Malu Sebagian dari Iman – Orang yang punya sifat pemalu biasanya dianggap kurang bagus. Tapi di sisi lain, Islam justru mengajarkan bahwa malu adalah bagian dari Iman. Lalu, bagaimana sikap kita sebagai umat Islam? Apakah harus menjadi orang yang pemalu atau tidak? Dan malu seperti apa yang merupakan bagian dari pada Iman?
Hadits Tentang Malu Sebagian dari Iman
Dalam sebuah hadits dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah bersabda:
الْحَيَاءَ مِنَ الإِيمَانِ
“Malu adalah bagian dari Iman.” (1)
Hadits di atas sangat jelas menegaskan bahwa rasa malu bukanlah hal yang buruk, melainkan justru bagian dari Iman. Menurut ulama salaf, ibadah punya 72 pintu dan yang 71 pintu terdapat pada rasa malu kepada Sang Pencipta. Sedangkan 1 pintu lagi ada pada semua jenis amal baik.
Maksud Rasa Malu Bagian dari Iman
Sifat malu bisa menjadi baik, bisa juga kurang baik. Dalam hal ini, malu yang merupakan bagian dari keimanan ada 3 macam. Pertama adalah malu kepada diri sendiri. Maksudnya adalah merasa malu pada diri sendiri jika hanya bisa melakukan sedikit amal saleh. Sehingga rasa malu ini mendorong untuk berbuat amal saleh yang lebih banyak lagi.
Yang kedua adalah malu kepada sesama manusia. Rasa malu yang satu ini juga sangat penting agar kita bisa mengendalikan diri supata tidak melanggar ajaran agama. Namun, sifat malu yang ini berpotensi membuat pahala amal kita tidak sempurna karena amal saleh yang kita perbuat adalah karena malu terhadap orang lain, bukan karena Allah.
Yang ketiga adalah malu kepada Allah di mana rasa malu ini bisa membawa kebahagiaan dalam hidup. Jika kita punya rasa malu kepada Allah, kita tak akan berani berbuat maksiat dan meninggalkan kewajiban. Pasalnya, kita benar-benar yakin bahwa Allah tidak tidur serta maha melihat.
Harus Malu, Tapi Jangan Insecure
Sayangnya, definisi malu sudah bergeser seiring berkembangnya zaman. Di era yang serba online seperti saat ini, banyak orang merasa malu jika tidak mengunggah foto dengan pacar. Bahkan, orang-orang tidak malu memposting foto diri mereka sendiri yang memamerkan aurat di mana siapapun bisa melihatnya. Sebaliknya, umat Islam malah merasa malu jika menghabiskan hari-harinya dengan beribadah dan tidak bisa nongkrong layaknya orang lain.
Oleh karena itu, umat Islam harus bisa menerapkan rasa malunya pada kondisi yang sepantasnya. Kita harus malu saat kita tidak bisa memalksimalkan ibadah kita. Kita harus malu jika tidak bisa menjauhi perbuatan maksiat. Atau, kita juga harus malu saat kita tidak bisa seperti orang lain yang lebih ‘alim dan saleh.
Referensi:
(1) Sahih al-Bukhari 24



































