Mahar Pernikahan Ibnu Jamil, Simak Bagaimana Ketentuan Mahar dalam Pernikahan

0
73

Ibnu Jamil – Kabar gembira datang dari dunia hiburan tanah air Ibnu Jamil yang menikah dengan Ririn Ekawati pada Sabtu kemarin (30/1/21). Sebelumnya Ririn Ekawati menikah dengan Edwin Abeng. Namun, pernikahan mereka berujung pada perceraian. Setelah itu Ririn menikah dengan Ferry Wijaya dan kemudian Ferry meninggal.

Pernikahan dengan Ibnu Jamil adalah pernikahan yang ketiga bagi Ririn dan pernikahan kedua bagi Ibnu Jamil. Mulanya ia menikah dengan Ade Maya dan berujung pada perceraian. Beritanya sempat menghebohkan dunia hiburan sebab gugatan cerai antara keduanya yang berujung damai, talak, damai, dan kemudian berakhir cerai.

Baik Ririn Ekawati maupun Ibnu Jamil diketahui telah lama saling kenal. Sehingga tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menjalin pacaran dan melangsungkan lamaran pada November 2020 lalu dan menggelar pernikahan secara tertutup pada Sabtu kemarin. Pernikahan tersebut digelar di Hotel Ayana Midplaza, Jakarta.

Hal menghebohkan dari pernikahan Ibnu Jamil dan Ririn Ekawati adalah besarnya mahar yang diberikan Jamil kepada Ririn, yaitu logam mulia seberat 100 gram. Jika dirupiahkan maka nilainya hampir mencapai 100 juta. Selain menjadi aktor dan presenter, Jamil juga seorang yang berkecimpung di dunia bisnis.

Ibnu Jamil dan Mahar Pernikahan, Bagaimana Ketentuan Mahar dalam Islam?

Menurut sebagian ulama mahar dalam pernikahan merupakan syarat yang harus dipenuhi oleh calon suami kepada calon istri. Mahar juga menjadi sebab atas terjadinya akad nikah. Mahar yang diberikan oleh pengantin pria kepada pengantin wanita dapat diberikan secara tunai, ditunda, kontan, atau diangsungkan.

Lalu, apakah ada batasan minimal dan maksimal pemberian mahar atau maskawin? Ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. Ada yang menyatakan mahar memiliki batasan nominal barang yang diserahkan, dan sebaliknya. Namun, yang perlu digarisbawahi adalah mahar sebaiknya diberikan dalam bentuk benda yang bermanfaat dan dapat diperjualbelikan.

1.     Syarat Mahar

Mahar merupakan benda pemberian calon suami kepada calon istri yang bertujuan untuk menunjukkan kesungguhan pengantin pria untuk menikahi pengantin wanita. Dalam hal ini mahar dapat berupa harta benda yang dapat ditukarkan atau diperjualbelikan atau berupa jasa seperti mengajari istri membaca Al-Quran.

Benda yang dijadikan mahar haruslah sesuatu yang bermanfaat. Bukan benda yang dicuri. Bukan benda yang masih dalam proses pelunasan hutang. Sehingga sebagian ulama berpendapat bahwa tidak ada batas minimal pemberian mahar. Besarnya mahal ditentukan kedua pasangan yang saling ridho dengan melihat kondisi pasangan.

2.     Aturan Nilai Mahar

Ulama berbeda pendapat tentang batasan nilai mahar. Menurut madzhab syafi’i tidak ada batas minimal dan maksimal nilai mahar dalam pernikahan. Menurut madzhab Imam Malik jumlah minimal mahar adalah seperempat dinar emas atau tiga dirham perak. Menurut madzhab Imam Abu Hanifah jumlah minimal mahar adalah sepuluh dirham atau lima dirham atau empat puluh dirham.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran:

“Dan berikanlah maskawin (mahar) kepada perempuan (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan. Kemudian, jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari (maskawin) itu dengan senang hati, maka terimalah dan nikmatilah pemberian itu dengan senang hati.” (QS. An-Nisa’ Ayat 4)

Sobat Cahaya Islam, mahar dari Ibnu Jamil yang diberikan kepada sang istri merupakan pemberian yang menjadikan terlaksananya akad nikah. Tidak ada batas maksimal pemberian mahar dari pengantin pria kepada pengantin wanita.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY