Mampu Tapi Tidak Berqurban, Apakah Berdosa?

0
90
Mampu Tapi Tidak Berqurban

Mampu Tapi Tidak Berqurban – Selain shalat ‘Ied, penyembelihan hewan qurban adalah salah satu momen yang paling ditunggu-tunggu saat hari raya Idul Adha. Menurut jumhur ulama, berqurban hukumnya sunnah muakkadah. Artinya seseorang yang tidak melakukannya juga tidak berdosa. Tapi, para ulama mengingatkan kepada siapapun yang mampu namun tidak mau berqurban karena hal itu makruh.

Dalil Kewajiban Berqurban bagi yang Mampu

Sebagian ulama berpendapat bahwa wajib hukumnya untuk berqurban bagi yang mampu. Dalilnya adalah hadits Nabi di bawah ini:

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

“Barangsiapa punya kemampuan tapi tidak berqurban, jangan sekali-kali mendekat ke tempat shalat kami.” (1)

Imam Abu Hanifah memegang hadits ini sebagai dasar dalil wajibnya melakukan qurban bagi yang mampu. Oleh karena itu, dalam madzhab Hanafi, orang yang mampu secara ekonomi tapi tidak mau melakukan qurban, maka berdosa.

Namun, ini bukan satu-satunya pendapat ulama dalam kasus hukum qurban. Jadi, tidak perlu mempermasalahkan jika ada perbedaan pendapat tentang hukum berqurban bagi orang yang mampu. Kita cukup meyakininya sesuai hati Nurani masing-masing.

Berdosa-kah Orang yang Mampu Tapi Tidak Berqurban?

Mayoritas ulama memahami hadits di atas bukan sebagai kewajiban, namun hanya kesunnahan. Jadi, hukum melaksanakan qurban adalah sunnah. Asy-Sya’bi meriwayatkan dari Suraihah:

 رأيت أبا بكر وعمر ـ رضي الله عنهما ـ وما يضحيان كراهة أن يقتدى بهما

“Saya melihat Abu Bakar dan Umar tidak berqurban karena tidak ingin orang mengikutinya (menganggapnya wajib).” (2)

Begitu juga dengan Abu Mas’ud al-Anshori, beliau pernah berkata:

إني لأدع الأضحى وأنا موسر مخافة أن يرى جيراني أنه حتم علي.

“Sungguh saya pernah tidak berqurban padahal kondisi saya mampu.” (3)

Begitu juga Ibnu Umar yang mengatakan:

ليست بحتم ـ ولكن سنة ومعروف

“Berqurban bukanlah sebuah kewajiban, namun hanya sunnah yang ma’ruf.” (3)

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa pendapat yang lebih kuat dan tepat tentang hukum berqurban adalah sunnah muakkadah. Maka, orang yang mampu sebaiknya berqurban karena memiliki kelebihan harta untuk membeli hewan qurban. Meski tidak berdosa jika seseorang yang mampu tidak berqurban, namun hukumnya makruh. Artinya, sebisa mungkin orang yang mampu untuk melaksanakan qurban.

Selain melaksanakan ibadah sunnah, berqurban juga memberikan manfaat yang sangat besar bagi orang di sekeliling. Pasalnya, daging hewan qurban tidak boleh dinikmati sendiri semuanya sehingga harus dibagi-bagikan ke orang lain sebagiannya.


Referensi:

(1) Sunan Ibn Majah 3123

(2) Mukhtashor Ikhtilaf al-Ulama 3/221

(3) Ahkam al-Quran, al-Jasshos 5/85

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY