat melakukan prosesi adat, alangkah baiknya kita menyertakan doa dan bacaan Alquran. Agar kebaikan tidak hanya melimpahi anak namun juga seluruh orang yang hadir di acara tersebut.


Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang berbunyi:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ؛ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Artinya: “Seorang mukmin itu sungguh menakjubkan, karena setiap perkaranya itu baik. Namun tidak akan terjadi demikian kecuali pada seorang mu’min sejati. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya” [HR. Muslim no.7692].
Sobat, demikian penjelasan mengenai hukum tedak siten dalam Islam. Serta beberapa fakta yang ada di dalamnya dan perlu kita ketahui bagaimana cara menyikapinya.
Semoga informasi ini bisa menambah pengetahuan Sobat terkat nilai-nilai budaya yang bisa disempurnakan dengan ajaran agama. Aamiin.






























